Tragedi Kemanusiaan dalam Film Bisu ‘Setan Jawa’

Salah satu adegan dalam film "Setan Jawa" karya Garin Nugroho
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Pada awal abad ke-20, kelahiran era industri mengakibatkan sebuah tragedi kemiskinan melanda tanah Jawa. Masyarakat Jawa dengan budaya tradisional yang masih kental berusaha meraih kekayaan dengan berbagai cara, termasuk melalui ritual-ritual mistis. Salah satu cara mistis yang dapat dilakukan untuk memperoleh kekayaan adalah Pesugihan Kandang Bubrah.

Sebagai pemuda desa miskin yang tidak memiliki apa-apa, Setio juga bermimpi untuk memperoleh kekayaan agar bisa melamar wanita yang dicintainya, Asih, yang adalah seorang putri bangsawan Jawa. Setelah lamaran pertamanya ditolak, Setio memutuskan untuk membuat kesepakatan dengan iblis melalui Pesugihan Kandang Bubrah. Lewat kesepakatan tersebut, ia berhasil memperoleh kekayaan dari iblis namun harus membayar kesepakatan itu dengan menjadi tiang penyangga rumah saat ajalnya tiba.

Kekayaan yang kini dimiliki Setio membuat Asih akhirnya menerima lamarannya dan bersedia untuk kawin dengannya. Mereka hidup bahagia di sebuah rumah Jawa yang megah.

Tetapi kebahagiaan yang dirasakan Asih sirna ketika ia mengetahui bahwa suaminya telah melakukan ritual Pesugihan Kandang Bubrah. Ia pun memberanikan diri untuk menemui setan pesugihan dan memohon ampunannya agar tidak menjadikan suaminya tiang penyangga rumah ketika meninggal nanti.

Setan Jawa adalah sebuah film bisu hitam putih karya sutradara ternama Garin Nugroho yang mengangkat tema mitologi Jawa. Film ini diiringi dengan komposisi musik gamelan Indonesia karya Rahayu Supanggah pada pemutarannya.

Garin mengaku bahwa film yang terinspirasi dari film bisu hitam putih Nosferatu (1922) dan Metropolis (1927) ini membangkitkan kenangannya akan kehidupan masa kecilnya di Yogyakarta yang dipenuhi dengan pertunjukkan wayang kulit dan iringan gamelan.

Setan Jawa sebagai film bisu hitam putih dengan iringan langsung gamelan serta dengan tema dunia mistik ini adalah sebuah hasil representasi dan kenangan masa kecil di rumah saya di Yogyakarta yang membawa masa lampau sekaligus masa kini,” ungkap Garin melalui siaran persnya kepada Kompas.com.

Film ini akan segera diputar pada Opening Night of Asia Pacific Triennial of Performing Arts di Melbourne, Australia pada 24 Februari 2017. 20 Pengrawit (pemain gamelan) akan membawakan orkestra gamelan secara langsung di depan layar sambil berkolaborasi dengan Melbourne Symphony Orchestra oleh Iain Grandage. Sebelumnya, penonton Indonesia telah terlebih dahulu mendapat kesempatan untuk menonton film tersebut di Taman Ismail Marzuki pada September 2016 yang lalu.

Setan Jawa yang fokus pada mistik Jawa ini merupakan fenomena kontemporer dan eksperimentasi bahasa visual, menggabungkan visual arts, teater, tari, fashion, hingga musik dalam ruang bebas interpretasi,” jelas Garin.

Penulis: Hilel Hodawya

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Sumber: Kompas.com, thejakartapost.com, liputan6.com

Foto: kanaltigapuluh.info