SERPONG, ULTIMAGZ .com – Introver dan ekstrover menjadi dua label yang paling sering ditemui dalam percakapan sehari-hari dan media sosial. Mulai dari unggahan jenaka tentang “penderitaan” seorang introver di sebuah pesta hingga video motivasi yang memuja karisma seorang ekstrover. Ungkapan ini seolah-olah menjadi kotak untuk mengelompokkan kepribadian manusia.
Sebelum istilah ini menjadi komoditas digital, psikiater asal Swiss, Carl Gustav Jung, telah menjelaskan landasan teori yang dalam dan kompleks. Carl Gustav Jung (1875-1961) merupakan seorang psikiater analitis dan rekan dekat Sigmund Freud yang dikenal sebagai bapak psikoanalisis, dilansir dari britannica.com .
Baca juga: Skizofrenia: Memahami Realitas di Balik Stigma dan Mitos
Pada 1913 perbedaan pandangan mengenai energi psikis dan ketidaksadaran akhirnya menyebabkan perpisahan permanen kedua ahli. Setelah berpisah, Jung mendedikasikan waktunya untuk membedakan cara manusia memproses pengalaman hidup dan menerbitkan karya bertajuk Psychological Types . Dalam buku ini, Jung memperkenalkan konsep introver dan ekstrover sebagai arah orientasi energi psikologis manusia, dilansir dari Simplypsychology.org.
Melansir verywellmind.com , Jung ingin menegaskan bahwa setiap individu memiliki cara unik dalam beradaptasi dengan kenyataan. Perbedaan mendasar antara kedua tipe tersebut terletak pada arah energi psikis seseorang yang mengalir pada suatu subjek dan objek.
Introver mengarahkan energinya ke dalam diri mereka, mereka merasa paling hidup saat memproses ide, emosi, dan refleksi subjektif. Bagi individu ini, kesunyian adalah ruang untuk memulihkan energi setelah berinteraksi dengan dunia luar yang seringkali menguras tenaga. Sebaliknya, seorang ekstrover menganggap dunia luar sebagai sumber energi utamanya, energi mereka justru akan meningkat saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Introver memproses dunia secara mendalam sebelum bertindak dan ekstrover memahami kenyataan melalui timbal balik dari orang lain. Bagi ekstrover, stimulasi eksternal penting untuk mencegah rasa jenuh dan hampa yang mungkin muncul dalam isolasi.
Baca juga: Pembusukan Ranjang, Perawatan Diri Lewat Tidur Ala Gen Z
Dari pandangan Carl Gustav Jung, Ultimates mengetahui bahwa introver dan ekstrover merupakan sebuah penggolongan kepribadian yang dinamis. Jung juga mengatakan bahwa tidak ada individu yang sepenuhnya murni seorang introver atau ekstrover karena keduanya saling melengkapi. Dengan mengetahui arah energi tersebut, manusia dapat mengenali cara membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri ataupun orang lain, dilansir dariverywellmind.com .
Pahami bahwa setiap orang memiliki porsi unik dari kedua tren tersebut sehingga bisa menjadi langkah awal untuk membangun empati. Konsep arah energi ini dapat dijadikan panduan untuk membimbing Ultimates menuju kehidupan sosial yang seimbang dan autentik.
Penulis: Jemima Anasya R.
Editor: Kezia Laurensia
Foto: Freepik
Sumber: Britannica.com, Simplypsychology.com, Verywellmind.com.




