SERPONG, ULTIMAGZ.com – Saat ini, perubahan iklim mengakibatkan perubahan pola cuaca. Terlihat dari musim kemarau yang berkepanjangan, banjir ekstrim di berbagai daerah, dan curah hujan yang semakin tinggi.
Hal ini membuat berbagai negara, salah satunya Indonesia berinovasi mengenai energi terbarukan. Upaya mitigasi energi terbarukan menjadi salah satu pilihan untuk membantu beradaptasi dengan perubahan iklim.
Inovasi ini berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 7, yakni energi bersih dan terjangkau. Poin ini memiliki tujuan untuk memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua.
Energi terbarukan semakin populer di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Indonesia menjadi negara yang berpeluang besar untuk mengembangkan energi ini. Namun, pelaksanaanya masih jauh dari yang ditargetkan.
Hal ini terlihat dari data Institute for Essential Services Reform (IESR) tahun 2019, Indonesia memiliki potensi sebesar 431.745 MW. Namun, data juga menyebutkan kapasitas yang terpasang baru 6.830 MW.
Mengutip dari tirto.id, sumber energi terbarukan adalah sumber energi yang bisa diadaur ulang, dan dapat diperbarui serta terdapat dalam jumlah yang banyak. Hadirnya inovasi ini menjadi harapan besar untuk mengurangi pemanasan global dan permasalahan bumi.
Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan (METI) Surya Darma, energi terbarukan merupakan harapan dalam transisi energi di dunia.
“Saat ini peran energi terbarukan baru mencapai sekitar 10 persen. Ini berarti terdapat peluang pemanfaatan yang sangat besar untuk energi terbarukan dan bisnis yang terkait dengannya,” jelas Surya dilansir dari medcomm.id.
Founder Forbetric Siti Farah Mutia menjelaskan hadirnya renewable energy memiliki dampak positif. Sumber daya alam akan selalu tersedia, seperti matahari, angin, air. Energi terbarukan juga terkenal karena ramah lingkungan, dan mudah untuk memperolehnya seperti sinar matahari yang selalu ada di siang hari.
Namun, energi terbarukan yang masih dikembangkan menjadi tantangan tersendiri terutama bagi generasi muda karena merekalah yang harus mengadopsi sumber-sumber daya alternatif. Menurut Farah, salah satu permasalahannya adalah penyimpanan sumber daya matahari ketika malam hari.
“Sistem storage (penyimpanan) ini bergantung sama keadan alam. Ini masih dalam proses pengembangan dan menjadi salah satu challenge ke depannya,” jelas Farah dalam wawancara, Rabu (25/05/21).

Kondisi yang bergantung pada alam membuat munculnya risiko negatif. Tetapi, semua permasalahan akan ada solusi jika masyarakat berusaha untuk terus menggunakan sumber daya ini.
Menurut Farah, sektor energi terbarukan akan terus tumbuh seiring waktu berjalan. Bahkan, isu ini sudah menjadi perhatian bagi seluruh orang di dunia. Beberapa negara mulai mengembangkan sektor energi terbarukan dan pemerintah Indonesia menargetkan 23% kebutuhan nasional terpenuh melalui energi terbarukan pada 2023.
“Sudah menjadi tren bahwa dunia akan beralih dari energi yang akan lebih efisien dan ramah lingkungan, dan hal ini merupakan karakteristik energi yang akan dicari oleh orang-orang di masa depan,” lanjut Farah.
Di masa ini, Indonesia membutuhkan generasi muda yang cerdas iklim untuk membantu upaya mitigasi. Hal ini karena generasi muda yang paling merasakan dampak laju perubahan iklim yang terus meningkat.
Banyak hal yang bisa dilakukan generasi muda untuk mendukung energi terbarukan. Farah menjelaskan sikap skeptis terhadap isu energi terbarukan menjadi awal dari sikap generasi muda. Mulai menambah wawasan mengenai energi terbarukan dengan membaca dan menyadari bahwa manusia perlu energi terbarukan untuk hidup di masa sekarang.
Sikap kontribusi juga diperlukan. Speak up melalui dunia digital adalah hal kecil yang bisa dilakukan. Generasi milenial yang tertarik bisa berkolaborasi dengan teman-temannya untuk mendukung energi terbarukan. Menurutnya, organisasi yang berbasis energi terbarukan masih kurang adanya ekosistem.
“Adanya generasi muda yang peduli akan memudahkan terbentuknya ekosistem, jadi kita bisa saling support, sharing ide, bahkan siapa tahu bisa kolaborasi bisnis,” jelas Farah.
Di masa mendatang, inisiatif untuk memiliki rumah yang memanfaatkan energi terbarukan juga bisa dilakukan generasi muda. Salah satunya adalah penggunaan energi listrik dari panel surya.
“Kedepannya pasti bakal lebih banyak orang yang menggunakan energi terbarukan, hopefully kita salah satunya yang ikut berkontribusi,” ujar Farah.
Jika dikaitkan dengan SDGs, energi terbarukan membantu efisiensi energi dan pemanasan global terutama yang ada di Indonesia. Hal ini juga sesuai dengan target SDGs yakni meningkatkan secara substantif proporsi energi terbarukan dalam energi campuran global pada 2030.
Penting untuk menciptakan efisiensi energi, baik di saat ini ataupun masa depan. Maka dari itu, generasi muda menjadi harapan besar untuk menerapkan energi terbarukan. Mulai dari hal kecil hingga besar semua bisa dilakukan, asalkan adanya usaha dan niat dari individu tersebut.
Bagaimana Ultimates? Mulailah untuk membuka mata mengenai isu yang sudah cukup lama dibahas ini. Coba untuk berkontribusi demi energi terbarukan yang lebih terjangkau karena generasi muda memiliki peran besar untuk mengembangkannya.
Penulis: Maria Katarina
Editor: Xena Olivia, Andi Annisa Ivana Putri, Maria Helen Oktavia
Foto: Androw Parama