Opini: Sesat Pikir Indonesia Tanpa Feminis

Sumber: rumahkitab
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Belum lama setelah gerakan Indonesia Tanpa Pacaran menggegerkan  media sosial, kini Indonesia kembali digemparkan oleh gerakan Indonesia Tanpa Feminis. Gerakan ini bermula dari munculnya akun dengan nama yang serupa yaitu @indonesiatanpafeminis di Instagram. Jelas sekali maksud dari tagar beserta akun tersebut mendeklarasikan keinginannya membuat Indonesia tidak memiliki feminis.

Akun ini pertama kali menunggah foto pada 17 Maret 2019. Hingga per 13 April 2019, pengikut akun @indonesiatanpafeminis sudah mencapai 3.546 orang. Mereka berpikiran bahwa feminisme seakan-akan menuhankan manusia. Miskonsepsi ini merupakan kesalahan fatal yang parahnya disetujui oleh ribuan orang.

Sebelumnya, terdapat akun dengan latar belakang penghapusan feminis yang sama, yaitu akun @thisisgender. Akun ini aktif beroperasi sejak November 2017 namun baru muncul di permukaan sejak sensasi yang dibuat oleh @indonesiatanpafeminis terkenal. Satu kesamaan dari kedua akun ini adalah mereka mengkaji feminis dari sudut pandang satu agama, yaitu Islam.

 

“Tubuhku bukan milikku, melainkan milik Allah.”

Orang-orang yang mendukung kampanye Indonesia Tanpa Feminis menentang keras otorisasi penuh tubuh perempuan atas dirinya sendiri. Mereka beranggapan tubuh mereka adalah milik Allah selaku penciptanya.

Kritik terhadap otoritas penuh tubuh perempuan merujuk pada cara berpakaian dan kepemilikan. Para feminis menganggap cara berpakaian perempuan murni hak perempuan tersebut tanpa ada kekangan dari pihak manapun. Sementara jika dilihat dari sudut pandang Islam, perempuan diharuskan berpakaian yang menutup aurat. Jika seorang perempuan tidak menutup auratnya maka ia dianggap menentang ajaran Islam yang sudah secara jelas tertuang di dalam Quran.

Sementara untuk urusan kepemilikan, budaya patriarki yang masih kental di Indonesia seakan menggambarkan kepemilikan tubuh perempuan adalah hak suaminya. Perempuan dituntut untuk  mengikuti perintah suami yang dianggap kepala keluarga. Stigma seperti ini membuat perempuan Indonesia menjadi tidak memiliki kontrol atas dirinya sendiri.

Tubuh manusia memang ciptaan Tuhan tetapi yang bertanggung jawab untuk merawatnya adalah pribadi masing-masing. Perempuan wajib memeroleh hak dalam konteks keadilan tubuh yang meliputi hak berpakaian, hak dihormati tanpa didiskriminasi, dan hak atas rasa aman.

 

“Ia dijaga oleh ayahnya, dijaga oleh saudara laki-lakinya dan dijaga oleh suaminya.”

Foto di bawah ini menggunakan tagar yang selalu digadang-gadang oleh pejuang anti feminis yaitu #UninstallFeminism. Dalam keterangan foto tersebut terdapat kalimat yang sedikit menganggu yaitu “Padahal dalam Islam, wanita tak perlu setara karena sejatinya wanita sungguh dimuliakan”.

Dimuliakan dalam kalimat tersebut merujuk pada dihormati dan dihargai. Memang idealnya seperti itu namun pelaksanaan di dunia nyata apa sudah benar terwujud? Dalam beberapa kasus perempuan tidak dijaga oleh ayahnya, saudara laki-lakinya atau suaminya. Contohnya adalah kasus yang menimpa gadis bernisial AG di Lampung. AG disetubuhi hingga ratusan kali oleh ayahnya, kakaknya serta adiknya  Malfungsi kemanusiaan ini sangat mungkin terjadi.

Maka dari itu perempuan tidak bisa sepenuhnya menyerahkan diri pada laki-laki di sekitarnya. Perempuan harus bisa menjaga dirinya sendiri karena dunia belum bisa ‘memuliakan’ perempuan seperti yang digadang-gadangkan.

 

Miskonsepsi Feminisme

Konsep feminisme menilik ketimpangan yang terjadi dalam hal gender. Feminisme bukan berarti perempuan memiliki posisi yang lebih tinggi daripada laki-laki, tetapi perempuan setara dengan laki-laki. Gerakan feminisme merupakan suatu alat untuk mengubah hal yang sebelumnya tidak adil menjadi adil baik untuk laki-laki maupun perempuan.

Feminisme dicetuskan oleh Lady Mary Wollstonecraft. Ia adalah penulis dan filsuf Inggris sekaligus advokat hak perempuan pada abad ke-18. Karyanya yang dikenal dunia berjudul A Vindication of the Rights of Woman yang berisi tentang pentingnya pendidikan untuk perempuan dan juga peran perempuan dalam negara sebagai sosok pendidik anak-anak dan pendamping laki-laki. Dalam buku ini, Wollstonecraft juga menekankan bahwa perempuan adalah manusia yang berhak atas hak dasar sebagaimana laki-laki.

Menurut buah pikir pakar kajian Islam dan Gender dari Universitas Indonesia Iklilah Muzayyanah, sebetulnya ada semangat keislaman dalam gerakan feminisme.

“Orientasi perjuangan feminisme kan membongkar ketidakadilan. Semangat ini sejatinya nilai spirit dalam Islam. Sama dengan perjuangan Rasulullah ketika ia berdakwah, orientasi yang ia perjuangkan adalah membela kelompok yang lemah. Jadi, tidak hanya perempuan yang dibela oleh Rasul, tapi juga kelompok minoritas,” ungkapnya seperti dikutip dari vice.com.

Darinya yang merupakan seorang muslim dan juga feminis, ia menganggap gerakan feminisme adalah gerakan yang sejalan dengan perjuangan yang digadangkan Islam karena berorientasi pada keadilan.

“Nah, dari sisi feminis sendiri, sesungguhnya saya sebagai muslim yang feminis melihat feminisme membantu kita untuk melihat realitas kehidupan masyarakat menjadi lebih baik dan jadi lebih tahu cara advokasi dan memperjuangkannya. Sebab, feminisme, kan, lebih pada upaya gerakannya untuk mewujudkan keadilan.”

Selain itu, ia menilai bahwa dengan mempelajari teori feminis, seseorang akan memahami Islam dengan lebih baik. 

Ketidaksetaraan gender di Indonesia masih sangat sering terjadi, seperti stigma perempuan tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi, perbedaan kesempatan bekerja, gaji yang timpang, serta pemojokkan perempuan dalam kasus kekerasan seksual.

Kampanye Indonesia Tanpa Feminis menyetarakan pemahaman Islam yang sebenarnya tak selaras dengan keadilan sosial. Perempuan berhak bersuara untuk mengangkat derajatnya. Perlu dilakukan perubahan secara bertahap untuk menciptakan dunia yang adil, baik untuk perempuan maupun laki-laki tanpa dicampur dengan doktrin keagamaan. Tuhan telah menciptakan dunia dengan sempurna maka tugas manusialah untuk hidup di dalamnya dengan bijaksana demi terbentuknya kehidupan yang ideal.

Infografis: Kumparan

Lagi pula, bukankah retorika jika membentuk kampanye Indonesia Tanpa Feminis padahal berbicara di depan umum untuk perempuan sendiri sudah bisa terwujud dari adanya feminisme?

 

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Ivan Jonathan

Gambar: Rumahkitab

Infografis: Kumparan