Kemas Isu Keberagaman dengan Cerdas

Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Nawawi Bahrudin sedang memberikan materi mengenai jurnalisme dasar dan kode etik dalam Seminar Pendidikan Jurnalistik Mahasiswa ke-33 di Auditorium Garuda, Fakultas Teknik Lt. 4 Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta (UPNVJ), Pondok Labu, Jakarta Selatan pada Rabu (02/05/2018). (ULTIMAGZ/Ergian Pinandita)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Media mempunyai peranan penting untuk mengemas berita keberagaman dengan hati-hati. Sebab isu tersebut akan jadi persepsi yang salah bila diberitakan dengan cara yang tidak benar. Lantas bagaimana seharusnya jurnalis menyikapi hal ini?

Dalam acara bertajuk ‘Peran Media Alternatif dalam Memberitakan Isu Keberagaman’ Pendidikan Jurnalistik Mahasiswa (PJM) ke-33 oleh Lembaga Pers Mahasiswa UPN ‘Veteran’ Jakarta, dibahas bahwa pers berperan dalam menggiring publik ke dalam cara media mengemas isu. Tak sekedar ‘menggiring’, kini banyak media yang justru membawanya ke ranah politik.

“Masalahnya saat ini ada juga orang yang agak mudah untuk menyentuh sentimen-sentimen keagamaan, perbedaan suku agama ras, untuk semata-mata kepentingan elektabilitas dalam konteks politik,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers Nawawi Bahrudin selaku pembicara pada Rabu (02/05/2018) silam.

Menurut Nawawi, pers berperan memperjuangkan keadilan.

“Jadi fungsi pers bukan sekedar pekerjaan biasa, tapi mereka secara undang-undang memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Walaupun untuk sampai ke tahapan peran media ini masih banyak persoalan di wartawan,” imbuhnya.

Pemberitaan soal keberagaman harus dibarengi dengan kode etik dan elemen jurnalisme. Hal itu bukan tanpa alasan. Masih banyak karya foto jurnalistik tentang isu keberagaman yang diangkat tanpa memperhatikan unsur pornografi serta kekerasan. 

Di sisi lain, kedisiplinan di dapur redaksi harus terus ditingkatkan. Sebab, banyak media yang menjadi corong politik bagi segelintir orang yang punya kepentingan. Komisi Penyiaran Indonesia punya andil besar untuk turun langsung mengawasi konten-konten yang cukup sensitif di media.

Acara yang digelar di Auditorium Garuda tersebut sekaligus mengawali rangkaian PJM ke-33 yang berlangsung mulai Rabu dan berakhir Jumat (04/05/2018). Ketua Pelaksana Taufiq Hidayatullah mengatakan tema keberagaman dipilih berdasarkan situasi Indonesia saat ini.

“Kita melihat dari awal Januari ini masyarakat Indonesia itu rada rentan dengan – spesifiknya lagi – isu-isu kaum minoritas di Indonesia. Gimana pemberitaan dari media, arus-arus utama itu, seakan-akan tidak menerapkan perspektif keberagaman itu tersendiri yang nantinya kita melihat bahwa ini bisa berdampak kepada masyarakat,” jelas Taufiq.

Adanya pembahasan terkait isu kebhinekaan diharapkan dapat mengedukasi masyarakat luas, terutama pers. Sehingga bukan tidak mungkin gesekan antarkelompok maupun antarsuku dapat dinetralisir melalui dampak positif pemberitaan keberagaman di media.

 

Penulis: Nabila Ulfa Jayanti

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Ergian Pinandita