Gaslighting dan Bahayanya dalam Hubungan

Gambaran gaslighting, hubungan tidak sehat (Foto : lifestyle.okezone.com)
Gambaran hubungan tidak sehat (Foto : lifestyle.okezone.com)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.comGaslighting adalah sebuah tindakan memanipulasi seseorang secara psikologi dengan memaksa mereka mempertanyakan pikiran, ingatan, dan peristiwa yang pernah terjadi. Tindakan ini termasuk ke dalam kekerasan mental dan dapat menyebabkan korban mempertanyakan kewarasan diri serta merusak kepercayaan diri.

Aksi gaslighting ini biasa dilakukan agar sang pelaku dapat mendominasi sebuah hubungan, hal ini dilakukan untuk menutupi perbuatan buruk mereka, misalnya perselingkuhan. Pelaku melakukan segala cara agar membuat mereka terlihat tidak bersalah dengan cara berbohong, menyudutkan korban, dan mencari alasan.

Melansir dari Psychology Today dan Kompas.com, berikut merupakan beberapa tanda gaslighting yang dapat Ultimates pelajari agar tidak menjadi korban para pelaku gaslighter.

1). Sering menyatakan kebohongan

Para pelaku seringkali berbohong dengan berbagai alasan. Pertama mereka akan melakukan kebohongan kecil dan terus menutupinya dengan kebohongan-kebohongan yang lebih besar.

Bahkan ketika mereka tertangkap basah melakukan kebohongan, mereka akan terus menyangkal, menolak, dan bahkan menyalahkan korban. Akhirnya korban pun mempertanyakan kembali ingatannya dan mempercayai sang pelaku.

2). Menggunakan sesuatu yang berharga bagi korban sebagai serangan

Gaslighter biasanya melakukan manipulasi dengan menggunakan orang-orang penting dalam hidup korban, membuat sang korban percaya, dan yakin bahwa sang pelaku adalah satu-satunya orang yang dapat dipercaya.

Misalnya, dengan berkata “Semua keluargamu membicarakanmu, mereka pikir kamu sangat menderita karena memilih aku.”

3). Selalu mengingat kesalahan korban

Pelaku mengingat kesalahan yang pernah dilakukan korban kemudian menggunakannya dalam argumen agar pelaku terlihat tidak bersalah.

Mereka mengawalinya dengan kebohongan, komentar sinis, dan membuat korban merasa bahwa diri mereka sendiri lah yang menjadi sumber masalah.

4). Perilaku dan ucapan tidak sesuai

Ucapan pelaku biasanya sangat manis dan menjanjikan, tetapi seringkali tidak dijalankan. Mereka membiarkan korban mendengarkan apa yang ingin korban dengar kemudian tidak melaksanakannya dan bertendak semena-mena.

5). Memutar balikkan fakta

Dikenal sebagai “proyeksi” dalam terapi-berbicara, pelaku gaslighting sering menuduh korban melakukan hal buruk yang sebenarnya mereka lakukan sendiri. Misalnya, pelaku berselingkuh, tetapi menuduh korban yang melakukan perselingkuhan.

Ketika pelaku menuduh korban, korban akan sibuk membela diri dan melupakan bahwa pelaku yang melakukan hal tersebut.

6). Ketika korban mulai lepas, pelaku memuji korban

Ketika korban sudah mulai sadar dan ingin melepaskan diri dari hubungan tersebut, pelaku gaslighter akan memuji dan membanggakan korban. Dengan begitu, korban yang sudah terikat dalam hubungan tersebut akan berpikir bahwa sebenarnya pelaku tidak terlalu buruk dan melupakan kesalahan mereka.

7). Mempertanyakan kewarasan korban

Para pelaku akan mempertanyakan realitas dan kewarasan korban, apakah korban sedang berhalusinasi, paranoid, atau memang kenyataan. Hal ini akan sukses membuat korban merasa ada yang tidak benar dalam diri mereka dan akan kehilangan kepercayaan dirinya.

Setelah mengetahui tanda-tanda tersebut, tentu saja akan sulit bagi korban mengakui kenyataan bahwa dirinya sedang dipermainkan oleh pasangannya sendiri. Maka dari itu, langkah pertama yang harus dilakukan korban adalah dengan menyadari bahwa dirinya berharga dan menerima bahwa hubungannya tidak sehat.

Dengan melakukan penerimaan tentu saja korban akan lebih mudah menerima masukan dari orang lain dan menyelesaikan masalah. Korban juga dapat berkunjung ke psikolog, psikiater, atau orang-orang terdekat. Terakhir, tinggalkan hubungan dengan sang pelaku agar tidak terus-menerus terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

 

Penulis: Keisya Librani Chandra

Editor: Xena Olivia

Foto: lifestyle.okezone.com

Sumber : psychologytoday.com, kompas.com, tirto.id