SERPONG, ULTIMAGZ.com – Teater KataK kembali menyelenggarakan pementasan besar (penbes) ke-79 dengan judul “The Legend of White Snake” di Gedung Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada Sabtu (30/05/2026). KataK melakukan pementasan sebanyak dua kali yakni pukul 13.00 dan 19.00.
Cerita yang dibawa pada penbes kali ini adalah adaptasi kisah legenda klasik dari Negeri Tiongkok. Berkisah tentang Bái Sùzhēn, sang siluman ular putih yang jatuh cinta dengan seorang apoteker bernama Hán Wén. Kisah cinta mereka harus terhalangi oleh takdir dan perbedaan dunia sehingga tidak bisa hidup bersama.
Baca juga: Mengenal Spontanitas dalam Teater: Seni Improvisasi
Selama tiga setengah jam dari setiap pementasan, para penonton diajak masuk ke dalam suasana kerajaan kolosal Tiongkok melalui detail-detail hanzi di properti dan kostum hanfu para pemain. Selain itu, setiap babak juga diiringi dengan alunan musik tradisional Tiongkok, membuat penonton seakan masuk ke dalam cerita tersebut. Tidak luput juga pada pencahayaan yang memberikan kesan dramatis pada adegan setiap pemain.

Ia juga menangkap pesan dari pementasan ini “Meskipun kamu sangat mencintai seseorang, kadang-kadang, takdir tidak akan membiarkanmu,” ungkap Brandon.
Senada dengan Brandon, Wendy setelah menonton menyukai adegan Li Gōng di apotek serta aksi akrobatik dari Xiao Qīng. “wow, dia orang keren banget,” ungkap Wendy.
Penbes “The Legend of White Snake” disutradarai oleh Carel Surya H. dan Handy Wijaya. Saat diwawancarai ULTIMAGZ, Carel mengungkapkan bahwa naskah penbes kali ini lahir dari latar belakang mereka sebagai keturunan Tionghoa. Namun, alasan itu juga dilengkapi dengan tipe kisah yang mereka sukai.
“Tipe (cerita) kita berdua adalah suka yang kolosal, legenda, (kemudian) itu cerita yang mungkin orang udah tau gitu. Kita ada beberapa pilihan naskah dan kebetulan yang kita dapat dan kita mencoba itu,” ungkap Carel kepada ULTIMAGZ pada Sabtu (30/05/2026).
Carel juga mengaku bahwa, untuk sebagian penonton, pesan cerita sulit dipahami. Namun ia menekankan cerita ini fokus pada nilai pengorbanan.
“Ya, balik lagi, semuanya pasti butuh pengorbanan. Dan setiap pengorbanan itu, percayalah pasti akan ada sesuatu yang pasti ada hasilnya. Walaupun kita gak tahu hasilnya apa,” ujar Carel.
Kemudian, Carel mengungkapkan kebanggaannya terhadap tiap pemain yang telah berproses sejak Januari. Ia mengungkapkan bahwa setiap karakter punya ciri khas dan kesulitannya masing-masing, tetapi ia mengaku Xiao Qīng paling menunjukkan kompleksitas karakter.
“Kalau aku lihat dari kesulitan permainan karakternya, karakter Xiao Qīng, itu punya tiga kesulitan yang (dihadapi). Dia harus mainin anak-anak, mainin karakter adik, tapi di satu sisi dia harus mainin karakter yang setia dengan kakaknya, di mana mereka berdua itu sebenarnya bukan kakak beradik kandung,” ujar Carel.
Baca juga: Teater Gandrik Akan Pentaskan Lakon Horor dan Jenaka “Para Pensiunan: 2049”
Sebagai penutup Carel turut mengungkapkan harapan bagi pementasan besar KataK selanjutnya. Ia percaya bahwa setiap penbes akan belajar dari pementasan sebelumnya.
“Tapi, aku cuma berharap siapapun sutradaranya, siapapun tim produksinya, mereka pasti bisa melakukan yang lebih baik lagi daripada yang sekarang,” pungkas Carel.
Penulis: Theresia Sekar Kinanti Deviatri
Editor: Reza Farwan
Fotografer: ULTIMAGZ/Putri C. Valentina




