Bahaya Bias Media dan Kepercayaan Masyarakat Terkait Pseudosains

Ilustrasi penemuan sains. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi penemuan sains. (Foto: pexels.com)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Seringkali kita menjumpai pemberitaan tentang ‘temuan’ sains yang ramai dan membuat banyak orang percaya akan hal itu. Contohnya, ketika kasus Dr. Saras dengan ‘terapi balur rokok’ untuk pengobatan kanker, terapi ajaib ‘Ningsih Tinampi’, ataupun pemberitaan tentang kayu bajakah yang dipercaya sebagai salah satu zat yang dapat menyembuhkan kanker. Pemberitaan seperti ini seakan terlihat biasa, tetapi bila orang dengan penyakit yang ditentukan membaca hal itu, besar kemungkinan mereka akan percaya; bias media.

Padahal, perlu diingat bahwa dalam sains diperlukan metodelogi tertentu untuk menyatakan bahwa pengobatan layak dilakukan. Dibutuhkan waktu yang lama pula untuk mengukur risiko bagi tiap-tiap individu yang memiliki karakter tubuh yang berbeda. Pemberitaan temuan pseudosains, tanpa tanggung jawab akan informasi yang diberikan, dapat membawa masyarakat masuk ke dalam jebakan batman bernamakan ‘pseudosains’.

Masyarakat dan Temuan ‘Pseudosains’

Pseudosains, menurut Kamus Merriam-Webster, adalah “sistem teori, asumsi, dan metode yang secara keliru dianggap ilmiah”. Dilansir dari tirto.id, metode yang keliru secara ilmiah ini mengandalkan kepercayaan masyarakat untuk tetap tumbuh subur.

Seringkali masyarakat Indonesia mudah percaya dengan berita sains yang belum terbukti kebenarannya. Bila melihat konteks orang dengan latar belakang penyakit kanker misalnya, keinginan untuk mendapatkan kesembuhan dan melihat keberhasilan metode alternatif walaupun tak terbukti secara ilmiah, dapat membuatnya datang dan melakukan terapi alternatif tadi. Beruntung bila terapi alternatif yang dijalankan tidak membawa dampak negatif, tetapi bagaimana jika sebaliknya? Risiko terapi tak terverifikasi oleh sains masih belum terukur berpotensi menimbulkan bahaya bagi orang tersebut.

Melansir dari tirto.id, penyebab masyarakat percaya terhadap isu ‘penemuan baru’ yang belum terverifikasi dipengaruhi oleh testimoni media sosial dan rujukan terapis.

Hasanudin Abdurakhman dalam detik.com berpendapat bahwa masyarakat Indonesia masih buta dengan sains. Banyak dari masyarakat Indonesia yang masih belum bisa menilai benar salahnya klaim suatu produk ataupun pengobatan. Termakan pemberitaan media dan testimoni masyarakat yang berobat, banyak orang-orang sakit yang berkunjung mencoba pengobatan alternatif tadi dengan harapan bisa sembuh, tanpa menyadari di balik alternatif ada risiko pengobatan lain yang belum terukur.

Bias Media dalam Kasus Sains Kontroversial

Media seringkali mengungkapkan isu sains kontroversial lewat prestasi yang diraih, tapi bahaya terkait isu sains yang belum terverifikasi masih jarang diangkat. Firman Imaduddin dalam remotivi.or.id menjelaskan bahwa rubrik sains di media mainstream seringkali bernadakan infotainment, yang kemudian membuat media kehilangan kritisisme.

“Tanpa kritisisme, sains tidak dapat disebut sains. Hasil studi haruslah selalu diuji dan direplikasi, ia selalu rawan terhadap kelalaian, bias, dan kesalahan. Bahkan, sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas hasil riset yang dilakukan tidak berhasil direplikasi,” ujarnya.

