Serpong, ULTIMAGZ.com – Istilah tone deaf akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan di media sosial. Dalam berbagai perbincangan warganet, kata ini mengarah kepada pihak-pihak tertentu. Lalu, apa sebenarnya arti dari tone deaf itu sendiri?
Melansir dari medcom.id, istilah ini pertama kali muncul pada 1890-an dan berasal dari dua kata berbeda. Kata tone yang artinya nada dan deaf yang berarti tidak dapat mendengar sebagian suara. Kemudian, tone deaf mengacu pada pemahaman soal tuli nada karena kata ini umum digunakan dalam dunia musik.
Baca juga: Atasi Bau Ketiak, Simak Sejarah Deodoran dan Alternatifnya
Akan tetapi, saat ini tone deaf lebih banyak dipakai orang untuk menjelaskan ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Dilansir dari cnnindonesia.com, kata tersebut sudah menjadi label untuk orang-orang yang melakukan hal-hal tanpa mau tahu soal apapun.
Secara umum, orang-orang yang memiliki sikap ini dapat dikenali dengan berbagai ciri. Mereka sulit membaca situasi di sekitar, tidak peka dengan perasaan orang lain, tidak mampu memahami adat istiadat yang berbeda, dan kurang mengerti norma sosial yang berlaku, sebagaimana dilansir dari hellosehat.com. Kemudian, melansir dari liputan6.com, orang-orang tone deaf cenderung melakukan aksi yang tidak sesuai dengan situasi yang berlangsung.
Lalu, tone deaf juga memiliki dampak buruk kepada siapapun yang lekat dengan sikap ini. Orang dengan label tone deaf akan lebih sering terlibat konflik, sulit menerima masukan, dan dijauhi banyak orang di sekitar. Tidak hanya itu, mereka juga akan kehilangan kesempatan dan kekurangan dukungan emosional terhadap peristiwa yang sedang terjadi di lingkungannya.
Baca juga: Mengenal Nenek Reza Rahadian, Francisca Casparina Fanggidaej yang Ternyata Tokoh Sejarah Indonesia
Kendati demikian, sikap ini juga dapat diatasi dengan berbagai cara. Sebagaimana dilansir dari kompas.com, menjaga pertemanan yang positif dan pikiran yang terbuka terhadap sekitar dapat menjadi solusi. Selain itu, sikap mau menerima umpan balik (feedback) dan memeriksa hal-hal yang ingin disampaikan menjadi cara lain yang dapat dilakukan untuk menghindari sikap tone deaf.
Tone deaf menjadi tantangan tersendiri bagi siapapun yang memiliki sikap ini. Tidak hanya dapat merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain.Meski demikian, dengan adanya niat untuk lebih peka dan terbuka dengan lingkungan sekitar, sikap ini pun dapat diatasi dengan baik.
Penulis: Michael Ludovico
Editor: Mianda Florentina
Foto: freepik.com
Sumber: medcom.id, cnnindonesia.com, hellosehat.com, liputan6.com, kompas.com