IFC Gathering Ajak Influencer Muda Lawan Kekerasan Ekstremis

Perwakilan grup YouTuber Cameo Project, Andry Ganda, berbicara tentang penggarapan isu-isu serius yang dikemas menjadi konten media yang ringan dan kreatif dalam salah satu sesi Influencer ForChange Gathering yang diselenggarakan oleh Campaign di Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu (13/04/19) siang. (ULTIMAGZ/Rafaela Chandra)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Influencer For Change (IFC) Gathering mengundang influencer muda yang menjadi peserta IFC Academy di 6 kota, Sabtu (13/04/19). Acara di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika tersebut mengajak para peserta untuk melawan kekerasan ekstremis yang akhir-akhir ini cukup memprihatinkan dengan membagikan konten yang positif melalui media sosial mereka.

“Harapan kami, beragam konten positif yang para peserta hasilkan bisa dilihat oleh mereka yang sudah terpapar dengan konten bermuatan intoleransi, anti keberagaman, dan mendukung kekerasan,” ujar CEO Campaign William S. Gondokusumo.

Selain itu Willian juga berharap kegiatan ini mampu bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan anak muda menyebarluaskan pesan positif yang mengandung toleransi dan perdamaian. Ia juga ingin pesan-pesan positif tersebut dapat menandingi bahkan menghilangkan pesan negatif yang selama ini banyak tersebar.

Acara yang diadakan oleh startup Campaign di Gedung Kedihadiri oleh beberapa pembicara yang juga influencer dan sering berbicara tentang perbedaan. Mereka adalah Andry Ganda (Cameo Project), Savic Ali (islami.co), Suraji (Jaringan Gusdurian), dan Faisal Magrie (Search For Common Ground).

Sebelum berbicara tentang membuat konten positif di media sosial, peserta IFC Gathering diajak mengenali terlebih dahulu tentang radikalisme dan terorisme. Faisal Magrie memaparkan beberapa indikasi orang-orang yang terpapar radikalisme serta langkah mengatasi hal tersebut.

“Beberapa indikasi dari orang-orang yang memiliki paham radikalisme ialah sikapnya yang intoleran terhadap perbedaan, fanatik dengan pahamnya, serta bersikap eksklusif dengan membedakan diri dari kelompoknya. Kita baru bisa mengatasi orang yang berpaham radikal jika sudah mencapai indikasi keempat, yaitu kekerasan. Jika hal tersebut belum terjadi, biarkan saja,” ujar Faisal.

Setelah mengenal tentang paham radikalisme dan cara melawannya, para influencer muda diajar untuk membuat konten yang memiliki pesan positif. Menurut Andry Ganda mereduksi konten radikalisme menjadi konten yang ringan dan pesannya dapat diterima masih merupakan tantangan, tetapi penting untuk dilakukan.

“Dalam membuat konten, khususnya di YouTube, kita perlu membuat konten yang menghibur. Hal ini karena orang-orang membuka YouTube untuk mencari hiburan. Itulah yang selama ini dilakukan oleh Cameo Project dalam membuat konten berat menjadi lebih ringan,” tutur salah satu personil Cameo Project ini.

Selain gelar wicarapara influencer muda ini mendapat coaching clinic untuk membuat konten positif. Coaching clinic ini dibagi menjadi tiga kelas, yaitu konten tulisan, konten video, dan podcast.

 

Penulis: Adrianus Dwi Octaviano

Editor: Ivan Jonathan

Foto: Rafaela Chandra