SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pembahasan krisis iklim dan lingkungan tidak lagi menjadi topik yang baru. Perubahan iklim global telah berdampak pada kehidupan manusia di bumi ini, termasuk kepada para perempuan.
Melansir bbc.com, suhu bumi pada 2023 silam tercatat 1,48 derajat Celsius lebih hangat dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan di Indonesia sendiri suhu rata-rata selama 2023 mencapai angka 27,2 derajat Celsius. Pemanasan global ini mengakibatkan gelombang panas hebat dan kebakaran hutan di Kanada serta Amerika Serikat (AS). Tak hanya itu, krisis iklim turut menyebabkan banjir di beberapa bagian Afrika Timur.
Baca juga: Sebentar Lagi Hari Kasih Sayang, Ini Tipe-Tipe Cinta Menurut Ahli
Wiyatmi dkk. dalam bukunya yang berjudul “Ekofeminisme: Kritik Sastra Berwawasan Ekologis dan Feminis” berargumen bahwa perempuan lebih merasakan dampak krisis lingkungan hidup. Hal tersebut dikarenakan umumnya perempuan yang bertugas dan berperan besar dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga sehingga urusan ketahanan pangan keluarga pun menjadi urusan perempuan.
“Dalam keluarga, perempuanlah yang bertanggung jawab mengolah dan menyajikan makanan. Pencemaran air dan udara, tentu akan sangat mengganggu kaum perempuan untuk menjalankan tugas-tugas domestiknya tersebut,” tulis Wiyatmi dkk. dalam buku tersebut.
Perempuan di pedalaman Indonesia memiliki keterikatan erat dengan alam guna menunjang kehidupan keluarga. Mereka bergantung pada alam untuk memenuhi keperluan sehari-hari, seperti dengan mengolah kebun sendiri, menanam berbagai jenis tanaman, dan memanfaatkan mata air.
Melansir dw.com, anak-anak perempuan di Etiopia dan Sudan Selatan dijual untuk dinikahkan dengan imbalan hewan ternak saat musim panas ekstrem terjadi. Juliane Schmuker, Direktur Regional Asia Plan International mengatakan kasus pernikahan anak dan pernikahan paksa meningkat dalam situasi krisis.
“Ini hanyalah strategi bertahan hidup, menyingkirkan seorang anak perempuan guna mengurangi tekanan (ekonomi) keluarga, atau itu satu-satunya cara untuk menghasilkan pemasukan,” ujar Juliane kepada DW.
Tidak hanya itu, perempuan juga ditugaskan untuk mengambil air. Sayangnya, kekeringan yang kian sering terjadi membuat permukaan gurun di belahan bumi bagian selatan bertambah luas sehingga sumber air dan sumur pun mengering. Hal ini membuat para perempuan harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air. Terlebih adanya risiko serangan seksual sepanjang perjalanan tersebut.
Eksploitasi seksual juga terjadi pada perempuan di Afrika yang harus membayar sekaligus memberikan seks ketika membeli ikan. Praktik ini sudah sangat umum terjadi sehingga disebut sebagai sistem Jaboya.
Di Bangladesh, perempuan dapat meninggal akibat banjir karena tidak bisa pergi berlindung di tempat-tempat penampungan darurat. Hal ini terjadi karena tradisi setempat yang menggaungkan bahwa perempuan tidak pantas berdiri berhadapan dengan pria atau menggunakan toilet yang sama.
Berbagai permasalahan tersebut memicu munculnya kajian ekofeminisme yang fokus pada keterkaitan alam dan lingkungan hidup dengan posisi serta keberadaan kaum perempuan. Hanya saja, istilah kajian ini masih terasa asing bagi sebagian orang.
ULTIMAGZ melakukan wawancara singkat kepada mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) mengenai ekofeminisme. Princess Jessica dari Jurnalistik 2022 mengaku tidak tahu apa itu ekofeminisme.
“Aku cuma tahu feminismenya saja,” kata Princess saat diwawancarai ULTIMAGZ pada Selasa (16/04/24).
Sama halnya dengan Ancilla Setiawan, mahasiswi Desain Komunikasi Visual (DKV) 2023 UMN yang belum pernah mendengar istilah ekofeminisme ini.
“Saya enggak tahu, enggak pernah dengar,” ucap Cilla kepada ULTIMAGZ pada Rabu (17/04/24).
Istilah ekofeminisme ini bahkan dianggap berkaitan dengan gerakan ekonomi oleh Peter Jonathan, mahasiswa Jurnalistik 2023 UMN.
“Kayaknya yang berhubungan dengan ekonomi gitu, ya?” ujar Peter pada Kamis (18/04/24).
Sejarah Ekofeminisme
Melansir britannica.com, gerakan ekofeminis lahir dari berbagai konferensi yang diadakan di AS oleh koalisi perempuan akademisi dan profesional pada akhir 1970-an dan awal 1980-an.
Mereka membahas bagaimana manusia dan alam saling terkait satu dengan lainnya, sehingga perbedaan pandangan terhadap perempuan dan laki-laki mampu memengaruhi alam tersebut.

