Opini: Mewaspadai “Efek Dunning Krugger” atau Tumpulnya Kemampuan Introspeksi

Tidak jarang, orang-orang menilai dirinya berlebihan dari kenyataan yang ada. (Ilutsrasi: cat.toddkassal.us)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Dalam berbagai permainan daring seperti Dota 2, banyak pemain berlomba-lomba melakukan push rank, yaitu meningkatkan level pemain dengan memenangkan permainan secara berturut-turut. Setidaknya, pemain perlu mendalami permainan secara ‘serius’ untuk lanjut ke level yang lebih tinggi.

Menariknya, tidak jarang ada pemain yang tidak bisa menaikkan levelnya dan menyatakan alasan klasik, “Ini semua salah tim saya yang bodoh. Sebenarnya level saya berada di atas!” Tidak berhenti sampai situ, pemain tersebut membeli akun Dota 2 yang telah mempunyai profil level kesulitan tinggi. Alih-alih memperbaiki posisi rank-nya, di akun itu juga, pemain tersebut justru kalah berturut-turut dan kembali turun menuju level kesulitan rendah seperti sebelumnya.

Sederhanannya, pemain tersebut tidak menyadari bahwa level permainannya sebenarnya terlalu rendah untuk bermain di level yang tinggi. Bukannya mencoba mengintrospeksi diri, pemain tersebut malah menghabiskan uang dengan membeli akun di level yang tidak bisa ia ikuti level permainnya. Kejadian seperti ini kerap disebut dengan istilah “Efek Dunning Krugger”.

 

Efek Dunning Krugger

Dalam kehidupan nyata, orang-orang yang mempunyai watak serupa dengan pemain di atas tidak jarang ditemui. Bukan dalam hal membeli akun permainan, tetapi menjadi inkompeten tanpa menyadari inkompetensi itu sendiri.

Fenomena ini dinamakan “Efek Dunning Krugger”. Efek Dunning Krugger adalah fenomena yang ditemukan oleh David Dunning dan Justin Kruger, peneliti psikologi di Cornell University berbasis penelitian pada 1999. Efek Dunning Krugger menjelaskan bahwa semakin “bodoh” seseorang, maka semakin yakin orang tersebut kalau dia tidak “bodoh”.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hampir semua orang cenderung melebih-lebihkan penilaian atas kemampuan dirinya sendiri. Orang-orang yang tidak mengetahui keahlian kognitif, teknis, atau sosialnya justru cenderung melebih-lebihkan kecakapan dan kinerjanya, seperti tata bahasa, kecerdasan emosional, atau pemikiran logis.

“Mereka bukan hanya salah dalam menyimpulkan dan membuat pilihan; inkompetensi juga merampas kemampuan mereka menyadari kesalahan tersebut,” tulis penelitian Dunning dan Kruger.

Tom Nichols, penulis sekaligus profesor dari Harvard Extension School, menuliskan bahwa ada penyebab utama orang tak kompeten bisa menilai kemampuannya jauh lebih baik daripada kenyataan, yaitu tidak memiliki keahlian yang disebut “metakognisi”.

Menurut Tom, metakognisi adalah kemampuan untuk menyadari keasalahan dengan mengambil jarak, melihat apa yang sedang dilakukan, lalu menyadari bahwa salah melakukannya atau bisa disebut dengan “kemampuan introspeksi”.

 

Alasan Efek Dunning Krugger Berbahaya

Sesungguhnya, Efek Dunning Krugger bisa dianggap sebagai sesuatu yang bahaya. Ketumpulan untuk berintrospeksi mempunyai yang pengaruh luas. 

Warganet media sosial yang kerap memaki, bahkan mengancam akan membunuh, biasanya berpikir bahwa tindakannya benar karena orang yang mereka hujat adalah orang yang mereka anggap jahat. Dalam hal lain, pelaku kekerasan abusif dalam hubungan antar pacar atau suami-istri tidak menyadari bahwa hubungan mereka sudah rusak. ‘Stres’, ‘masih sayang’, ‘nanti dia berubah’, dan alasan-alasan lainnya kerap membuat mereka bertahan.

Parahnya, hal yang sama juga terlihat pada pelaku kejahatan kriminal. Psikolog Albert Bandura berteori bahwa orang yang melakukan kejahatan telah membenarkan moralitas tindakan mereka untuk diri mereka sendiri dalam beberapa cara. Dengan meyakinkan diri bahwa perilaku mereka sendiri bermoral, orang-orang dapat memisahkan dan melepaskan diri dari perilaku tidak bermoral dan konsekuensinya.

Selain itu, kurangnya kemampuan introspeksi menyebabkan fenomena anti-intelektual atau penentangan terhadap ilmu pengetahuan, bahkan dari para pakar sekalipun. Hal ini dikarenakan kekurangan metakognisi yang dibantu dengan narsisme yang kental, seperti misalnya beranggapan bahwa mereka jauh lebih pintar dari para pakar.

Itulah sebabnya, terdapat pasien yang menasihati dokter tentang obat yang harus mereka konsumsi, mahasiswa yang menuntut dosen untuk memberikan nilai bagus, atau parahnya, hasil penelitian lembaga pun ditolak mentah-mentah tanpa bukti apa pun.

 

Yang Bisa Dilakukan

Dunning dan Kruger memiliki penjesalan umum mengenai Efek Dunning Krugger. Menurut mereka, pada dasarnya, orang tidak senang melukai perasaan orang lain. Meski begitu, kemampuan untuk menjelaskan kesalahan seseorang sangat penting untuk dilakukan. 

Self-awareness atau kesadaran diri sendiri merupakan kuncinya. “Berpikir dahulu sebelum bertindak”, “Apakah nasihat saya akan menimbulkan efek positif?”, “Apakah tepat bila saya memukul pacar saya karena stres?”, “Apakah tepat bila saya menasihati dosen saya sendiri mengenai mata kuliah ini?”, merupakan beberapa hal yang bisa ditanyakan pada diri sendiri.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Ilutsrasi: cat.toddkassal.us