Henry Manampiring: Filsafat Stoa Masih Relevan di Era Digital

Penulis buku Filosofi Teras Henry Manampiring menjadi bintang tamu dalam acara Festival Literasi Digital di GO-JEK HQ, Pasaraya Blok M pada Sabtu (14/09). Di acara tersebut Henry berdiskusi mengenai bukunya bersama para peserta yang hadir.(ULTIMAGZ/Azhar Dwi Arinata)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Dengan terbukanya arus informasi di era digital, masyarakat Indonesia justru semakin mudah marah, tersinggung, dan tersulut amarahnya. Setidaknya, begitulah hasil survei yang Henry Manampiring lakukan melalui akun Twitter-nya. Hal ini membuatnya percaya bahwa filsafat Stoa masih relevan dan diperlukan masyarakat era digital.

“Kita punya smartphone canggih, internet, literasi digital, algoritma, dan lain-lain. Tetapi basis penggunanya, sayangnya, tidak berevolusi secepat teknologi. Artinya, insight-insight yang sudah ditemukan oleh para filsuf zaman dulu masih relevan dengan kondisi manusia sekarang,” ujar Henry dalam Festival Literasi Digital yang diadakan komunitas Read and Greet di GO-JEK HQ, Pasaraya Blok M,  Sabtu (14/09).

Bersama Head of Content GEOLIVE.ID Cannia Citta Irlanie dan Co-Founder Storial.co Aulia Halimatussadiah, penulis buku Filosofi Teras ini membahas tentang pentingnya menerapkan filsafat Stoa dalam perilaku bermedia sosial. Salah satu prinsip dasar filsafat Stoa ialah dikotomi kendali, yaitu membedakan antara hal yang dapat dan tidak dapat kita kontrol.

“Apa yang ada di bawah kendali kita? Ada opini kita sendiri, pikiran kita, keinginan kita, apapun tindakan kita sendiri, termasuk jempol kita. Udah, hanya itu,” ujar Henry. “Orang lain nggak di bawah kendali kita, siapapun itu. Dari presiden, Fadli Zon, politisi, tokoh masyarakat itu tidak di bawah kendali kita, termasuk masyarakat umum lainnya. Kita harus terima itu.”

Baca juga: ‘Filosofi Teras: Meneropong Filsafat Yunani Kuno Melalui Masalah Kehidupan Modern’

Ia menyatakan, masalah yang kerap terjadi di media sosial umumnya tidak disebabkan oleh pencetus awalnya (topik, berita, atau unggahan), melainkan oleh asumsi dan emosi negatif yang orang timpakan atas hal tersebut. Seringkali, orang berusaha mengontrol tindakan orang lain sehingga lupa bahwa orang lain tidak berada di bawah kendalinya. Hal ini bisa diatasi dengan mengendalikan nalar dan emosi diri sendiri.

Hal serupa diungkapkan oleh Cannia, yang juga menjadi salah satu narasumber dalam buku Filosofi Teras. Dalam menyikapi komentar negatif di media sosial, ia menekankan pentingnya bersikap tenang. Sikap tenang dan tidak asal blokir inilah yang memungkinkan terjadinya dialog antara kita dan orang yang melempar komentar negatif.

“Kalau kita tetap menjadi objek, mereka akan semakin ganas. Dalam kasus bullying, ketika orang maki-maki lo bukan sebagai orang, tetapi sebagai objek aja untuk dimaki-maki. Tapi saat lo memberikan respon balik, mereka melihat elo sebagai orang, dan mereka akan mengubah sikapnya karena mereka akan kaget,” tuturnya.

 

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie

Editor: Agatha Lintang

Foto: Azhar Dwi Arinata