Sabun Pembersih Daerah Kewanitaan Bahaya atau Tidak?

sabun kewanitaan (ultimagz)
Ilustrasi Penggunaan Sabun Kewanitaan (ULTIMAGZ/Elisha Widirga)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sabun pembersih daerah kewanitaan dapat memberi rasa segar serta menghilangkan aroma tak sedap pada organ kewanitaan. Namun, memakai sabun kewanitaan secara berlebihan ternyata dapat memberikan efek negatif untuk vagina.

Mengapa Memakai Sabun Kewanitaan?

Keputihan menjadi faktor pendorong wanita untuk memakai sabun kewanitaan. Penyebab keputihan sendiri adalah berkembangnya bakteri atau jamur pada vagina. Akibatnya, keputihan menimbulkan rasa gatal, perih, dan mengeluarkan bau tidak sedap. Jika tidak ditangani dengan benar, keputihan dapat menimbulkan infeksi yang berbahaya bagi organ kewanitaan. Cara paling mudah mengatasi keputihan adalah mencuci bagian kewanitaan.

Dilansir dari hellosehat.com, keputihan sebenarnya fase alami dan normal untuk dialami setiap wanita. Keputihan juga menujukkan bahwa organ kewanitaan berfungsi dengan baik. Vagina mempunyai perlindungan sendiri dengan adanya bakteri baik, yaitu lactobacillus dan corynebacterium. Kedua bakteri ini berfungsi untuk mengurangi bakteri lain masuk ke vagina.

Efek Samping Memakai Sabun Pembersih Kewanitaan

  1. Infeksi Vagina

Vagina yang sehat mempunyai tingkat pH 3,5 sampai 4,5, dikutip dari halodoc.com. Bakteri baik dalam vagina mampu hidup di lingkungan pH asam. Menggunakan sabun daerah kewanitaan dapat mengacaukan pH vagina dengan kandungan berbagai bahan kimia. Jika pH naik, bakteri baik ini bisa mati. Bakteri dan ragi jahat dapat tumbuh secara berlebih hingga menyebabkan infeksi.

Menurut Camerato (2017) dalam “The Effects of Feminine Hygiene and Beauty Products on Vaginal Health”, infeksi vagina paling umum meliputi bacterial vaginosis (BV), vulvovaginal candidiasis (VVC), infeksi Trichomoniasis vaginalis, infeksi saluran kemih, dan cytolytic vaginosis. Infeksi vagina yang sering dapat menyebabkan lebih banyak kondisi yang lebih serius bahkan komplikasi.

  1. Penyakit Radang Panggul

Radang panggul adalah infeksi pada rahim, saluran tuba, dan ovarium. Berawal dari infeksi vagina yang tidak ditangani dengan tepat, bakteri lalu menyebar ke organ lain di dekat vagina. Gejala radang panggul antara lain nyeri di perut bagian bawah, keputihan tidak normal, sakit saat buang air kecil, dan pendarahan setelah berhubungan intim. Fatalnya, penyakit ini bisa menyebabkan wanita sulit untuk hamil

  1. Penyakit kelamin

Penyakit kelamin biasa ditularkan melalui hubungan seksual. Terlebih lagi jika melakukan hubungan seksual yang tidak aman. Fungsi dari bakteri baik dalam organ intim wanita adalah untuk mencegah bakteri jahat, jamur, atau virus untuk masuk ke vagina. Memakai sabun pembersih kewanitaan dapat membunuh bakteri baik ini. Namun, bukan berarti setelah berhubungan seksual tidak membersihkan organ intim.

Basuh dengan air hangat agar bakteri yang menempel bisa hilang. Air juga harus bersih dan mengalir. Usap dari arah dengan ke belakang, bukan sebaliknya. Teknik ini penting diingat dan dilakukan agar bakteri yang ada di anus tidak masuk dan menginfeksi organ kewanitaan.

  1. Vagina kering

Area vagina biasanya lembab. Penggunaan sabun pembersih kewanitaan yang mengandung berbagai bahan kimia dapat mengubah kelembaban vagina. Akibatnya timbul rasa gatal dan tidak nyaman. Jika digaruk dan menimbulkan luka, potensi untuk infeksi pun semakin besar.

Alternatif Penggunaan Sabun Pembersih Kewanitaan

Dikutip dari tirto.id, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin dr. Retno Indrastiti, Sp.KK tidak menyarankan wanita untuk menggunakan sabun pembersih kewanitaan. Membersihkan vagina cukup menggunakan air bersih saja. “Sabun itu sebenarnya tidak perlu, karena pH vagina itu kan 4,5. Nah kalau sabun itu kan pH-nya basa, di atas 7. Kalau menggunakan sabun, justru akan mengacaukan pH. Akibatnya justru akan banyak jamur dan menyebabkan keputihan,” sambungnya.

Dalam penelitian “Effects of Feminine Hygiene Products on the Vaginal Mucosal Biome” yang dilakukan oleh Fashemi, Delaney, Onderdonk, dan Fichorova (2013) menyatakan bahwa perubahan pH oleh produk dan praktik tersebut dapat memengaruhi komposisi mikrobiologis vagina sehingga penting untuk menjaga lingkungan vagina dari infeksi bakteri atau patogen lain untuk masuk. Penelitian ini membuktikan kandungan dalam produk pembersih kewanitaan bisa jadi berbahaya untuk bakteri vagina.

Pun jika ingin menggunakan sabun, ada beberapa syarat yang disampaikan oleh Konsultan Ginekologi dan Obstetri di Inggris, dr. Sangeeta Agnihotri. Mengutip dari hellosehat.com, sabun harus tanpa parfum, tanpa pewarna, tanpa pengawet, dan tanpa bahan kimia yang terlalu keras.

Meskipun ada berbagai merk sabun pembersih daerah kewanitaan yang beredar di pasaran, Ultimates harus hati-hati memilih. Ultimates juga sebaiknya konsultasi dengan dokter kelamin sebelum memutuskan memakai sabun pembersih daerah kewanitaan. Bijaklah memilih produk kesehatan. Lebih baik mencegah dari pada mengobati.

 

Penulis: Jessica Elisabeth

Editor: Andi Annisa Ivana Putri

Foto: Elisha Widirga

Sumber: hellosehat.com, halodoc.com, kompas.com, wolipop.com, tirto.id, oaks.kent.edu, tandfonline.com