SERPONG, ULTIMAGZ.com – “Saat memutuskan untuk menjadi wartawan, informasi yang layak untuk diberitakan tidak ada habisnya. Tinggal bagaimana mengemasnya agar layak untuk diketahui orang,” ucap Berto Wedhatama, salah satu dosen program studi Jurnalistik di Universitas Multimedia Nusantara (UMN).
Mewartakan informasi melalui pers mahasiswa bukan sekadar tuntutan untuk mengejar deadline, melainkan sebagai bentuk dedikasi mahasiswa untuk turut peka akan isu kampus dan sekitarnya. Bukan tanpa alasan juga media kampus dengan gencar menyajikan informasi setiap harinya. Semua hal itu dilakukan agar media kampus menjadi medium terpercaya dalam mendapatkan informasi di ruang lingkup kampus.
Baca Juga: Jokowi: Masker Tak Lagi Wajib, UMN Masih Tetapkan Prokes
Media kampus atau yang lebih dikenal sebagai pers mahasiswa (persma) merupakan media massa di lingkungan kampus yang lahir dari mahasiswa, dikelola oleh mahasiswa, dan untuk mahasiswa. Media kampus juga berperan sebagai salah satu elemen penting dalam kehidupan kampus. Media kampus muncul sebagai platform untuk jiwa kritis mahasiswa, mengingat mahasiswa berperan sebagai tonggak penting dalam keberlangsungan kampus.
Kehadiran media massa di lembar kehidupan kampus diharapkan menjadi sebuah kontrol sosial di tengah gejolak dinamika kampus. Hal tersebut sejalan dengan fungsi dan tujuan media kampus yakni sebagai media penyalur informasi, komunikasi, kreativitas, serta kualitas mahasiswa.
Di UMN sendiri ada beberapa media kampus. Perjalanan media kampus di UMN tidak selalu mulus. Terkadang, akuntabilitas media kampus masih sering dipertanyakan, bahkan oleh warga kampus itu sendiri. Padahal, peran media kampus cukup krusial.
Selain sebagai sumber informasi warga kampus, media kampus juga dapat menjadi ajang untuk mengembangkan diri dan sebagai tempat untuk mengasah keterampilan mahasiswa terutama di bidang jurnalistik.
Target Audiens Persma yang Mulai Mengabur
Akuntabilitas media kampus yang kerap dipertanyakan tentu memiliki alasan di baliknya. Salah satunya, saat ini media kampus dinilai mulai kehilangan arah terkait target audiens.
Menurut Dosen Program Studi Jurnalistik UMN Rossalyn Ayu Asmarantika, sejatinya media kampus berperan sebagai sumber informasi untuk warga kampus. Namun, saat ini porsi informasi yang disajikan tidak begitu relevan dengan kebutuhan informasi warga kampus itu sendiri.
“Sejatinya persma jadi sumber informasi untuk masyarakat kampus. Jika saya lihat persma sudah bergeser, kini sudah banyak informasi-informasi yang tidak relevan untuk warga kampus,” ujar Rossalyn.
“Masyarakat kampus itu tidak hanya mahasiswa, tetapi juga dosen, penjual di kantin, staf di kampus, dan satpam. Media kampus idealnya sebagai sumber informasi masyarakat kampus.”
Ia juga merasa bahwa media kampus perlu mengaitkan produknya pada warga kampus. Apabila terlalu melenceng dari situ dan kerap memberitakan isu yang sama seperti media-media besar, itu akan sulit dijangkau oleh orang-orang.
“Jika persma bersaing dengan media mainstream, topik dan isu yang diangkatnya sama, ya, buat apa? Lebih baik mereka baca media mainstream saja,” katanya.
Hal senada dilontarkan oleh dosen lainnya, Berto Wedhatama, yang turut mempertanyakan target audiens media kampus saat ini.
“Tujuannya (media kampus) apa yang terjadi di lingkungan kampus bisa sampai ke mahasiswa. Sebenarnya balik lagi ke media kampus, apakah ini ditujukan untuk ke mahasiswa atau ke semua khalayak?” kata Berto.
Hal itu cukup terbuktikan. Banyak mahasiswa UMN membahas, membaca, menonton, dan mendengarkan informasi dari media kampus mengenai isu-isu yang terjadi di kampus, dibandingkan dengan topik yang tidak terkait dengan kampus.
Meski begitu, terkadang media kampus menyajikan informasi yang tidak berhubungan dengan kampus karena ingin berperan sebagai sumber informasi dan pengetahuan kredibel yang dikonsumsi oleh warga kampus.
Media kampus memang tidak bisa memaksa audiens untuk mengonsumsi produk mereka. Entah media kampus saat ini masih memiliki audiens atau tidak, merupakan pertanyaan yang ditanyakan juga oleh perusahaan media lainnya.
Maka dari itu, media kampus akan tetap memiliki audiens jika informasi yang disajikan sesuai dengan apa yang audiens cari.
“Sama halnya dengan orang akan membeli apa yang mereka butuh. Jika penjualnya menjual yang tidak dibutuhkan oleh pembeli, maka audiens tidak akan menonton dan mengonsumsi produk tersebut,” jelas Rossalyn.
Peran Persma sebagai Pengembangan Diri Mahasiswa dan Kontrol Sosial Kampus
Media kampus atau persma harus mampu menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya. Dengan itu, mahasiswa akan memberikan kepercayaan lebih pada persma karena kredibilitasnya dalam memberikan informasi. Ini pun nantinya akan berguna dalam menyuarakan perubahan progresif oleh mahasiswa di lingkungan kampus.
