SERPONG, ULTIMAGZ.com – Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) adalah nama yang pernah diucapkan dengan penuh harapan oleh ribuan buruh batik dan petani perempuan di pelosok desa. Di tengah pasca-kemerdekaan, organisasi ini hadir sebagai simbol keberanian untuk menuntut pendidikan dan keadilan bagi perempuan. Namun, perjalanan Gerwani menyimpan kisah kelam tentang gerakan kontroversial dan perdebatan panjang dalam ingatan sejarah Indonesia.
Gerakan Wanita indonesia berakar dari semangat perlawanan pasca-kemerdekaan yang secara resmi terbentuk pada Juni 1950. Organisasi ini merupakan hasil penggabungan beberapa organisasi perempuan progresif. Gerwani hadir di tengah suasana politik Indonesia yang sedang mencari identitas nasional dengan visi melampaui urusan domestik. Mereka percaya bahwa kemerdekaan sejati hanya bisa dicapai jika perempuan memiliki hak penuh atas nasibnya sendiri.
Baca juga: Theresa Kachindamoto: Kepala Suku yang Membatalkan Ribuan Pernikahan Dini
Salah satu perjuangan Gerwani adalah tuntutan terhadap Undang-Undang Perkawinan untuk menghapus praktik poligami yang sewenang-wenang dan pernikahan anak di bawah umur. Gerwani juga aktif mendirikan ribuan balai penitipan anak dan sekolah rakyat (TK Melati) untuk mendukung kemandirian ekonomi ibu bekerja. Tidak lupa dengan perjuangan Gerwani yang mengadvokasi hak-hak maternitas (cuti hamil) bagi buruh perempuan dan upah yang setara dengan laki-laki, dilansir dari bbc.com.
Akan tetapi, mimpi besar mengenai kesetaraan ini runtuh seketika pada 1 Oktober 1965, saat tragedi Gerakan 30 September (G30S) menyeret nama Gerwani ke dalam pusaran konflik politik. Meski bukti-bukti sejarah banyak diperdebatkan, Gerwani dituduh terlibat dalam penyiksaan para jenderal di Lubang Buaya. Tuduhan ini membuat kantor-kantor mereka dihancurkan dan ribuan anggotanya ditangkap tanpa proses pengadilan.
Pasca 1965, narasi gelap sengaja dikonstruksi melalui propaganda masif di era Orde Baru untuk menghilangkan jejak Gerwani. Film-film dan narasi sejarah resmi menggambarkan mereka sebagai sosok “setan perempuan” yang melakukan tarian provokatif di Lubang Buaya, dilansir dari nationalgeographic.grid.id.
Baca juga: Women’s Day Off: Ketika Semua Perempuan Berhenti Bekerja
Seiring tumbangnya rezim Orde Baru, narasi kekerasan di Lubang Buaya baru disadari sebagai konstruksi politik untuk menghancurkan gerakan perempuan progresif. Kesadaran ini muncul ketika sejarawan dan aktivis kemanusiaan mulai meninjau ulang peran organisasi ini secara objektif. Melalui wawancara dengan para penyintas yang masih hidup dan penelusuran dokumen, upaya reinterpretasi ini bermaksud sebagai bentuk pemulihan martabat anggota Gerwani, dilansir dari detik.com.
Meski Gerwani telah dibubarkan, percikan semangat yang pernah mereka bangun masih relevan dengan isu perempuan masa kini. Sejarah Gerwani memberi Ultimates pelajaran berharga bahwa gerakan perempuan memiliki kekuatan besar untuk mengubah struktur sosial. Namun, sejarah juga menegaskan bahwa gerakan sosial ini rentan menjadi sasaran serangan politik ketika tidak ada perlindungan terhadap hak asasi manusia yang kuat.
Penulis: Jemima Anasya R.
Editor: Celine Valleri
Foto: bbc.com
Sumber: bbc.com, nationalgeographic.grid.id, detik.com.




