Mengenal Sejarah Malaysia Melalui Teater ‘Baling’

Dari kiri ke kanan: Imri Nasution, Anne James, dan Faiq Syazwan Kuhiri yang pada saat itu berperan sebagai Tunku Abdul Rahman, David Marshall, dan Chin Peng dalam pementasan teater dokumenter "Baling" di Komunitas Salihara, Sabtu (02/09/18). (Foto: Witjak Widhi Cahya (Komunitas Salihara))
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Kumpulan seniman dan produser asal Malaysia Five Arts Centre menyelenggarakan pementasan teater dokumenter bertajuk ‘Baling’ sebagai bagian dari rangkaian acara Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2018 pada Sabtu (01/09/18) di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan. Pentas berdurasi 100 menit ini ditampilkan oleh Anne James, Faiq Syazwan Kuhiri, Imri Nasution.

Terinspirasi dari kisah nyata, pementasan yang disutradarai oleh Mark Teh ini menceritakan peristiwa bersejarah di Malaysia — atau yang dulu dikenal sebagai Malaya — yang dikenal dengan sebutan Baling Talks, sebuah pertemuan antara tiga tokoh penting dalam upaya membawa kedamaian terhadap situasi perang yang terjadi di negara itu. Ketiga tokoh itu adalah Ketua Partai Komunis Malaya (MCP) Chin Peng, Ketua Menteri Singapura David Marshall, dan Ketua Menteri Malaya Tunku Abdul Rahman.

Pementasan ini juga sempat menyinggung perjalanan Chin Peng — yang lahir dengan nama asli Ong Boon Hua — menjadi seorang komunis yang perlahan-lahan memberikannya status sebagai public enemy number one atau buronan bagi penduduk Malaysia.

Ketiga tokoh utama itu diperankan oleh Anne, Faiq, dan Imri secara bergiliran. Selama pementasan, dialog yang disampaikan berasal dari transkrip resmi hasil pertemuan yang terjadi pada 1955 silam itu. Halaman dari transkrip tersebut juga dijadikan sebagai salah satu latar belakang dengan cara ditempelkan pada dinding, sehingga pada adegan pertama, masing-masing dari pemain mengambil halaman yang akan dibaca.

Di sela-sela adegan, ketiga pemain menceritakan salah satu momen dalam kehidupan mereka yang berkaitan dengan kehidupan Chin Peng. Beberapa momen tersebut adalah mendapatkan buku kecil dari pemakaman resmi Peng hingga bertemu langsung dengan sosok ketua partai komunis itu.

“Saya dulu pernah bertemu Chin Peng di temu ramahnya,” ujar Imri, yang juga sempat mewawancarai Peng di Bangkok.

melalui kemampuan akting mereka yang kuat dan penuh hasrat, baik Anne, Faiq, dan Imri pun sukses menyampaikan berbagai makna dari peristiwa ini; baik itu perjuangan, loyalitas, pengorbanan, kedamaian, terorisme, hingga kemerdekaan.

 

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Witjak Widhi Cahya (Komunitas Salihara)