Eventnesia Ajak Pahami Masa Depan Olahraga Elektronik

Ketua Harian Indonesia e-Sport Association William Tjahyadi menjadi salah satu pembicara dalam acara talkshow Eventnesia 2018 di Prasetiya Mulya pada Jumat siang (23/02/18)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Menjadi acara tahunan Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) program studi S1 Event, acara Eventnesia kembali digelar untuk kedua kalinya pada Jumat (23/02/18) lalu. Berbeda dari tahun sebelumnya yang memilih tema culture, kali ini Eventnesia hadir dengan mengangkat tema mengenai sport tourism.

Eventnesia menghadirkan nama-nama besar dalam talkshow mereka, beberapa di antaranya Yuni Poerwanti (staf ahli bidang politik Kemenpora), Aranyaka D. Axioma (wakil ketua tim percepatan wisata olahraga Kemenpar), William Tjahyadi (ketua harian Indonesia e-sport Association), dan Erick Thohir (ketua panitia pelaksana Asian Games)

Menariknya, acara ini membagikan informasi mengenai olahraga yang disebut-sebut sebagai ‘the future is now’ yakni olahraga elektronik atau e-sport. Olahraga berbentuk permainan video games ini memiliki esensi kompetitif dan sportifitas.

“Banyak orang tua berpikir ‘Ngapain bermain game terus? Kalau sudah gede mau jadi apa?’ Tugas kami sebagai asosiasi menjelaskan bagaimana masa depan dari e-sport dan mengubah paradigma jika bermain game itu buruk,” jelas William Tjahyadi.

Menurut William, hadiah dari perlombaan e-sport sendiri jumlahnya terhitung sangat besar, seperti turnamen Dota 2 yang total hadiahnya mencapai 26 juta dolar.

“Bahkan sudah ada perlombaan NBA yang dalam bentuk console games disebut NBA e-league,” lanjut William, yang juga merupakan alumni Prasmul.

Sependapat dengan William, Yuni Poerwanti mengatakan jika Kemenpora juga mendukung berkembangnya e-sport di Indonesia

“Jangan bilang kalau gadget memperburuk, tetapi memang dibutuhkan orang-orang dewasa yang mengontrol seperti guru, orang tua,” ucap Yuni.

Selain mendukung perkembangan e-sport di Tanah Air, Yuni juga mengajak kaum muda Indonesia untuk memiliki semangat agar dapat terus berkembang dan melakukan perubahan.

“Buat apa jadi pemuda kalau tidak punya semangat juang,” tutup Yuni.

Penulis : Agatha Lintang

Editor : Gilang Fajar Septian

Foto : Ergian Pinandita