Istilah “Gaslighting”: Bukan Bahasa Gaul

Ilustrasi Gaslighting (Foto: stylist.co.uk)
Share:

“Kamu saja terlalu sensitif!”

“Kenapa, sih, kamu selalu membesar-besarkan masalah?”

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Berargumen merupakan hal yang normal. Namun, tidaklah jarang seseorang menggunakan pernyataan di atas untuk mengecilkan pihak lain. Ternyata Ultimates, ucapan tersebut bisa menjadi salah satu bentuk dari perilaku gaslighting.

Akhir-akhir ini istilah gaslighting semakin marak digunakan, terutama di media sosial. Tak jarang warganet menggunakan istilah gaslighting untuk mendeskripsikan kejadian atau pengalaman buruk mereka. Baik dalam hubungan maupun lingkup politik, penggunaan kata ini cukup sering digunakan, sampai-sampai disebut sebagai bahasa gaul.

Namun, istilah ini ternyata tidak bisa asal dilemparkan. Fenomena gaslighting sebenarnya jauh lebih kompleks dan berbahaya dari yang dipikirkan.

Sebelum Ultimates menggunakan istilah ini, mari kita identifikasi dan pahami dahulu apa sebenernya yang dimaksud dari gaslighting.

Apa itu gaslighting?

Gaslighting adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menggambarkan upaya seseorang untuk mendapatkan kendali dalam suatu hubungan dengan merusak konsep realitas orang lain.

Organisasi media Psychology Today mendefinisikan gaslighting sebagai bentuk manipulasi dan kontrol yang berbahaya, di mana para korban dibombardir dengan informasi palsu yang membuat mereka mempertanyakan apa yang mereka ketahui, bahkan tentang diri mereka sendiri.

Sering kali, tindakan manipulasi ini membuat korban mempertanyakan pikiran, perasaan, ingatan, hingga kewarasan dirinya.

Baca juga: Gaslighting dan Bahayanya dalam Hubungan

Menurut seorang asosiasi direktur dari Yale Center for Emotional Intelligence, Robin Stern, gaslighting cenderung ada di hubungan dengan power dynamic atau dinamika kekuatan yang kentara. Si manipulator memiliki kekuatan yang cukup besar sehingga target takut untuk mengubah atau keluar dari hubungan tersebut.

“Jika dibiarkan, korban gaslighting dapat berakhir dalam siklus yang berbahaya dan memikul trauma jangka panjang,” tulis Stern dalam bukunya, “The Gaslight Effect”.

Cara identifikasi gaslighting

Setelah memahami definisi dari gaslighting, mari kita cermati cara mengidentifikasinya. Menurut fact sheet National Domestic Violence Hotline, seorang pelaku gaslighting, atau disebut juga gaslighter, akan menggunakan sejumlah teknik untuk memanipulasi target atau korbannya. Berikut jenis-jenisnya.

  1. Withholding

Teknik ini digunakan seorang gaslighter ketika akan menolak untuk mendengar dan bersikeras untuk tidak mengerti perasaan atau posisi targetnya. Seorang gaslighter akan menekankan persepsinya terhadap suatu kejadian atau realitas hingga target pun mengikuti, salah satunya dengan tidak memvalidasi sudut pandang atau perasaan target.

  1. Countering

Countering adalah ketika seorang gaslighter mempertanyakan memori target atas kejadian tertentu. Biasanya, teknik ini disertai oleh kebohongan untuk mengkontradiksi memori si target. Sering kali, target akan merasa frustasi hingga akhirnya mempertanyakan memori dia sendiri.

  1. Blocking/diverting

Teknik ini digunakan ketika gaslighter mengubah topik atau mempertanyakan cara target berpikir. Bentuk dari teknik ini biasanya digunakan untuk membuat target merasa bersalah, keliru, dan terlalu berlebihan, salah satunya bisa dilakukan dengan mengecilkan perasaan target.

  1. Trivializing

Trivializing adalah teknik gaslighter untuk membuat perasaan atau kebutuhan target seolah-olah tidak penting. Seorang gaslighter akan memegang dominasi dari suatu hubungan di mana korban akan merasa disepelekan, dan salah satu caranya adalah dengan meremehkan posisi korban.

  1. Forgetting/denial

Hal ini terjadi ketika seorang gaslighter sengaja atau pura-pura lupa atas kejadian atau perjanjian tertentu. Bentuk kebohongan dan manipulasi ini sudah diperhintungkan untuk membuat target frustasi dan mempertanyakan kejadian sebelumnya.

Menurut Stern, seseorang yang terjebak dalam siklus gaslighting akan cenderung mempertanyakan dirinya sendiri, kebiasaan merenungkan kelemahan karakternya, selalu menyalah dirinya dalam konflik, dan sering kali membuat alasan untuk perilaku gaslighter. Dalam kasus ekstrem, korban juga dapat sepenuhnya melepaskan konsep realitasnya.

Penyalahgunaan kata gaslighting

Istilah gaslighting acap kali lewat pada beranda media sosial ataupun digunakan dalam argumen interpersonal. Keakraban terhadap istilah tersebut tentu memberikan dampak yang positif, terutama dalam memberikan sorotan terhadap isu manipulasi. Namun, jika digunakan secara berlebihan, hal ini justru dapat berdampak sebaliknya.

Menurut seorang psikolog dan penulis buku terlaris “In Sheep’s Clothing: Understanding and Dealing with Manipulative People”, George Simon, istilah gaslighting digunakan secara berlebihan. Menurut Simon, penggunaan berlebihan ini dapat menyebabkan istilah tersebut kehilangan maknanya.

Untuk korban gaslighting, bentuk manipulasi tersebut dapat menyebabkan efek yang fatal, salah satunya adalah trauma psikologis. Namun, jika istilah gaslighting dilemparkan ke dalam skenario yang tidak sesuai, hasilnya malah tidak akan membantu korban. Bahkan, dapat meremehkan rasa sakit mereka.

Baca juga: Budaya Victim Blaming: Ketika Perilaku Korban Terdengar Salah

Menurut kolumnis Times, Barbara Ellen, gaslighting adalah bentuk spesifik dari manipulasi dan kekerasan terstruktur.  Ini bukan istilah umum yang dapat digunakan untuk semua perilaku buruk atau tidak menyenangkan. Ellen menambahkan, tidak semua orang yang berbohong dan membuat alasan dapat dinyatakan melakukan gaslighting

Nyatanya, gaslighting adalah tindakan kekerasan psikologis yang dimotivasi oleh niat sadar untuk menyakiti mental seseorang. Naturnya yang kompleks dan terencana membuat perilaku ini biasa dikaitkan dengan sosiopat dan narsisis. Maka dari itu, perlu diingat bahwa istilah gaslighting tidak dapat asal digunakan, apa lagi diremehkan.

Agar tidak keliru, Ultimates wajib memahami dan mengidentifikasi tandanya sebelum menggunakan istilah tersebut. Jadi, mari gunakan istilah tersebut dengan lebih hati-hati agar tidak mengurangi makna dan pengalaman para penyintas.

 

Penulis: Arienne Clerissa

Editor: Maria Helen Oktavia

Foto: stylist.co.uk

Sumber: psychologytoday.com, thehotline.org, nbcnews.com, kompas.com, healthline.com