‘Tully’: Definisi Ibu yang Bukan Rahasia

Film 'Tully' (2018) garapan Jason Reitman, telah membangkitkan setidaknya kisah representasi seorang ibu yang sudah bukan rahasia umum lagi, melainkan lumrah dikonsumsi sebagai cerminan dan hiburan.
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com — Tully (2018) mencoba menelaah setiap keluh kesah para ibu dengan estetika cerita yang tidak melulu soal kesedihan, namun juga berfokus pada hangatnya kisah relasi.

Usai keberhasilan Juno (2007) dan Young Adult (2011), Diablo Cody kembali menulis tentang kaum Hawa. Kali ini, sosok ibu menjadi sorotan sepanjang penayangan Tully yang digarap oleh sutradara Jason Reitman.

Tully berkisah tentang Marlo, seorang ibu dari dua anak bernama Jonah dan Sarah. Selain kedua anaknya tersebut, ia juga sedang mengandung anak ketiganya. Dalam mengurus dua orang anak dan bayi yang masih ada di dalam perutnya, Marlo harus berjuang sendirian karena sang suami yang hanya menjadi “penghias” dalam rumah tangganya. Pada akhirnya, Marlo pun menghadirkan pengasuh anak bernama Tully untuk meringankan bebannya.

Penyuguhan topik yang terdengar standar ini berpeluang menghadirkan elegansi cerita yang humanis dan pola berkisah yang jujur. Reitman mencoba menyatukan “bingkai” acak di kepala penonton, lalu menjadikannya susunan plot yang menarik.

Diawali dengan keintiman hubungan Marlo dan Jonah di awal cerita, pada awalnya penonton tidak langsung mengetahui bahwa Jonah adalah anak berkebutuhan khusus. Cerita berangsur berkembang dengan suntingan yang hangat, konflik tenang. Kiat warna yang diusung selalu memberikan sedikit senyuman tiap melewati adegan demi adegan.

 

Derita Marlo yang Bukan “Derita”

Pembuka yang mulus dan tanpa cela bukan berarti sisa alur cerita akan tertinggal begitu saja. Tensi konflik akan terasa naik ketika berlanjut di paruh kedua yang penuh dengan gelut keresahan seorang ibu.

Charlize Teron yang berperan sebagai Marlo mengimbangi setiap gerakan dan transformasi tubuhnya dengan kepiawaian akting yang konsisten dan meyakinkan.

Terlepas dari itu, Marlo menghadapi kisah-kisah yang terpaut klise, namun dikemas secara elegan dan berkaitan dengan pergelutan yang dialami seorang ibu. Derita yang dialami Marlo bukanlah “derita”, melainkan aktivitas monoton yang menghasilkan limpah kelelahan.

Mengisahkan seorang ibu bukanlah hal yang mudah, apalagi dengan permainan twist yang tidak lumrah dilakukan dalam film drama pada umumnya. Di balik itu, kemasan manis yang dibawa Reitman dan Cody, menjadikan Tully sebagai definisi yang pas untuk mendeskripsikan rahasia sosok ibu dengan fasih dan humanis.

Dari film ini, kita diajarkan bahwa penderitaan tidak akan dapat diselesaikan melalui emosi saja. Tidak ada salahnya untuk menunjukkan rasa simpati kepada jerit payah untuk seorang ibu yang mendapat begitu banyak tekanan.

Secara ajaib Tully hadir menghiasi gelimang kisah klise yang merepresentasikan peran ibu dalam film dan menjelma sebagai “surat cinta” bagi para perempuan yang kelak akan merasakan menjadi seorang ibu.

 

Penulis: Felix

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Felix