Mengenal Quarter Life Crisis, Keraguan Sebelum Dewasa

Ilustrasi seseorang yang sedang mengalami quarter life crisis. (ULTIMAGZ/Caroline Saskia)
Ilustrasi seseorang yang sedang mengalami quarter life crisis. (ULTIMAGZ/Caroline Saskia)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com — Pada umumnya, seseorang mengalami proses menuju dewasa di rentang usia 20 sampai 35 tahun. Selama periode ini, seseorang dihadapkan pada pertanyaan, ‘Apa tujuan hidup saya? Apakah saya bahagia?’. Pertanyaan-pertanyaan tadi sedikit menggambarkan bagaimana orang di usia 20-an kemudian merasa ragu akan pekerjaan, hubungan, atau tujuan hidupnya. Keraguan ini dapat menimbulkan kecemasan yang dikenal dengan sebutan quarter life crisis.

Melansir dari collinsdictionary.comquarter life crisis adalah krisis yang melibatkan kecemasan atas arah dan kualitas hidup seseorang. Dr. Oliver Robinson dalam firstdirect.com menjelaskan bahwa quarter life crisis merupakan fenomena yang diakui dan biasanya bertahan sekitar satu tahun. Ia juga mengatakan, peristiwa ini dimaknai sebagai sebuah titik balik atau turning point seseorang dalam beranjak dewasa, di mana perasaan negatif, konflik dalam diri, dan kebingungan meningkat.

Selain itu, Psikolog Nathan Gehlert dalam themuse.com mengatakan bahwa kebanyakan penderita quarter life crisis merupakan pribadi yang sangat bersemangat dan cerdas. Namun, mereka terus berjuang karena merasa tidak memanfaatkan potensi dirinya dengan baik atau tertinggal. Anna Surti Ariani, seorang psikolog anak dan keluarga, menambahkan bahwa fenomena quarter life crisis dapat terjadi karena adanya masa pencarian jati diri.

“Transisi dari setiap tahap perkembangan ini akan ada krisisnya karena perubahan dari tugas perkembangan yang satu ke tugas perkembangan lainnya. Nah, di usia remaja kan ‘tugas perkembangannya’ adalah mencari jati diri dan itu baru mantap di usia sekitar 25 tahun,” ujar Anna kepada tim kumparan.com.

Mengutip theguardian.com, fenomena quarter life crisis ditandai dengan rasa tidak aman, kekecewaan, kesepian, dan depresi yang terjadi pada orang usia dua puluh dan tiga puluhan. Biasanya hal ini terjadi tak lama setelah mereka memasuki ‘dunia nyata’. Selain itu, periode usia tadi merupakan masa di mana seseorang dengan gencarnya mencari makna hidup.

Berdasarkan tulisan hbr.org, quarter life crisis terjadi dalam beberapa tahap. Tahapan awal dimulai dengan munculnya perasaan terpenjara pada komitmen di tempat kerja maupun di rumah. Pada tahap ini, orang-orang yang bekerja, menyewa apartemen, dan menjalin hubungan merasa terjebak dalam kondisi ‘pura-pura dewasa’. Kemudian saat berada di titik tertentu, mereka meninggalkan pekerjaan, pasangan hingga kelompok sosial mereka, dan memilih untuk menyendiri.

Pada proses isolasi diri ini, orang tadi memanfaatkan kesendiriannya untuk merefleksikan dan mengkalibrasi ulang rencana kehidupannya. Hal itu dilakukan secara sendirian dan terisolasi sampai akhirnya orang itu keluar dan mengeksplorasi hobi, minat, serta kelompok sosial baru. Setelah itu, masuk ke sisi lain dari krisis ini, di mana orang tadi merasa lebih bahagia, termotivasi, dan makna kehidupannya lebih terarah dengan jelas.

Namun, mengalami quarter life crisis bukanlah suatu hal yang buruk. Caroline Beaton dalam psychologytoday.com menjelaskan bahwa krisis ini dapat menjadi pengingat bahwa tidak ada yang permanen di dunia dan hal yang bisa kita lakukan hanyalah terus berusaha.

 

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Foto: Caroline Saskia

Sumber: firstdirect.com, collinsdictionary.com, themuse.com, kumparan.com, theguardian.com, hbr.org, psychologytoday.com