Eksekusi Sarat Hambatan Panggung Demokrasi KPU UMN

Kedua pasangan calon BEM menjawab pertanyaan dari audiens dalam Panggung Demokrasi di kantin Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang Selatan, Rabu (30/10/19). (ULTIMAGZ/Rafaela Chandra)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Setelah tiga hari pelaksanaannya, Panggung Demokrasi 2019 sudah mengenalkan paslon organisator dari delapan organisasi kemahasiswaan. Namun, salah satu program Komisi Pemilihan Umum Universitas Multimedia Nusantara (KPU UMN) ini sarat hambatan dalam eksekusinya.

Panggung Demokrasi merupakan salah satu program dalam rangkaian bulan demokrasi yang dicanangkan KPU. Pada pelaksanaannya, kegiatan diisi oleh tanya jawab antara pembawa acara dengan para paslon. Ada pula kesempatan untuk mahasiswa/i berinteraksi secara langsung dengan paslon.

(Baca juga: Tanda Tanya Strategi Publikasi Debat Paslon Organisator)

Namun, upaya tanya jawab tersebut kerap terganggu lantaran hambatan-hambatan kala eksekusi. Salah satunya adalah pemilihan kantin sebagai panggung tanya jawab. Alih-alih menggalang awareness mahasiswa/i yang lalu lalang, kegiatan tanya jawab malah tak mendapat respon yang optimal dari pengunjung kantin.

Berdasarkan observasi Ultimagz, suara tanya jawab pada hari pertama dan kedua agak sulit didengar ketika memasuki jam makan siang. Hal tersebut dikarenakan ramainya pengunjung kantin yang membuat suasana kantin menjadi bising.

Selain itu, mahasiswa/i cenderung tak menggubris kegiatan tanya jawab yang tengah berlangsung. Terdapat beberapa penonton yang memang datang ke kantin untuk memberikan dukungan maupun sekadar menonton, tetapi jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan total keseluruhan pengunjung kantin. Lebih dari itu, mahasiswa/i cenderung lebih tertarik untuk menyantap makanan yang dibeli atau dibawa dari rumah.

“Pangdem (Panggung Demokrasi) dirasa kurang efektif karena waktu penyelenggaraannya saat jam makan siang. Jadi, mahasiswa yang sedang berada di kantin berfokus pada makan siang dan bukan pada Pangdem, sehingga saat paslon ngomong kasihan enggak ada yang dengerin,” ujar salah satu mahasiswi akuntasi UMN 2018, Novalina Puspasari Waeraruno yang mengikuti pangdem Himpunan Mahasiswa Akuntansi Universitas Multimedia Nusantara (HIMTARA). 

 

“Sound System” yang Kurang Memadai

Selain waktu dan lokasi yang dinilai kurang sesuai, terdapat gangguan pada sound system yang menghambat penyampaian informasi. Pengeras suara yang digunakan KPU UMN kala tanya jawab diatur menggunakan mixer tetap yang ada di kantin. Ini bukan kali pertama mixer tersebut mengalami disfungsi. Kerap kali suara yang dihasilkan tak begitu jernih bahkan cenderung terputus-putus.

Kualitas sound system yang kurang optimal dipadukan dengan kebisingan kantin di jam makan siang menghasilkan suara yang samar-samar bahkan cenderung tidak terdengar. Audio pun beberapa kali tak terdengar sama sekali lantaran suara yang terputus.

“Kadang ada sedikit-sedikit yang, ‘Hah? Dia nanya apa?’ Soalnya mic-nya itu tadi (mengalami masalah),” ujar Nova mengomentari permasalahan audio.

Sementara itu, salah satu mahasiswa Jurnalistik 2018, David Satya Putra menyarankan agar penyelenggaran Panggung Demokrasi berada di tempat yang tertutup agar suara para paslon lebih jelas terdengar.

“Sewa tempat, kayak di Lecture Hall, ngundang mahasiswa yang pada bener-bener pengen nyaksiin biar kedengarannya lebih jelas.”

Mengenai beberapa kendala tersebut, Ketua KPU UMN 2019 Joshua Nathanael menyadari rendahnya efektivitas pangdem yang dihelat di kantin setelah dua hari pelaksanaan.

