Mengenal Rectoverso sebagai Unsur Pengaman Uang Rupiah

Kepala tim penanggulangan uang palsu departemen pengelolaan uang Bank indonesia Darmawan Tohap sedang menjawab pertanyaan tentang hoaks uang rupiah yang beredar di masyarakat pada talkshow 'Menepis Hoax Uang Rupiah' di Lecture Hall UMN, Serpong, Selasa (21/2/17).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Dalam rangka peresmian BI Corner di perpustakaan Univeristas Multimedia Nusantara (UMN), Bank Indonesia turut mengadakan talkshow dengan tema ‘Menepis Hoax Uang Rupiah’ di Lecture Hall UMN, Serpong, Selasa (21/2/17). Salah satu bahasan utama dalam talkshow tersebut yaitu mengenai lambang yang mirip dengan simbol palu arit PKI yang ada di uang rupiah.

“Palu arit itu terkait dengan uang Rp 100.000 emisi 2014. Jadi perlu diketahui ada sekitar 12 unsur pengaman yang kita taruh di dalam uang rupiah. Kenapa? Supaya tidak mudah dipalsukan. Jadi kalau dipalsukan, masyarakat umum tau bedanya yang palsu dan yang asli,” ucap Kepala Tim Penanggulangan Uang Palsu Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Darmawan Tohap Hutabarat.

Salah satu unsur pengamannya, lanjutnya, adalah rectoverso. Rectoverso merupakan unsur pengaman berupa potongan gambar yang tak utuh. Terlihat seperti dua gambar yang berbeda, jika dilihat dari depan dan belakang secara terpisah akan membentuk ornamen yang tidak jelas. Namun, ketika disatukan dan diterawang, akan membentuk logo BI secara utuh.

Contoh rectoverso dari logo BI yang ada di uang rupiah.
Contoh rectoverso dari logo BI yang ada di uang rupiah.

“Kalau sudah ketahuan gambar utuhnya duluan, akan sangat mudah dipalsukan. Maka caranya adalah logo BI dipotong secara diagonal,” jelasnya.

Tohap menambahkan, pihak BI sempat bingung mengapa hal tersebut dipermasalahkan. Padahal, BI sudah memakai rectoverso sejak tahun 1993 bersama dengan BIN, Kepolisian Indonesia, dan Kejaksaan dalam Badan Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal).

“Dan desain rectoverso yang mirip dengan desain palu arit itu sudah pernah kami gunakan di tahun 2001 dan 2009. Jadi sudah jelas, sejak 1993 kami memakai rectoverso tidak ada masalah,” tutur Tohap.

Selain itu, dalam seminar ini, Tohap turut membahas dan mengklarifikasi berita-berita hoaks mengenai uang rupiah yang beredar lainnya. Contohnya seperti desain dan warna uang rupiah baru dan pemilihan tokoh/pahlawan nasional.

Penulis: Valerie Dante

Editor: Christoforus Ristianto

Foto: Reynard Santoso, detik.com