Pulau Elegi: Perjuangan, Pengorbanan, dan Cinta

Salah satu adegan pementasan teater musik oleh SEP Theatre bertajuk “Pulau Elegi” bertemakan kebebasan itu bukan imbalan, kebebasan adalah pilihan. Pementasan ini digelar di Ciputra Artpreneur Theatre, Kuningan, Jakarta pada Sabtu (20/04/19) lalu. (ULTIMAGZ/Felisitasya Manukbua)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com—Komunitas teater SMA SEP Theatre kembali menggelar pentas teater ketujuhnya bertajuk Pulau Elegi di Ciputra Artpreneur,  Sabtu (20/04/19). Berdurasi kurang lebih tiga jam, pentas musikal ini mengusung tema berupa penjajahan suatu bangsa dan perjuangan mereka untuk meraih kesetaraan dan kebebasan.

Pentas yang disutradarai oleh Rinaldy Zulkarnain ini mengisahkan tentang penjajahan bangsa Feitane oleh bangsa Noira atas dasar perdagangan terhadap beberapa produk khasnya, termasuk kakao dan jeruk. Kedatangan bangsa Noira di Pulau Feitane ini juga mempertemukan kedua anak muda yang telah menjalin hubungan jarak jauh selama lima tahun, yakni Estamya Hrom (Gabriela Nadya) dan Lelei Maitapa (Yusuf Rizky).

Berasal dari dua bangsa berbeda yang sedang berkonflik, hubungan mereka pun terancam ketika seorang petani kakao Feitane, Nanai Perimola (Visky Sekar) menyebar sebuah pamflet provokatif seputar perdagangan bangsa Noira yang bersifat eksploitatif.

Berbeda dari pementasan sebelumnya, Pulau Elegi mempunyai suasana cerita yang dinilai lebih kelam. Selain terinspirasi oleh berbagai macam film bernuansa kelam, para sutradara dan produser ingin menunjukkan bahwa realita tidak sepenuhnya dapat berakhir bahagia.

Menurut Rinaldy, Pulau Elegi sendiri terinspirasi oleh keresahan mereka terhadap beberapa isu yang tengah terjadi di Indonesia, salah satunya adalah toleransi. Dari isu-isu tersebut, berbagai macam ide seperti monopoli dan kongsi dagang pun muncul.

“Lagi santai-santai, tiba-tiba ngomongin soal-soal yang berat segala macem, kenapa enggak kita gabungin aja hal-hal yang berat? Kayak monopoli, kongsi dagang dengan kisah romansa yang lebih sederhana dan bisa dicerna sama anak-anak muda,” pungkasnya.

Rinaldy Zulkarnain sebagai sutradara pementasan teater musik bertajuk “Pulau Elegi”. (ULTIMAGZ/Felisitasya Manukbua)

Melalui pentas ini, adapun pesan yang ingin disampaikan adalah menjunjung tinggi harapan yang besar yang memotivasi.

“Pesan yang ingin aku sampein sih yang utama adalah kita harus mempunyai harapan yang besar, dan ketika kita udah mempunyai harapan yang besar, kita harus make a strong choice untuk mendapatkan harapan itu,” tutur Rinaldy.

Berada di bawah naungan The Someday Project, SEP Theatre sendiri didirikan oleh SMAN 78. Hingga saat ini, komunitas yang berbasis di Jakarta Barat ini telah sukses merekrut siswa-siswi dari tiga sekolah berbeda, yaitu SMAN 78, SMAN 85, dan SMAN 112. Kendati demikian, khusus untuk Pulau Elegi, seluruh kru dan pemain terdiri dari siswa-siswi dan alumni SMAN 78.

 

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Felisitasya Manukbua