Representasi Budaya Campur Aduk dalam “Raya and The Last Dragon”

Representasi Budaya Raya and The Last Dragon
Poster film "Raya and The Last Dragon" (Foto: newsmaker.tribunnews.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Disney merilis trailer film terbarunya, “Raya and The Last Dragon” pada Rabu, 21 Oktober 2020. Ada berbagai macam reaksi yang muncul di media sosial, tetapi salah satu yang ramai diperbincangkan adalah representasi budaya dalam video dua menit itu.

Film Disney Pertama yang Terinspirasi Budaya Asia Tenggara

Produser “Raya and The Last Dragon” mengungkapkan film ini sebagai film pertama yang terinspirasi budaya Asia Tenggara pertama dalam sejarah Disney saat pertama kali diumumkan pada D23 Expo 2019 di California. Ia menambahkan bahwa dalam proses pembuatannya, ada riset secara langsung di Kamboja, Laos, Thailand, Vietnam, Singapura, Indonesia, dan Filipina. Pernyataan ini tentu membangun harapan tinggi dari penggemar yang berasal dari daerah tersebut.

Kekecewaan Penggemar

Trailer akhirnya dirilis setahun kemudian, tetapi ternyata tidak sesuai ekspektasi. Kekecewaan penggemar Asia Tenggara banyak dilontarkan di media sosial. Banyak yang merasa bahwa budaya dari berbagai macam negara ini sudah terlalu dicampur aduk dalam “Raya and The Last Dragon”, sehingga tidak terasa representasinya.

“Aku tidak mengerti kenapa mereka tidak bisa memilih satu (1) budaya Asia Tenggara sebagai inspirasi film ini dan mempertahankannya. Sebagai gantinya, sebuah campuran aneh yang tidak begitu merepresentasikan… siapa pun…? Apakah semua budaya Asia Tenggara bisa ditukar atau…?” cuit pengguna twitter @monwinvo.

“Aku pikir Raya secara keseluruhan bukan masalahnya- melainkan kenyataan bahwa mereka menggunakan budaya Asia Tenggara sebagai titik awal, tetapi juga melemahkannya, untuk menyesuaikan dengan standar tertentu bagaimana Asia Tenggara terlihat di mata orang Barat, itu sangat mengangguku. Aku tahu kita tidak terlihat sesederhana itu…”

Selain dari budaya yang bercampur, desain dalam “Raya and The Last Dragon” juga sempat menjadi sorotan. Misalnya, desain naga dibandingkan oleh pengguna twitter @cousineggplant naga yang biasa dijumpai dalam mitos Asia Tenggara.

Representasi “Raya and The Last Dragon”

Trailer “Raya and The Last Dragon” sudah memberikan penggemar cuplikan animasi indah dan konsep cerita yang menarik. Namun, tetap saja, Disney masih kurang dalam representasi budaya yang begitu mereka banggakan bagi film ini.

Dalam film “Mulan”, mereka menggunakan budaya Tionghoa dan fokus ke dalam bagian itu saja. Film tersebut pun dianggap luas sebagai representasi Asia dari Disney. Lantas, untuk “Raya and The Last Dragon” mereka bisa melakukan hal yang sama.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Disney adalah studio yang sudah memiliki nama besar dengan standar yang tinggi pula, bahkan menjadi standar untuk film animasi yang lain. Apabila dari studio ini sudah ada yang janggal, film lain representasi dengan representasi akurat akan sulit masuk ke dalam panggung karena dibandingkan dengan Disney.

Pada akhirnya, “Raya and The Last Dragon” layak diantisipasi dan nantinya dinikmati. Namun, belum sesuai jika ingin mencari representasi budaya Asia Tenggara dalam film animasi Disney.

Hal yang serupa dicuitkan oleh penulis Xiran Jay Zhao melalui akun twitternya.

“Tentunya orang-orang boleh mengantisipasi #RayaAndTheLastDragon, tetapi aku tidak ingin semua orang menepuk pundak Disney yang memberikan representasi yang sangat umum dalam representasi Asia Tenggara supaya bisa menuruti audiens yang lebih luas. Mereka tidak akan berubah tanpa tekanan kritikan.”

Penulis: Nadia Indrawinata, Jurnalistik 2019

Editor: Xena Olivia

Sumber: channelnewsasia.com, hollywoodreporter.com, twitter.com

Foto: newsmaker.tribunnews.com