SERPONG, ULTIMAGZ.com – Björn Andrésen, seorang aktor yang dikenal melalui film klasik karya Luchino Visconti, Death in Venice (1971). Namun, sedikit yang menyadari bahwa aktor asal Swedia ini adalah sosok di balik standar ketampanan androgini yang mendominasi industri Jepang selama lebih dari lima dekade.
Melansir nytimes.com, ketika Death in Venice (1971) dirilis, penampilan Andrésen sebagai Tadzio, dengan rambut pirang bergelombang dan fitur wajah yang halus, memikat publik Jepang. Pada awal 1970-an, ia mengunjungi Jepang untuk merekam beberapa lagu pop dan membintangi iklan televisi. Kunjungannya memicu histeria massa yang luar biasa, tetapi pengaruh yang paling mendalam justru terjadi di meja gambar para seniman manga.
Baca juga: Empat Tahun Hiatus, Ini Alasan Alysa Liu Kembali ke Dunia Seluncur Indah
Sebelum kehadiran Andrésen, karakter laki-laki dalam manga cenderung digambarkan dengan fitur yang sangat maskulin. Namun, para mangaka dari Year 24 Group (kelompok seniman perempuan revolusioner tahun 70-an) seperti Keiko Takemiya dan Moto Hagio, melihat Andrésen sebagai sebuah kecantikan baru yang melampaui gender, melansir yokogaomag.com.
Andrésen memberikan inspirasi untuk wajah pada konsep tragic beauty. Mata birunya yang tampak sedih dan postur tubuhnya yang ideal menjadi blueprint bagi hampir semua protagonis dalam genre Shoujo (manga untuk remaja perempuan).
Pengaruhnya tidak berhenti di tahun 1970-an. Wajah dan gayanya menginspirasi banyak karakter terkenal, seperti Lady Oscar dalam Rose of Versailles, Julius dalam Orpheus no Mado, dan Gilbert dalam Kaze to Ki no Uta. Ia membentuk gaya baru, bahwa kekuatan tidak harus terlihat dari tubuh yang berotot, tetapi bisa terlihat dari keanggunan seseorang.
Andrésen menghembuskan napas terakhir pada 25 Oktober 2025 di Stockholm, usia 70 tahun. Putrinya, Robine Roman, mengonfirmasi kepada media Swedia bahwa penyebabnya adalah kanker saat dirawat di rumah sakit.
Baca juga: Dari Wasteland ke Icon: Brent Faiyaz, Sonik, dan Konsep Baru
Dalam dokumenter The Most Beautiful Boy in the World (2021), Andrésen mengungkapkan bagaimana popularitas instan dan objektifikasi di Jepang sangat membebani hidupnya. Meski bagi Andrésen itu adalah masa yang sulit, bagi dunia seni, wajahnya telah membuka pintu bagi eksplorasi estetika yang lebih luas di Jepang. Penasaran akan kisah seorang Bjorn Andrésen? Ultimates dapat menonton trailer dokumentasi The Most Beautiful Boy in the World di bawah ini.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Kezia Laurencia
Foto: ocenews.it
Sumber: nytimes.com, yokogaomag.com.