Perempuan dan alam sering digambarkan sebagai sosok yang kacau, tidak rasional, dan membutuhkan kontrol, sementara laki-laki sering digambarkan sebagai sosok yang rasional, teratur. Dengan demikian, laki-laki dianggap mampu mengarahkan pemanfaatan dan pengembangan perempuan dan alam.
Pandangan ini menghasilkan struktur hierarki yang memberi laki-laki kekuasaan dan memungkinkan terjadinya eksploitasi terhadap perempuan dan alam.
Ekofeminisme diperkenalkan secara luas pertama kali oleh Francoide d’Eaubonne dalam bukunya “Le feminisme ou la Mort” (“Feminisme atau Kematian”) di Perancis pada1974. Lalu pada 1980-an, para aktivis perempuan dari berbagai negara mulai serentak memopulerkan pandangan ini.
Beberapa diantaranya seperti Karen J. Warren lewat “Feminism and Ecology: Making Connection” yang terbit melalui Environmental Review 9 No 1 tahun 1987. Selain itu ada pula ahli teori feminis Ynestra King dalam artikel “Apa Itu Ekofeminisme?” yang muncul pada tahun yang sama di The Nation.
Tulisan-tulisan ini menantang masyarakat untuk berpikir secara kritis bagaimana sistem kepercayaan mereka memungkinkan terjadinya eksploitasi bumi dan penindasan lebih lanjut terhadap perempuan.
Namun, pada akhir 1990-an, ekofeminisme mulai mendapat kecaman dari para kritikus karena dianggap tidak dapat sepenuhnya mengatasi permasalahan feminis atau lingkungan hidup. Janet Biehl, seorang ahli ekologi sosial Amerika, mengkritik kerangka ekofeminis sebagai penyederhanaan yang berlebihan terhadap struktur hierarki yang kompleks.
Ekofeminisme sebagai salah satu aliran feminisme berusaha menunjukkan hubungan antara semua bentuk penindasan manusia, terkhususnya perempuan dan alam.
Peran Penting Perempuan untuk Lingkungan
Tong (2006 dalam Wiyatmi dkk., 2019, p. 20) menjelaskan pandangan ekofeminisme yang memahami hubungan bukan hanya antara manusia dengan manusia lainnya, tetapi juga berhubungan dengan makhluk lain, yakni hewan dan tumbuhan.
Dilansir dari earth.org, salah satu bukti nyata pengaruh perempuan terhadap lingkungan dibuktikan oleh sebuah studi di Himalaya Barat pada 2015. Hasil studi tersebut menunjukkan perempuan cenderung bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya alam penting, termasuk hutan, lahan basah, satwa liar, dan ladang pertanian untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga mereka.
Namun, ketertarikan perempuan terhadap lingkungan secara segi profesional cenderung dinilai kurang berkontribusi dan terapresiasi. Perempuan dianggap masih kurang layak untuk terlibat lebih dalam di dunia pelestarian lingkungan.
Hal ini terbukti dengan persentase perempuan yang bekerja di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan berkisar 38,7 persen di seluruh dunia, dengan hanya 13,8 persen diantaranya merupakan pemilik lahan.
Padahal, berdasarkan perhitungan yang dilakukan, jika petani perempuan memiliki hak ekonomi dan hukum yang sama dengan laki-laki, hasil panen global dapat meningkat hingga 30 persen dan menyelamatkan hingga 150 juta manusia dari kelaparan.
Bukti lainnya tercantum pada hasil penelitian di Amerika pada 1988 hingga 1998 yang menyimpulkan bahwa perempuan memiliki sikap dan perilaku lebih kuat terhadap lingkungan dibandingkan laki-laki.
Penelitian ini dikaji lebih lanjut oleh Boucher et al dalam Energy Research and Social Science 2021 yang menganalisis demografi aktivis lingkungan dengan mensurvei 367 responden di 66 negara. Hasilnya, aktivis perubahan iklim di dunia cenderung didominasi oleh perempuan.
Data dan bukti yang tertera memperlihatkan bagaimana perempuan dapat berperan penting terhadap lingkungan, tetapi dibatasi oleh hierarki. Terlebih dengan kurangnya kesetaraan pendidikan dan kesempatan yang sama layaknya laki-laki.
Baca juga: Oversharing: Berbagi Cerita tetapi Mengundang Bahaya
Pencemaran lingkungan yang dilakukan manusia membuat alam melakukan perlawanan. Setiap hari manusia pun termiskinkan sejalan dengan penebangan pohon di hutan dan kepunahan binatang spesies demi spesies.
Sebagai tindakan preventif, ekofeminisme menganjurkan manusia untuk memperkuat hubungan satu dengan yang lain termasuk dengan makhluk hidup lainnya.
Penulis: Giofanny Sasmita dan Kezia Laurencia
Editor: Jessie Valencia
Foto: ULTIMAGZ/Muhammad Daffa Abyan, Sofhi Srieky Tiambun
Sumber: bbc.com, dw.com, britannica.com, earth.org, Wiyatmi, Suryaman, M., & Swatikasari, E. (2019). Ekofeminisme: Kritik Sastra berwawasan ekologis dan Feminis. Cantrik., Tri Marhaeni Pudji Astuti. (2012). Ekofeminisme dan Peran Perempuan Dalam Lingkungan. Semarang: journal.unnes.ac.id