“From Me, To Me” Ajarkan Ketidakpedulian Terhadap Pandangan Orang Lain

Merayakan ulang tahun ke-6, Kompas Corner menggelar seminar mengenai “A Message For A Better Self” yang dihadiri oleh tiga narasumber (kiri-kanan), Henry Manampiring, Caecillia Dee dan Ian Hugen pada Jumat (03/05/19) di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN). (ULTIMAGZ/Felisitasya Manukbua)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Puncak acara ulang tahun ke-6 Kompas Corner Universitas Multimedia Nusantara (UMN) resmi ditutup dengan acara bertajuk “From Me, to Me” pada Jumat (03/05/19). Dengan mengangkat tema A Message for A Better Self, acara berupa conference talk dan talkshow ini turut dihadiri oleh tiga pembicara, yaitu Founder Get Happy Community Caecillia Dee, Content Creator dan Contemporary Artist Ian Hugen, dan penulis buku Filosofi Teras Henry Manampiring.

Secara garis besar, conference talk ini lebih berfokus kepada ketidakpedulian seseorang terhadap opini dan perkataan orang lain tentang kita. Mulai dari pandangan filsafat hingga pengalaman pembicara dengan aksi bullying, “From Me, to Me” mengajarkan kita untuk mencintai diri sendiri, atau yang dikenal dengan istilah self-love.

Dalam seminar ini, Henry membawa sebuah buku bertajuk “Accepting Life, Controlling Thoughts”. Ia menggunakan filsafat stoa untuk menjelaskan tentang orang yang menggantungkan kebahagiaan mereka pada hal-hal di luar kendali, salah satunya adalah orang lain.

Penulis paruh waktu ini menjelaskan bahwa orang tersebut tidak dapat dikendalikan oleh kita karena adanya nalar tersendiri. Dengan demikian, kitalah yang harus mengendalikan diri dari hal-hal di luar kendali kita untuk mencapai rasa bahagia.

Di sisi lain, Ian turut memberikan saran berupa pengandaian membalikkan gelas demi melihat pandangan yang berbeda. Menurutnya, perbedaan dalam diri kita bukanlah suatu kekurangan, melainkan keunikan. 

“Sama sekali enggak penting untuk mikirin apa yang orang lain pikirkan tentang kalian. Ada miliaran orang di dunia, lu mau bikin semua orang suka sama lu? Mustahil. Kalau lu ngerasa lu keren, ya udah lu keren,” tambahnya.

Sementara itu, Caecillia membahas mengenai self-esteem, konsep kebahagiaan, serta cara self-love. Pembahasannya ini terinspirasi oleh kehidupan pribadinya. Sempat mengalami depresi hingga tidak ingin keluar rumah, Caecillia mampu terdorong untuk menemui psikolog dan menciptakan konsep kebahagiaanya sendiri.

“Cara self-love adalah kita punya batasan yang sehat. Pertama, kita tidak melukai diri sendiri dan orang lain. Kedua, kita tidak merugikan diri sendiri dan orang lain,” pungkas Caecillia.

 

Penulis: Maytiska Omar 

Editor: Audrie Safira Maulana

Foto: Felisitasya Manukbua