“Untuk pemilihan tempat sendiri setelah pangdem berjalan kami merasa memang sedikit kurang efektif, di mana ada beberapa organisasi yang memang massanya sedikit sehingga yang mendengarkan pun sedikit. Tetapi untuk organisasi dengan massa yang banyak menurut kami pilihan kantin sudah tepat,” paparnya saat dihubungi melalui chat.

Akan tetapi, lokasi pangdem yang semula dihelat di panggung kantin kini telah dipindahkan ke tengah kantin semenjak pangdem hari ketiga. Menurut Koordinator General Affair KPU UMN Filbert Agrata Setiawan, pemindahan ini sebenarnya merupakan rencana awal KPU untuk menghelat pangdem di tengah kantin. Namun, ia mengakui bahwa mikrofon yang digunakan pada hari pertama dan kedua tidak memungkinkan untuk ditarik hingga tengah kantin.

 

Moderator Tidak Pas, Pertanyaan Tidak Pas

Kemampuan moderator dalam membawakan pangdem tahun ini menuai beberapa komentar dari mahasiswa. Sebut saja Olivia Sabat yang menilai nada bicara moderator terkesan tidak sesuai dengan konteks pertanyaan.

“Nada bicaranya kayak lagi marah-marah. Entah dia mau bangun suasana panas atau gimana, tapi kesannya malah jadi marah-marah,” tutur mahasiswi Jurnalistik 2017 tersebut.

Senada dengan Olivia, mahasiswi jurnalistik 2017 lainnya, Nissi Elizabeth mengatakan bahwa moderator terkesan kurang serius, seperti acara informal. Ia menyarankan agar moderator Panggung Demokrasi perlu melihat referensi moderator formal.

“Mungkin sudah latihan tapi masih kurang. Kalau moderator kan harusnya lebih serius. Mungkin bisa coba cari referensi moderator harusnya seperti apa,” ujar Nissi saat ditemui usai Panggung Demokrasi HIMTARA.

Pihak KPU UMN menyebutkan kalau pemilihan moderator berasal dari internal anggota KPU. Terkait alasannya, Sekretaris Bendahara Melinda Chen menjelaskan bahwa moderator yang berasal dari anggota KPU diharapkan lebih memahami alur Panggung Demokrasi. 

Padahal, pada umumnya acara seperti ini memilih moderator yang tidak memiliki keterikatan dengan pihak paslon maupun penyelenggara (KPU).

Menurut pantauan Ultimagz, pertanyaan yang dilemparkan dalam Panggung Demokrasi pun terasa kurang pas. Bahkan, di antaranya merupakan pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan.

Hal ini pun dirasakan mahasiswi jurnalistik 2017, Indah Suci Safitri, yang beranggapan bahwa pertanyaan yang diajukan oleh moderator bukan pertanyaan yang bisa menjawab kebutuhan mahasiswa UMN.

“Pertanyaan yang dilemparkan pun masih enggak menjawab solusi permasalahan apa yang jadi bagian penting mahasiswa UMN. Padahal mereka mencalonkan itu untuk kepentingan mahasiswa,” kata Indah.

Senada dengan Indah, Olivia juga menyayangkan pertanyaan yang ditanyakan dalam pangdem kali ini.

“Ada satu pertanyaan yang diajukan moderator ke calon wakil ketua masing-masing paslon, ‘Kalau ketuanya berhalangan untuk menjalankan tanggung jawabnya, apa yang akan kamu lakukan?’ Itu pertanyaan enggak perlu dijawab. Semua juga sudah tahu jawabannya, kalau ketuanya berhalangan, ya wakilnya harus siap menggantikan,” paparnya.

Namun, menurut KPU sendiri, pertanyaan yang diajukan dihimpun melalui tautan yang disebarkan KPU ke mahasiswa UMN.

Kegiatan Panggung Demokrasi yang berlokasi di Kantin C UMN ini merupakan agenda terakhir KPU UMN sebelum memasuki periode pemilihan pada tanggal 11-15 November 2019. Sebelumnya, paslon organisator sudah melakukan debat yang telah disiarkan KPU melalui kanal YouTube resmi KPU UMN.

 

Penulis: Maria Soterini & Abel Pramudya

Editor: Ivan Jonathan

Foto: Rafaela Chandra