“Da 5 Bloods” Lukis Kembali Perang Vietnam dengan Isu Rasial

Salah satu adegan dalam film "Da 5 Bloods". (Foto: cnnindonesia.com)
Salah satu adegan dalam film "Da 5 Bloods". (Foto: cnnindonesia.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Perang Vietnam mungkin merupakan sejarah yang tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat Amerika. Paman Sam (Amerika) memang kalah dalam pertarungan itu. Pun demikian, tidak jarang upaya mencegah kelompok komunis di Vietnam itu dijadikan lambang patriotisme. Kejadian yang acap kali difilmkan oleh Hollywood dengan berbagai pernak-pernik kepahlawanan nasionalis Amerika ini ternyata memiliki beberapa fakta yang tidak disorot.

Tidak seperti film-film pendahulunya, “Da 5 Bloods” karya Spike Lee yang tayang pertama kali pada Jumat (12/06/20) di Netflix menguak kembali perang mematikan tersebut dengan mengangkat isu rasial. Cerita diawali dengan pertemuan kembali empat orang veteran perang Amerika, Otis (Clarke Peters), Melvin (Isiah Whitlock, Jr.), Eddie (Norm Lewis), dan Paul (Delroy Lindo) di Kota Ho Chi Minh, Vietnam. Setelah lebih dari satu dekade empat sahabat tidak berjumpa, akhirnya mereka dapat bertemu dan melepas rindu.

Namun reuni itu tidak dilakukan untuk rekreasi, mereka membawa dua misi besar, yakni menemukan tubuh sang ketua regu The Bloods, Norman (Chadwick Boseman), yang tewas di tengah peperangan. Kemudian mengambil kembali satu peti emas yang mereka kubur demi menghindari harta karun tersebut diambil alih pemerintah.

Film ini sukses dalam menunjukkan bahwa perang Vietnam bagi tentara yang terlibat langsung, bukan hanya sekadar sejarah, melainkan sebuah trauma dan luka batin yang amat mendalam. Untuk sebuah film dengan alur maju-mundur, karya Lee yang satu ini cenderung mudah diikuti dan tidak membingungkan. Pun demikian, konflik-konflik emosional yang ditunjukkan oleh Lee memang relatif rumit mengingat para prajurit masih menyimpan trauma mendalam di kepala mereka.

Menceritakan sebuah peperangan besar, film “Da 5 Bloods” pun menunjukkan banyak sekali adegan penuh darah yang terlihat sangat nyata. Hal ini memang baik adanya, seperti kenyataan pahit yang perlu diketahui banyak orang. Namun, beberapa khalayak akan merasa sangat terganggu dengan adegan-adegan tersebut.

Pengambilan gambar yang apik juga menjadi salah satu nilai plus. Khalayak bisa mengikuti alur cerita sembari memanjakan mata dengan pemandangan alam yang disajikan. Produksi film ini pun realistis, beberapa video ditampilkan dengan suntingan yang lawas, seakan-akan penonton ditarik kembali ke masa lalu.

Sebagai film fiksi yang dihidangkan untuk menghibur, Lee cukup memberi banyak edukasi terkait sejarah, terutama tentang pergerakan masyarakat kulit hitam di Amerika. Beberapa video asli tokoh pergerakan sedang mengumandangkan pendapat pun menjadi bagian yang menarik, di antaranya wawancara Muhammad Ali, Malcolm X, serta pidato Angela Davis dan Martin Luther King, Jr. Pelajaran sejarah ini akan sangat menyentuh hati, mengingat mayoritas penduduk kulit hitam yang minim di Amerika harus turun ke medan perang untuk memperjuangkan negara yang mengucilkan hak hidup mereka di waktu yang bersamaan, bahkan hingga hari ini.

“Sejak dari awal kami memperjuangkan negara yang tidak memperjuangkan kami. Kami mencintai negara yang tidak mencintai kami,” tutur Lee dalam gelar wicara bertajuk Spike Lee – Making History Current with “Da 5 Bloods” dalam The Daily Social Distancing Show yang tayang pada Sabtu (14/06/20) di YouTube The Daily Show with Trevor Noah.

 

Penulis: Andrei Wilmar

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Foto: cnnindonesia.com

Sumber: youtube.com/The Daily Show with Trevor Noah, newyorker.com