SERPONG, ULTIMAGZ.COM – Hari terakhir myBCA International Java Jazz Festival 2026 menjadi puncak kemeriahan festival yang telah berlangsung selama tiga hari. Ribuan pengunjung kembali memadati NICE PIK 2 untuk menyaksikan deretan penampilan musisi lokal maupun internasional. Dari energi penuh semangat yang dibawa Slank, penampilan emosional Yura Yunita, hingga konser Daniel Caesar yang menjadi salah satu momen paling dinantikan sepanjang festival, malam penutupan Java Jazz 2026 berlangsung meriah hingga akhir.
Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian datang dari Slank. Meski telah puluhan tahun berada di industri musik Indonesia, energi mereka di atas panggung tetap terasa liar dan penuh semangat. Penampilan mereka dipenuhi nuansa punk dan alternatif yang langsung membakar suasana stadion.
Baca Juga: Jacob Collier Tampil Memukau di Java Jazz Festival 2025 Setelah 9 Tahun

Penonton Slank datang dari berbagai generasi. Banyak anak muda dan dewasa yang juga ikut memenuhi area konser dan bernyanyi bersama sepanjang penampilan berlangsung. Aksi mereka diawali dengan lagu “Bang Bang Tut”. Slank menyajikan setlist yang mengombinasikan deretan hit legendaris seperti “Tong Kosong” dan “Mawar Merah”.
Setelah suasana panas ala Slank, Yura Yunita membawa atmosfer yang lebih hangat dan emosional. Ia membuka penampilannya dengan “Duhai Sayangku” sebelum melanjutkan sejumlah lagu lain seperti “Harus Bahagia” dan “Dunia Tipu-Tipu”. Dengan gaun berkilau dan gaya khasnya yang enerjik, Yura berhasil membuat satu stadion ikut bernyanyi bersama.
Namun, puncak malam terakhir benar-benar terjadi ketika Daniel Caesar akhirnya naik ke atas panggung. Sejak sore, area myBCA Hall sudah dipenuhi penonton yang ingin menyaksikan penyanyi R&B asal Kanada tersebut. Bahkan, penampilannya menjadi salah satu konser dengan tiket paling cepat habis di Java Jazz tahun ini.
Musisi asal Kanada ini membawakan lagu-lagu hits, di antaranya “Always”, “Get You”, dan “Who Knows”. Daniel terlihat memainkan gitar akustiknya sambil bernyanyi di atas panggung, mengenakan kaos putih dan celana jeans sederhana.
Di luar deretan konser besar, Java Jazz 2026 juga menghadirkan banyak pengalaman interaktif yang membuat festival terasa lebih hidup. Salah satu yang menarik perhatian adalah penggunaan maggot untuk mengelola limbah makanan festival hingga diklaim mampu mengurangi sampah organik sampai 80%. Inisiatif ini menjadi salah satu langkah Java Jazz dalam menghadirkan festival yang lebih ramah lingkungan.
Area sponsor juga dipenuhi berbagai aktivitas interaktif. Salah satunya adalah Glambot, stan video dengan lengan robot yang memungkinkan pengunjung membuat video slo-mo layaknya berada di karpet merah. Stan tersebut ramai dipadati pengunjung yang ingin mengabadikan momen mereka selama festival berlangsung.
Selain itu, terdapat pula vending machine dari Jumpstart yang bekerja sama dengan Java Jazz. Pengunjung bisa mendapatkan berbagai hadiah merchandise gratis dengan mengikuti akun media sosial dan memainkan permainan di mesin tersebut.
Baca Juga: Nyoman Paul Debut di Java Jazz Festival 2025 dengan Album LUAP
Presiden Direktur Java Festival Production, Dewi Gontha, menyebut bahwa Java Jazz bukan hanya festival musik, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif dan pariwisata Indonesia yang terus berkembang setiap tahunnya. Pernyataan itu terasa relevan melihat bagaimana festival ini tidak hanya menghadirkan konser, tetapi juga mempertemukan komunitas, budaya populer, industri kreatif, hingga berbagai pengalaman hiburan dalam satu ruang besar yang sama.
Selama tiga hari, Java Jazz 2026 membuktikan bahwa festival ini masih memiliki daya tarik yang kuat di tengah perubahan tren musik dan hiburan. Dari penampilan intim hingga konser megah yang dipenuhi ribuan penonton, Java Jazz tetap menjadi ruang pertemuan bagi musik, nostalgia, dan pengalaman kolektif yang sulit dilupakan. Bagaimana Ultimates? Hari apa yang menurut kalian paling menarik?
Penulis: Belva Putri Paramitha
Editor: Kezia Laurencia
Foto: ULTIMAGZ/Tiffany Michiko Putri





