Festival NoesaRasa Sepi Pengunjung di Siang Hari

Festival Noesarasa sepi pengunjung akibat cuaca panas siang hari. Dikarenakan tempat duduk pengunjung tidak beratapkan, pengunjung lebih memilih untuk duduk di daerah tangga. Festival Noesarasa diadakan mulai hari Sabtu (09/11/19) hingga Mminggu (10/11/19) di QBig BSD (Foto: ULTIMAGZ/ Robin Colinkang)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pada Sabtu (09/11/19) siang, Festival NoesaRasa sepi pengunjung karena cuaca panas. Namun, menjelang sore hari pengunjung mulai meramaikan stan-stan makanan yang berada di Qbig, BSD City, Tangerang, Banten. 

“Dari siang sepi karena panas, tapi makin sore, makin rame,” ujar Ketua Festival NoesaRasa Inneke Beunyamin. 

Maka dari itu, Inneke berkata bahwa stan yang paling banyak dibeli oleh pengunjung adalah stan minuman. Salah satu pengunjung yang sudah datang sejak pukul 13.00 WIB ialah William Tanjaya. Saat ingin duduk untuk menikmati makanan dan minuman yang dibeli, William tidak duduk pada bangku dan meja yang disediakan oleh Festival NoesaRasa. 

“Kalau berdiri di tengah-tengah panas pas siang. Jadi, pas makan, duduknya di pinggir-pinggir yang ada tangganya”, kata mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara ini. 

William pun berharap agar meja dan kursi yang terletak di tengah-tengah tempat acara, diberikan tenda. “Enaknya pakai tenda juga untuk di meja-meja makannya. Jadi nggak terlalu panas kalau makan siang.”

Baca juga: Festival NoesaRasa Hadirkan Masakan Nusantara

Festival NoesaRasa merupakan sebuah festival kuliner yang menyajikan makanan Nusantara yang diselenggarakan sejak Sabtu (09/11/19) hingga Minggu (10/11/19). Dengan menghadirkan 33 stan makanan dan minuman khas Indonesia, Festival NoesaRasa mengharapkan 1000 pengunjung dapat hadir setiap harinya. Makanan dan minuman yang disajikan pun beragam, mulai dari nasi gudeg, mie belitung, pempek, es goyang, cendol, serabi, hingga durian.

“Walaupun ada stan yang tulisannya jual dim sum, itu cuman salah penamaan dari vendornya aja. Itu sebenarnya jual siomai Bandung gitu,” jelas Inneke.

Meskipun siomai merupakan makanan tradisional yang berasal Tionghoa, tetapi terdapat perbedaan antara siomai khas Bandung dan Tionghoa. Tekstur siomai khas Bandung lebih kenyal jika dibandingkan dengan siomai khas Tionghoa karena memakai lebih banyak tepung sagu. Selain itu, siomai khas Tionghoa disandingkan dengan bumbu yang merupakan percampuran dari bawang putih, kecap ikan, dan minyak wijen. Hal ini berbeda dengan bumbu siomai khas Bandung yang mencampurkan kacang tanah, bawang merah, bawang putih, kecap manis serta cabai. 

 

Penulis: Elisabeth Diandra Sandi

Editor:  Agatha Lintang

Foto: Robin Colinkang

Sumber: tribunnews.com