• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Thursday, May 21, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Iptek

Taliban dan Hilangnya Hak Perempuan di Afghanistan

Jemima Anasya Rachman by Jemima Anasya Rachman
May 21, 2026
in Iptek, Perempuan, Politik
Reading Time: 2 mins read
taliban

Potret keadaan perempuan-perempuan di Afghanistan. (bb.com)

0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Taliban membawa sunyi mencekam di Kabul, Afghanistan, hingga kursi kayu di ruang kelas kini kosong. Harapan siswi Afghanistan terkunci rapat di balik pintu rumah, dunia mereka terbatas pada bingkai jendela kecil. Bagi jutaan perempuan Afghanistan, kebebasan yang awalnya adalah hak dasar, berubah menjadi kemewahan yang mustahil digapai. Sementara itu, ketakutan perlahan tumbuh dalam diri mereka hingga menjadi bagian dari rutinitas harian yang menyesakkan.

Setelah penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2021, Taliban kembali mendapat kekuasaan di Afghanistan dan memicu transformasi yang meruntuhkan tatanan hak asasi manusia. Meski di awal kemunculannya sempat menjanjikan pemerintahan inklusif, kenyataannya mereka malah menunjukkan pola penindasan terutama pada ruang gerak perempuan. Kondisi ini pun memicu kekhawatiran dari dunia internasional. United Nations (UN) menyebut situasi Taliban sebagai bentuk pengabaian hak dasar manusia, dilansir dari voaindonesia.com.

Baca juga: Buruh Garmen Perempuan: Jahitan dan Kisah yang Terpinggirkan

Penghapusan Hak Pendidikan

Taliban telah merampas hak pendidikan kaum perempuan di Afghanistan dengan melarang anak perempuan menempuh pendidikan menengah hingga universitas. Pendidikan yang seharusnya menjadi simbol harapan dan kemajuan bangsa berubah menjadi aspirasi terlarang yang memunculkan keputusasaan. UNESCO mencatat bahwa sekitar 1,4 juta perempuan Afghanistan (anak-anak dan dewasa) kehilangan akses terhadap pendidikan menengah dan universitas, dilansir dari dw.com.

Pengekangan Aktivitas Sosial

Ruang publik perempuan Afghanistan mulai dihapus melalui beberapa rangkaian aturan yang seperti larangan perempuan bepergian jauh tanpa pendamping laki-laki. Selain itu, akses untuk bekerja di lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan sektor publik juga semakin dipersempit,dilansir dari bbc.com.

Baca juga: Prabowo Hadiri May Day di Monas: Tekankan Hak-Hak Buruh

Pemerintah Taliban juga meresmikan Undang-Undang Kebajikan dan Pencegahan Maksiat di Afghanistan. Aturan baru yang terdiri dari 35 pasal ini melarang perempuan untuk mengemukakan suara di depan umum karena suara mereka dianggap sebagai aurat. Perempuan juga diwajibkan menutup seluruh tubuh dan wajah dengan pakaian tebal saat berada di luar rumah untuk menghindari godaan. Penerapan peraturan ini diawasi ketat oleh polisi moral yang memiliki wewenang untuk menangkap atau memberikan sanksi bagi pelanggarnya. 

Kondisi perempuan di Afghanistan merupakan potret nyata dari sebuah kebebasan yang dirampas secara sistematis. Terbatasnya interaksi sosial dan ketatnya pengawasan di ruang terbuka membuat keberadaan mereka seolah tak tampak. Meski dunia terus bergerak maju, jutaan perempuan di bawah kuasa Taliban masih harus berjuang dalam kesunyian untuk mempertahankan martabat. Harapan kini digantungkan pada keteguhan hati dan perhatian dunia yang tidak boleh berpaling. 

 

 

Penulis: Jemima Anasya R.

Editor: Celine Valleri

Foto: afghanistan-analyst.org

Sumber: voaindonesia.com, dw.com, bbsc.com.

 

Tags: Aktivis Perempuandiskriminasi perempuangender equalitygender equitygender inequalitygendered double standardsgenerasi melek politikgerak perempuangerakan perempuangrup perempuanhak perempuanhari anti kekerasan perempuanisu genderIsu Perempuankeadilan genderkeamanan perempuankebijakan politikkekerasankekerasan pada perempuankesetaraan genderkesetaran genderketidaksetaraan genderPartisipasi Politik Anak Mudaperempuan politikpersamaan genderstandar ganda berbasis gender
Jemima Anasya Rachman

Jemima Anasya Rachman

Related Posts

buruh
Iptek

Buruh Garmen Perempuan: Jahitan dan Kisah yang Terpinggirkan

May 9, 2026
Kode busana Met Gala 2026. (Vogue)
Hiburan

“Fashion is Art”: Ketika Met Gala 2026 Gunakan Pakaian sebagai Kanvas

May 6, 2026
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Jumat (01/05/2026). [foto id="384"]
Event

Prabowo Hadiri May Day di Monas: Tekankan Hak-Hak Buruh

May 2, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen − 13 =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021