SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pernahkah Ultimates mendengar istilah whitewashing? Istilah tersebut merujuk pada suatu bentuk diskriminasi ras dan supremasi kulit putih dalam film Hollywood.
Menurut buku “Undercover Asian: Multiracial Asian Americans in Visual Culture” oleh LeiLani Nishime yang dirilis pada 2014, whitewashing adalah penggantian dan penghapusan karakter non kulit putih dengan karakter kulit putih dalam perfilman Hollywood, dilansir kincir.com. Jika ditarik ke belakang, fenomena whitewashing tentunya terikat dengan sejarah kelam rasisme yang pernah terjadi di Negeri Paman Sam.
Baca juga: The Wilhelm Scream: Teriakan Ikonik dalam Dunia Perfilman
Pada awalnya, rasisme terjadi di masa kolonialisme bangsa Eropa dengan cara memperbudak masyarakat non kulit putih. Hal ini kemudian bertambah parah dengan kehadiran kelompok protestan berkulit putih White Anglo-Saxon Protestan (WASP) yang menyatakan ras kulit putih lebih superior dibandingkan dengan ras lainnya.
Hal ini membuat banyak bercak ketidakadilan di Amerika Serikat (AS) dalam berbagai macam bentuk, seperti kekerasan verbal dan non verbal terhadap orang-orang non kulit putih. Bahkan, AS mengeluarkan suatu hukum untuk melarang tindak diskriminasi ras, yaitu Civil Rights Act yang disahkan pada 1964. Namun, nyatanya diskriminasi ras terselubung masih kerap terlihat di berbagai kesempatan, termasuk whitewashing di industri perfilman Hollywood.
Salah satu contoh fenomena ini terlihat pada “Wanted” (2008), suatu film adaptasi berdasarkan buku komik dengan judul yang sama. Dalam komik aslinya, Fox yang merupakan tokoh utama, digambarkan memiliki kulit hitam. Namun, Universal Pictures sebagai rumah produksi film tersebut justru memilih Angelina Jolie sebagai Fox. Ketidakselarasan ini juga berujung pada perubahan naskah “Wanted” agar tokoh Fox bisa disesuaikan dengan Angelina Jolie.

Selang setahun, kejadian serupa juga terjadi pada “Dragon Ball Evolution” (2009). Tokoh utamanya yang bernama Goku aslinya adalah orang Jepang. Alih-alih menggunakan aktor dari ras yang sesuai, karakter Goku justru diperankan oleh aktor Kanada dengan memakai riasan dan wig untuk menyerupai orang Jepang.

Seiring berjalanya waktu, fenomena whitewashing tidak hanya dirasakan oleh para aktor, tetapi juga oleh para penggemar setia perfilman Hollywood. Whitewashing membawa gejolak demonstrasi dan pertentangan yang menuntut perubahan progresif dari para pembuat film.
Amerika Mulai Melek Keberagaman
Perubahan progresif yang dilakukan industri perfilman Hollywood adalah dengan menghadirkan keberagaman. Sebab, fenomena whitewashing yang terjadi mengakibatkan penurunan penonton dan pendapatan industri perfilman.
Keberagaman di industri perfilman terlihat sejak “Bad Boys” (1995) yang diperankan oleh dua aktor ras kulit hitam, Will Smith dan Martin Lawrence. Kehadiran film bergenre aksi ini disambut hangat oleh penonton dari berbagai kalangan sehingga membuat popularitas “Bad Boys” meningkat signifikan.
Baca juga: Tengah Ramai, Mari Lihat Empat Ciri Khas Film Wes Anderson
Keberagaman perfilman Hollywood disusul dengan film produksi Marvel Studios yang memiliki dua tokoh superhero ras kulit hitam, yaitu “Blade” (1998) dan “Black Panther” (2018). Kehadiran dua film itu pun berhasil mengantongi pemasukan lebih dari 1 miliar dollar AS, memperlihatkan dukungan masyarakat untuk menunjukkan keberagaman dalam film.
Selain itu, keberagaman juga kini mulai terlihat dengan penggunaan aktor yang sesuai untuk film superhero Asia, seperti “Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings” (2021) dan “Mulan” (2020). Maka dari itu, keberagaman ini juga berdampak bagi para aktor dan penonton yang saat ini lebih bebas dalam mengekspresikan diri lewat film.
Penulis: Mianda Florentina
Editor: Cheryl Natalia
Sumber: theunitedmagazine.com, bbc.com, theguardian.com, kincir.com, imdb.com
Foto: Unsplash/Nooa