Pro-Kontra Efektivitas Penerapan Sistem Lift Ganjil-Genap

Penerapan sistem lift ganjil-genap gedung C Universitas Multimedia Nusantara (UMN) telah berlaku sejak Maret 2019. Namun, masih terdapat pro dan kontra mahasiswa terhadap keefektifan peraturan tersebut. (ULTIMAGZ/Felisitasya Manukbua)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com—Dewan Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (DKBM UMN) menyatakan bahwa penggunaan sistem lift ganjil genap di Gedung C UMN akan dilanjutkan permanen. Hal tersebut disampaikan melalui unggahan Instagram (@dkbmumn), Kamis (31/10/19), sekitar enam bulan sejak awal diberlakukannya sistem lift ganjil genap pada Maret 2019. Lalu, seberapa efektif penerapan sistem lift ganjil genap tersebut?

Niken Sulistyarini (Manajemen 2017) mengungkapkan penerapan sistem lift ganjil genap menunjukkan perubahan pada panjang antrean. Namun, menurutnya tidak terdapat perubahan yang signifikan pada efektivitas waktu.

“Dulu kalau pagi-pagi antrean panjang banget, bahkan sempat sampai ke jembatan yang mengarah ke Gedung B. Tapi, kalau secara efektivitas waktu enggak jauh beda juga. Lift yang ada kan cuma empat, terus mahasiswa yang masuk juga banyak. Mungkin perbedaannya hanya di antrean yang lebih terbagi,” ujar Niken.

Namun Niken bercerita, pada kondisi tertentu, dirinya kerap memasuki lift yang melayani lantai yang tidak sesuai dengan tujuannya. Oleh karena itu, menurutnya sistem ini tidak perlu diterapkan secara permanen karena dampak yang ditimbulkan tidak terlalu berpengaruh.

“Pernah datang mepet terus melihat lift ganjil mengantre panjang. Mau enggak mau antre di lift yang genap. Akhirnya mesti naik tangga lagi untuk ke lantai tujuan,” ungkapnya.

Baca juga: “DKBM Umumkan Perubahan Operasional Lift Gedung C”

Namun, ada pula mahasiswa yang berpendapat bahwa sistem lift ganjil genap ini sebaiknya ditetapkan secara permanen. Salah satunya ialah mahasiswi Jurnalistik 2017 Cindy Victoria yang merasakan dampak dari diberlakukannya sistem ini.

“Menurut gua sistem itu boleh diterapkan secara permanen karena cukup membantu, biar enggak kayak dulu lagi harus antre panjang. Apalagi kalau dapat kelas pagi dan terburu-buru. Lift enggak harus berhenti di setiap lantai sehingga lebih cepat sampai,” kata Cindy.

Namun, di sisi lain Cindy juga merasakan kekurangan dari sistem lift ganjil genap. Misalnya, ketika ingin turun dan lift sudah penuh, hanya ada dua lift yang bisa digunakan di lantai tersebut. Akhirnya, Cindy memilih opsi turun menggunakan tangga.

“Kendalanya sih, kalau mau turun lantai. Karena lift yang bisa dipakai cuma melayani lantai ganjil, tapi tujuannya ke lantai genap. Akhirnya harus turun lewat tangga supaya bisa pakai lift lantai genap. Belum lagi kalau liftnya sudah penuh, harus nunggu lama, deh,” ungkap Cindy.

Senada dengan Cindy, mahasiswi Desain Komunikasi Visual 2018 Angela Felita merasakan keefektifan sistem lift ganjil genap. Oleh karena itu, Angela berharap sistem ini dapat diterapkan secara permanen.

“Kalau buat aku lebih nyaman sekarang soalnya di jam ramai antreannya enggak terlalu panjang. Akhirnya nunggunya enggak terlalu lama. Aku setuju kalau sistem lift ganjil genap ini diterapkan permanen,” ujar Angela.

 

Tanggapan DKBM Soal Sistem Lift Ganjil Genap

Ketua DKBM UMN Chen Qinghui membenarkan sistem lift ganjil genap di Gedung C akan diterapkan permanen. Ia mengungkapkan, sistem lift ganjil genap diadakan dengan tujuan mengurangi panjang antrean.

“Dulu sebelum diterapkan ganjil genap, antrean panjang sampai ke dekat meja satpam. Salah satu faktor yang menghambat antrean lift dan membuat macet adalah lift berhenti di setiap lantai. Kalau sekarang antreannya tidak sepanjang dulu. Kami (DKBM UMN), sempat melakukan survei lewat Google Form pada April 2019. Namun, belum ada lagi survei setelah masa ditetapkan secara permanen,” ujar Qing.

Meskipun lift Gedung C menggunakan sistem ganjil genap, tetapi terdapat pengecualian pada beberapa lantai, yaitu lantai 2, lantai 11, dan lantai 12. Menanggapi hal tersebut, Qing mengungkapkan terdapat pertimbangan yang membuat ketiga lantai dapat diakses oleh semua lift.

“Lantai 11 dan 12 kan punya Skystar, kayaknya mereka sewa fasilitas, tetapi kami juga belum tanya ke Building Management (BM). Banyak informasi yang mesti kami tanya karena BM sibuk. Sedangkan lantai dua khusus untuk dosen setelah selesai mengajar supaya enggak perlu ke lantai satu, kemudian naik lagi ke lantai dua. Selain itu kan beberapa dosen sudah banyak yang berumur lanjut,” ungkap Qing.

Tak hanya lift di Gedung C yang memiliki antrean panjang. Hal yang sama juga terjadi pada Gedung D. Berdasarkan pantauan Ultimagz, antrean lift panjang juga terjadi di Gedung D pada jam tertentu. Namun, DKBM belum memiliki rencana untuk menerapkan sistem ganjil genap pada lift Gedung D. 

“Belum ada omongan dari Pak Darman (Koordinator BM). Belum tahu bakal diterapkan ganjil genap atau enggak karena lantainya baru beroperasi beberapa. Kita enggak tahu BM akan memperlakukan kayak di C kalau memang kasusnya antreannya panjang. Diputuskan nanti kalau Gedung D beroperasi full,” lanjut Qing.

Qing juga menyatakan, sebelum membuat keputusan penerapan sistem lift ganjil genap di Gedung D, DKBM perlu mengadakan survei untuk mengetahui tanggapan mahasiswa mengenai antrean di Gedung D.

“Kembali lagi sejauh ini belum ada yang mengajukan aspirasi Gedung D minta ganjil genap karena Gedung C saja ada beberapa  mahasiswa yang enggak setuju. Gimana Gedung D ada ganjil genapnya? Mungkin nanti jangka panjangnya akan diterapkan. Makanya DKBM perlu survei dulu,” pungkas Qing.

 

Penulis: Agatha Lintang

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Felisitasya Manukbua