Opini: Kematian Paus di Wakatobi dan Pola Konsumsi Plastik Kita

Sampah plastik yang mencemari lautan. (Foto: Utas.edu.au)
Share:

“Just because plastic is disposable doesn’t mean it just goes away. After all, where is ‘away’?”

– Jeb Berrier, Bag It

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pada bulan Mei 2017 lalu, seniman Biboy Royong bekerja sama dengan Greenpeace membuat instalasi seni bertajuk Dead Whale di Pantai Naic, Cavite, Filipina. Karya seni tersebut menggambarkan seekor paus sperma yang mati terdampar dengan perut dipenuhi berbagai jenis sampah plastik. Senin (19/11/18) silam, hal itu nyata terjadi di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Kematian seekor paus sperma yang ditemukan terdampar di perairan Pulau Kapota dengan 5,9 kg sampah plastik di perutnya jelas menjadi bukti betapa tercemarnya laut oleh sampah plastik. Sebuah tamparan keras mengenai pola konsumsi plastik sekali pakai masyarakat Indonesia.

Masyarakat Indonesia hingga saat ini masih sangat bergantung pada plastik sekali pakai. Walau berbagai kampanye digaungkan, namun kebiasaan lama ini sulit hilang. Saat kebijakan kantong plastik berbayar diterapkan pun, orang-orang lebih memilih untuk membayar 500 perak dibanding membawa tas belanjanya sendiri.

Kesadaran masyarakat umum mengenai bahaya plastik sekali pakai masih rendah. Hal ini dipicu oleh kurangnya edukasi dan budaya konsumtif. Bayangkan, bila rata-rata konsumen membutuhkan tiga kantong plastik setiap bertransaksi, dan setiap harinya terdapat 100 transaksi di sebuah toko, maka per harinya ada 300 buah kantong plastik yang terbuang. Menurut data Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), pada 2016 terdapat 32.000 gerai ritel di seluruh Indonesia. Itu berarti ada 1,758 miliar lembar kantong plastik yang dipakai setiap tahunnya.

Pencemaran oleh limbah plastik juga diperparah dengan sistem pembuangan sampah dan daur ulang di Indonesia yang belum tertata dengan baik. Dilansir dari Earthday.org, Indonesia merupakan kontributor sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) mencatat dari 64 juta ton sampah plastik yang masyarakat Indonesia hasilkan setiap tahun, sebanyak 3,2 juta ton berakhir di laut.

Mungkin kita perlu mencontoh sistem pengelolaan sampah milik Jepang atau Jerman yang menghasilkan sangat sedikit sampah yang terbuang begitu saja. Di Jepang, semua orang turut serta dalam usaha daur ulang, bahkan ada hari-hari khusus untuk membuang sampah jenis tertentu. Pemerintah Jerman, di lain pihak, menyediakan 9 jenis tong sampah berbeda untuk memudahkan pemilahan.

Hendaknya, masyarakat khususnya kalangan muda mulai menyadari bahaya pemakaian plastik sekali pakai bagi lingkungan hidup dan mengubah pola konsumsi mereka. Lewat edukasi yang tepat sasaran, ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap plastik sekali pakai dapat secara perlahan diminimalisir. Walau pengelolaan sampah di negeri ini belum sepenuhnya baik, setidaknya kita telah turut serta mengurangi beban bumi.

Bukankah kita ingin mewariskan planet bumi yang sehat bagi generasi mendatang? Pilihannya hanya dua: mulai bergerak, atau membiarkan bumi dipenuhi sampah plastik hingga ia tidak dapat lagi ditinggali seperti dalam film animasi “WALL-E”.

“Out there is our home. Home, Auto. And it’s in trouble. I can’t just sit here and do nothing!”

– Captain, WALL-E

 

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Utas.edu.au

Sumber: Mongabay.co.id, Cnnindonesia.com, Kompas.com, Earthday.org