Banyak mahasiswa pun bergabung ke media kampus, tidak hanya untuk mengembangkan dirinya dalam bidang jurnalistik, tetapi juga untuk menjaga transparansi dalam kampus.
Kansha Syaakira, mahasiswi UMN jurusan Desain Komunikasi Visual 2022, mengatakan bahwa media kampus memiliki peran penting untuk mahasiswanya sendiri dan kampusnya.
“Terlepas dari membantu mempromosikan kampus tertentu, tapi juga menjadi wadah mahasiswa untuk terus mengembangkan dirinya. Entah itu membuat konten atau artikel, melatih teamwork, berhubungan dengan pihak eksternal dan internal kampus, dan lainnya,” ucapnya.
Begitu juga dengan Disya Shaliha, mahasiswi UMN jurusan Jurnalistik 2020, yang mengungkapkan bahwa media kampus berfungsi sebagai sarana pendidikan. Menurutnya, media kampus sebagai sarana pendidikan paling terasa pada mahasiswanya. Mereka mampu belajar berorganisasi, belajar sedikit tentang kerja dan fungsi media dalam skala kecil, hingga mematangkan keterampilan para anggotanya kalau seandainya ingin terjun ke industri media yang sebenarnya, kata Disya.
“Apalagi buat anak Jurnalistik, media kampus bisa menjadi simulasi yang pas buat mengasah skill dan memberi insight atau tips tentang kerja di industri media. Jadi nanti saat kerja atau magang, mereka tidak awam.”

Gabriella Keziafanya turut menambahkan bahwa media kampus berperan signifikan untuk menyuarakan dan menuntut keadilan pada hal-hal yang dianggap melenceng. Di sinilah persma hadir sebagai penggerak mahasiswa dalam mewujudkan kontrol sosial dalam menghadapi isu-isu yang ada.
“Media kampus sebenarnya tempat aspirasi mahasiswa. Selama ini di UMN yang kita tahu DKBM adalah tempat aspirasi mahasiswa. Tapi akan lebih relevan kalau itu juga menjadi tugasnya media kampus,” kata mahasiswi UMN jurusan Jurnalistik 2020 itu.
Menurutnya juga, media kampus mampu menampung aspirasi dan suara mahasiswa secara lebih terang-terangan. Sebab, media kampus dapat menyalurkan tulisan atau produk kritis terhadap isu yang digarap dengan memfokuskan perspektif mahasiswa.
Maka dari itu, menggali informasi kampus menjadi prioritas utama yang dilakukan media kampus sebagai kontrol sosial bagi kampus itu sendiri. Hal itu dilakukan agar kemampuan mengetahui dan mengakses informasi seputar kampus dapat terbuka secara transparan seluas-luasnya.
Media kampus pun harus tetap berimbang dengan menyandingkan aspirasi yang disampaikan mahasiswa serta klarifikasi dari pihak birokrat sebagai jawabannya.
Media Kampus yang Ada di UMN
UMN sebagai kampus multimedia memiliki beragam media kampus. Mulai dari UMN TV, UMN Radio, Ultimagz hingga UMN Juice. Ultimagz menjadi media kampus pertama yang lahir tepat pada Hari Pers Nasional yakni pada 9 Februari 2007. Memiliki slogan “Salam Deadline!”, Ultimagz fokus menerbitkan produk jurnalistik berupa majalah yang dulunya cetak kini beralih ke digital. Ada pula artikel-artikel yang diterbitkan melalui situs daring ultimagz.com.
Selanjutnya, UMN Radio muncul sebagai media kampus kedua yang lahir pada 18 Juli 2011. UMN Radio mengawali perjalanannya sebagai media kampus dengan tagline “Inspiring Change for Tomorrow“. UMN Radio menyajikan program-program menarik untuk mahasiswa yang berbasis audio.
Mengikuti jejak kedua media kampus sebelumnya, UMN TV hadir sebagai media kampus ketiga pada 31 Maret 2015. Seperti namanya, UMN TV merupakan media kampus yang bergerak di bidang broadcasting atau siaran audio visual.
Menjadi media kampus terakhir yang diresmikan pada 2016, UMN Juice merupakan media kampus dengan ragam inovasi dan kreasi menarik. UMN Juice menghadirkan produk jurnalistik seperti photostory, video informatif, dan infografis.
Pada intinya media kampus akan selalu hadir di antara mahasiswa dan warga kampus lainnya karena substansi media kampus bukan untuk mengejar jumlah audiens. Hal tersebut sejalan dengan fungsi media sebagai sumber informasi, edukasi, transformasi, dan kontrol sosial seperti yang tercantum dalam Undang-Undang (UU) No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, dilansir dari dewanpers.or.id.
Persma pun sebenarnya tidak ada bedanya dengan pers umum dalam hal perlindungan. Keduanya sama-sama melakukan kerja-kerja dan menghasilkan produk jurnalistik. Sayangnya, meski sudah tertuang dalam UU itu, persma masih sangat lemah jaminan hukumnya.
Baca Juga: Forum Diskusi ULTIMAGZ: Suara Mahasiswa yang Perlu Didengar Kampus
Mengingat media kampus berada di bawah naungan rektorat maupun fakultas, maka akan ada batasan dalam bersuara.
Semoga keberadaan media kampus di UMN bisa menjadi pengingat bahwa persma memiliki peran yang begitu krusial terhadap warga kampus. Oleh karena itu, keamanan terhadap media kampus juga harus diperhatikan agar tidak ada halangan dalam kebebasan berbicara.
Penulis: Mianda Florentina
Editor: Alycia Catelyn
Foto: Keizya Ham
Sumber: dewanpers.or.id