Opini: Ketika Korona Berevolusi Dari Virus Menjadi Stigma

korona
Tenaga medis asal Inggris meminta dukungan dari masyarakat. (Foto: keep106.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pandemi korona, nampaknya sudah banyak merepotkan kehidupan manusia. Banyak aspek yang bergejolak dalam keadaan seperti ini, salah satunya sosial. Di tengah bencana yang menimpa manusia, virus korona seharusnya dihadapi dengan saling bahu-membahu. Namun apa daya jika wabah ini malah melahirkan masalah kemanusiaan yang baru.

Penolakan terhadap virus korona memang sudah seharusnya dilakukan, namun tidak terhadap orang-orang yang terlibat dengan virus tersebut. Sayangnya, dengan dalih menjaga jarak, beberapa masyarakat menolak korban, tenaga medis, bahkan jenazah tidak diizinkan beristirahat dengan tenang hanya karena penyakit yang membunuhnya.

Masyarakat tampaknya sudah tidak lagi waspada, mereka lebih menunjukkan sikap anti dan benci terhadap segala sesuatu yang telah dijamah oleh korona, termaksud manusia. Pasien korona yang kini sudah sembuh pun, mengingatkan untuk tidak membebankan korban virus korona dengan stigma.

“Untuk orang-orang di luar, jangan menghakimi pasien yang positif Covid-19 dengan berbagai stigma,” ujar pasien yang dirahasiakan identitasnya, di RSPI Sulianti Saroso Jakarta pada Senin (16/03/20) seperti yang dilansir oleh tagar.id.

Menjadi korban atas dua hal, korona dan stigma, dia turut memberikan kesaksian betapa berat stigma yang dilemparkan beberapa pihak. Pada masa isolasi, pasien itu mengaku air mata kerap mengalir ketika tahu khalayak menggerayangi identitas pribadinya. Beberapa orang bahkan menyerang aspek yang tidak ada kaitannya dengan sebuah virus.

“(Khalayak) menyerang profesi kami sebagai penari, penggiat seni, dan pejuang budaya,” keluh pasien tersebut. “Semua harus ingat bahwa virus ini tidak memandang bulu, tidak memilih ras, agama,  dan profesi, (virus korona) bisa menular ke siapa pun,” lanjutnya.

Di lain sisi, tenaga medis yang diberikan apresiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai pahlawan dalam menghapi virus korona di Hari Kesehatan Internasional pada Selasa (07/04/20) malah dikucilkan oleh masyarakat. Tidak sedikit dari ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ versi WHO ini dilarang tinggal di lingkungan yang merupakan hak mereka.

Beberapa tenaga medis di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Aceh baru saja selesai menjalankan isolasi setelah menangani pasien korona, mereka siap untuk pulang ke kediaman masing-masing. Alih-alih disambut seperti pahlawan, para perawat itu malah diusir oleh warga setempat dan pemilik indekos yang takut mereka malah menyebarkan virus.

“Benar ada beberapa tenaga medis yang melapor kepada kami, terutama mereka yang merawat pasien korona dan masih lajang. Itu diminta untuk tidak pulang ke indekos,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh Safrizal Rahman pada,Selasa (07/04/20). Ia membenarkan adanya pengusiran, dilansir dari kumparan.com.

Merujuk pada penjelasan pemerintah daerah, tenaga medis yang diizinkan pulang sudah dijamin sehat. Untungnya pemerintah setempat sudah memiliki solusi sementara untuk masalah ini. Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Hanif tidak menampik bahwa penolakan warga dan pemilik indekos benar terjadi. Dia juga sudah menyediakan tempat untuk para garda depan ini tinggal sementara.

“Mereka (tenaga medis) sudah ditempatkan di Asrama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM),” ujar Hanif.

Kejadian serupa terjadi di Yogyakarta, Jawa Tengah. Direktur Utama Rumah Sakit (RS) Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Widodo Wiryawan telah mempersiapkan beberapa bangsal di RS untuk para perawatnya yang dilarang pulang karena perlakuan diskriminatif oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggal.

“Kami menerima laporan bahwa ada perawat yang tidak bisa memperpanjang kosnya,” kata Widodo pada Rabu (08/04/20) dilansir dari cnnindonesia.com.

Menanggapi hal ini Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X sangat menyayangkan warga setempat yang melakukan hal tersebut. Raja Keraton Yogyakarta itu mengimbau warganya untuk tidak memberi stigma serta menegaskan bahwa tenaga medis sudah dijamin bersih setelah bertugas menangani pasien Korona.

“Percayalah masyarakat bahwa tenaga medis ini pada waktu pulang sudah dalam keadaan bersih,” jelasnya.

Tidak berhenti di mahluk hidup, jenazah pun turut ditimpa oleh ketakutan berlebihan beberapa warga. Teriakan warga desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas menghiasi fajar yang baru saja menyingsing pada Rabu (01/04/20). Mereka memaksa mobil ambulans yang mengangkut jenazah korban virus korona untuk memutar balik dan tidak melewati desa mereka.

Bupati Banyumas Achmad Husein harus berdebat dengan segelintir warga desa untuk meyakinkan bahwa jenazah korban korona bukanlah sesuatu yang berbahaya. Husein yang terjun langsung dalam proses pemindahan terlihat mengenakan alat perlindungan diri dan ditemani oleh aparat kepolisian ketika menjelaskan kepada warga.

“Virus itu adanya di orang hidup, bukan yang sudah meninggal,” pungkas Husein dengan suara lantang dan tangan yang dilayangkan secara horizontal.

Pernyataan ini dibenarkan oleh pakar. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bandarlampung Provinsi Lampung dr Aditya M Biomed mengatakan bahwa virus yang menempel pada jenazah tidak akan bertahan lama. Untuk melanjutkan hidupnya, virus butuh mahluk hidup sebagai inang.

“Jadi virus itu tidak bisa hidup sendiri dalam jangka waktu yang lama, dia harus menumpang dengan makhluk hidup sebagai inang,” Jelas Aditya, dilansir dari republika.co.id, Sabtu (04/04/20).

Waspada memang sudah seharusnya dilakukan. Namun stigma-stigma tersebut tidak lagi menunjukkan kewaspadaan masyarakat, melainkan sikap anti dan benci yang berakhir pada diskriminasi. Lingkungan yang kurang mendukung ini memperlihatkan evolusi korona menjadi kebencian yang menular lebih cepat dibanding sebuah virus. Lagi-lagi penyakit berubah menjadi stigma dan korban dipandang sebagai pelaku utama.

 

 

Penulis: Andrei Wilmar

Editor: Andi Annisa Ivana Putri

Foto: keep106.com

Sumber: republika.co.id, kumparan.com, tagar.id, cnbcindonesia.com, cnnindonesia.com, suara.com, liputan6.com, detik.com