Seringkali kita menemukan berita bernada positif tentang pengobatan alternatif. Sebut saja kasus kangen water, atau rompi ciptaan Warsito Purwo Taruno bisa menyembuhkan kanker, atau buah sirsak yang mampu mengobati kanker. Memang, ada zat dalam produk ataupun pengobatan tadi yang mampu mengobati kanker. Namun, untuk mengubahnya menjadi obat yang dapat dikonsumsi secara aman. Diperlukan penelitian lebih lanjut dan waktu yang lebih lama untuk mengukur efek zat-zat tadi.

Pemberitaan tentang sains dan pengobatan kontroversial tanpa mengecek kembali kredibilitas klaim yang diucapkannya dapat membuat masyarakat memercayai informasi yang tidak akurat.

 “Hal yang terjadi kemudian penyebaran informasi tak akurat terjadi. Bersumber dari orang pintar yang gatal ingin populer, disebarkan oleh awak media yang tak paham, disambut dengan bergairah oleh orang-orang yang tak paham pula,” ujar Hasanudin Abdurakhman dalam mojok.co.

Bila kita menarik sebuah kasus, misal untuk pengobatan kanker, banyak informasi yang bermunculan tentang pengobatan kanker dengan terapi alternatif, entah dengan metode unik ataupun obat herbal. Namun, hal itu belum terukur risikonya, dan bahkan mampu memperparah keadaan pasien kanker tadi.

Sebuah riset yang telah dipublikasikan oleh JAMA Oncology menyebutkan bahwa dari sekitar 3.100 pasien kanker yang menanggapi pertanyaan tentang kanker dan penggunaan pengobatan alternatif melalui Survei Wawancara Kesehatan Nasional 2012, lebih dari 1.000 pasien dilaporkan menggunakan satu atau lebih dari obat alternatif selama tahun sebelumnya. Artinya, satu dari tiga pasien kanker menjalani pengobatan ini, dikutip dari tempo.co.

Mengutip tempo.co, Time pada Jumat, 12 April 2019 menuliskan bahwa para peneliti menjelaskan bahwa secara umum, pengobatan alternatif tidak menakar dan mengukur kadar terapi dengan baik. Mereka tidak menggunakan cara yang tepat seperti bagaimana pendidikan yang telah diterima dokter. Sementara itu, Dr. Griska Lia Christine, Sp-PD, dalam kompas.com mengatakan bahwa semua obat yang akan diberikan pada pasien kanker membutuhkan uji klinis dengan tahapan yang tidak singkat.

Dalam Journal of the National Cancer Institute (JNCI), dikatakan bahwa keterlambatan atau penolakan pengobatan kanker konvensional saat melakukan pengobatan alternatif, dapat memungkinkan implikasi kelangsungan hidup yang serius bagi pasien kanker. Jurnal ini juga mengungkapkan bahwa pasien yang awalnya memilih cara alternatif untuk pengobatan kanker yang dapat disembuhkan sebagai pengganti pengobatan konvensional, secara statistik memiliki kelangsungan hidup yang lebih buruk secara signifikan.

Mendobrak Kepercayaan, Bersikap Kritis

Melihat risiko dari pengobatan alternatif, dan bias media yang tidak mengangkat risiko dari penggunaan pengobatan alternatif secara spesifik, dapat memberikan harapan palsu bagi para pasien yang mencari kesembuhan. Bahkan, memperburuk keadaannya.

Masyarakat perlu lebih waspada dengan melihat pemberitaan lewat dua sisi, tak hanya memercayai hal baik yang diberitakan, tapi perlu juga melihat hal negatif yang terpendam. Media sebagai arus informasi, diharapkan mampu memberikan informasi sains secara berimbang agar masyarakat dapat melihat fenomena pengobatan ini dari dua sisi. Selain itu, media juga diharapkan mampu menjalankan jurnalisme sains secara tepat. Melihat peran jurnalisme sains sebagai penerjemah dari bahasa sains yang kompleks, mendetail, dan penuh jargon menjadi bahasa yang dapat dipahami oleh orang banyak dengan tetap menjaga akurasi dari informasi tersebut, dikutip dari remotivi.or.id.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Xena Olivia

Foto: pexels.com

Sumber: tirto.id, detik.com, remotivi.or.id, mojok.co, tempo.co, academic.oup.com, kompas.com