Marlina, Pembunuh dalam Empat Babak Pencari Keadilan

Gambar yang diambil dari adegan film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak yang diperankan oleh aktris Marsha Timothy dan Dea Panendra, sudah tayang di bioskop reguler mulai Kamis (16/11/2017).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — “Saya perempuan paling sial, sudah malam ini,” ucap Marlina kepada Markus saat dihampiri rumahnya sore itu. Logat orang timur yang khas dan iklim cerita dibuat mengalir, membuat Marlina tampak bersinar sepanjang paruh waktu yang ditampilkan satu setengah jam di depan layar penonton pada film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak.

Bercerita tentang seorang janda asal Sumba yang rumahnya didatangi tujuh pria yang ingin merampok sekaligus memerkosa dirinya, Marlina melakukan perlawanan sengit terhadap mereka. Ia lalu memenggal ketua kelompok tersebut dan membawa kepalanya ke kantor polisi.

Selayaknya judul yang telah berkata dengan jujur yakni dalam empat babak, film ini memang terbagi atas empat babak di mana semua meruntut dengan rapi dan pas. Penonton yang akrab dengan pembagian ini tentu dapat merasakan adanya nyawa dari gaya film Quentin Tarantino yang berjudul The Hateful Eight atau pun karya sutradara Wes Anderson yakni The Grand Budapest Hotel. Namun, demikian cerita Marlina yang sama sekali tidak ada kait unsur yang mirip dari kedua film tersebut. Mouly menggarapnya secara jeli apa saja nyawa-nyawa yang perlu ditampilkan dalam film panjang ketiganya ini.

Eksekusi Cerita dan Aktor

Dari awal, penonton sudah dibentuk pemikiran bahwa tokoh Marlina adalah pembunuh. Jelas dari judul yang tergamblang demikian. Mouly dan Adi membagi cerita dalam empat babak: Robbery, The Journey, The Confession, dan The Birth—yang pada akhirnya berhasil menampilkan setiap kejutan-kejutan yang ada pada setiap babaknya dengan timing yang pas dan berkesan seperti di luar ekspektasi penonton. 

Keseriusan Marlina yang mengusung latar pedalaman bagian timur Indonesia, membuat kejujuran dialog lahir yakni dari segi bahasa. Hal itu menilai dapat menghidupkan suasana pengetahuan bahasa daerah bagi para penonton dengan didukungnya kemampuan berakting aktor-aktor yang jujur.

Marsha Timothy yang berperan sebagai Marlina, justru minim akan dialog. Beberapa bagian yang banyak menunjukkan Marlina terdiam dan fokus bermain mata. Meski begitu, Timothy dengan ekspresinya mampu menghidupkan karakter Marlina yang tidak lepas dari film. Nyawa Marlina pun tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan peran pendukung lain yang bertugas yakni Novi (Dea Panendra) dan Franz (Yoga Pratama).

Panendra menyajikan karakter Novi, seorang ibu hamil mengandung sepuluh bulan, yang mencekik semua penonton dengan keseriusan dan kejujuran eksekusi lewat dialog yang dituturkannya. Beberapa lontaran lelucon yang serius dikeluarkan mengalir dengan sangat baik. Karakter Novi sangat berpadu dengan keberlanjutan cerita Marlina di setiap babaknya.

Namun, lain dengan karakter yang dibawakan oleh Yoga Pratama; Franz. Penafsiran selalu muncul dari peran salah satu perampok ini—dikarenakan beberapa tingkah Franz yang menjadi pertanyaan dalam film. Kemungkinan-kemungkinan pun muncul seperti apakah dia orang baik atau tetap menjadi ‘musuh’. Demikianlah pula dengan kebersandingan karakter Franz dan Markus yang memicu adanya pertanyaan-pertanyaan baru, seolah tingkah yang ditampilkan karakter keduanya hanya menjadi sekilas karena tidak digalih lebih lanjut dalam cerita.

Pemfokusan cerita mengenai perempuan, membuat film ini tampak berbeda yakni didominasi oleh metafora persoalan-persoalan sekitar kaum hawa yang menampilkan sisi drama, ketangguhan, kebanggaan, dan kenekatan masing-masing karakter. Tujuan Mouly memang jelas tergambar dalam Marlina; menilai adanya adegan yang sengaja ia taruh untuk menampar kaum pria secara jahat dengan kesadaran realita yang sebenarnya. Kembali, film ini adalah curahan hati para perempuan yang terbendung, lalu dihempaskan menjadi sebuah karya yang spektakuler.

Cerita yang berawal dari ide pembuat film ternama Garin Nugroho ini juga menarik semua unsur dan isu-isu sekitar orang-orang yang hidup di pedalaman. Ada di dalam satu paruh yang menampilkan segilintir kultur dari orang Indonesia yang terkait dengan unsur politik. Meskipun terasa sensitif, namun Mouly mengemasnya dengan pengenaan yang elegan. Berbumbu sadis dengan terpapar darah pada beberapa adegan dan penampakan kepala terpenggal, membuat Marlina memang ditujukan khusus untuk orang dewasa.

Matangnya Penggarapan

Dibuka masuk ke babak pertama, Marlina tampil dengan menunjukkan pelataran Sumba yang digambarkan seperti surga di tengah nusantara. Peran sinematografer Yunus Pasolang layak dipuji habis sepanjang paruh film. Kiat-kiat menambahkan footage dari pemandangan daratan timur Indonesia ini tidaklah berakhir dalam pengambilan gambar yang asal, namun berbalik—sangatlah elegan dan memikat. Rasanya penonton diberikan dalil: tidaklah ada penundaan untuk berkunjung ke Sumba seusai menonton film ini.

Beraksi dengan tangguh pula dukungan dari penata artistik Frans Paat yang berhasil membuat Marlina satu tingkatan lebih tinggi dibanding film-film Indonesia lainnya. Konsistensinya akan seni-seni yang muncul, menunjukkan matangnya penggarapan film yang ditulis oleh Mouly Surya dan Rama Adi ini.

Scoring yang dibuat Zeke Khaseli dan Yudhi Arfani mampu menghidupi Marlina sebagaimana musik yang menyatu dan bersenyawa dengan cerita. Film yang disebut-sebut sebagai film bergenre Satay Western ini memang menyombongkan kepiawaian sang sutradara dalam keberhasilannya menggabungkan unsur seni, komedi, sindiran politik, sadis, drama, dan feminisme—dalam satu karya yang luar biasa baik. Lain dari itu, Marlina juga hadir dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa kebanggaan yang besar menjadi seorang perempuan.

Penulis :  Felix

Editor : Christoforus Ristianto

Foto :  marlinathemurderer.com