Sapa Diri Berikan Tips Merawat Kesehatan Mental

Kalista Iskandar (kiri) dan Liza Marielly Djaprie (Kanan) berlangsungnya sesi ketiga dari gelar wicara Sapa Diri yang diadakan secara daring melalui YouTube dan Instagram pada Sabtu (20/06/20). (ULTIMAGZ/Kevin Oei Jaya)
Kalista Iskandar (kiri) dan Liza Marielly Djaprie (Kanan) berlangsungnya sesi ketiga dari gelar wicara Sapa Diri yang diadakan secara daring melalui YouTube dan Instagram pada Sabtu (20/06/20). (ULTIMAGZ/Kevin Oei Jaya)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com  Acara Sapa Diri yang digelar pada Sabtu (20/06/20) mengundang empat bintang tamu untuk memberikan tips terkait merawat kesehatan mental. Gelar wicara berbasis virtual melalui fitur live YouTube dan Instagram ini, dilakukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya merawat diri atau selfcare untuk mencegah gangguan kesehatan mental.

Menjadi pembicara pertama, Ian Hugen membagikan kesehariannya di kala pandemi. Ian yang merupakan pembuat konten mengaku mengalami kebuntuan pada masa karantina. Inspirasi menjadi sangat minim karena hanya berputar di aktivitas dan tempat yang sama sehingga membuat dirinya tidak dapat membuat karya.

Alih-alih mengistirahatkan diri, Ian malah membandingkan dirinya dengan pembuat konten lain yang masih bisa melakukan pekerjaan. Sampai pada akhirnya Ian pun sadar dia tidak dapat terus berpikir demikian.

“Awal pandemi ini aku panik. Aku membandingkan produktivitas dengan orang lain dan aku memaksa diri. Aku terlalu keras. Bayangin bangun tidur langsung mikir kerja, kerja, kerja! Akhirnya awal Mei aku memutuskan untuk tiga minggu enggak kerja, istirahat, tiga minggu nafas. Nah, waktu masuk ke minggu kedua tuh kayak damai dan di minggu ketiga akhir aku mulai bikin konten lagi,” cerita Ian. 

Berbeda dengan Ian, Pendiri Komunitas Sehat Mental Ade Binarko menekankan pentingnya perkenalan dengan diri sendiri. Ade juga mengatakan bahwa untuk dapat mencintai diri sendiri, tentu seseorang harus mengenal dirinya terlebih dahulu. Dia juga menambahkan, setiap orang diciptakan dengan perannya masing-masing dalam kehidupan.

“Kita harus tahu kekurangan dan kelebihan kita. Kelebihan kita jangan malah kita lawan, tapi kita kembangkan. Tidak ada manusia yang sempurna, semua punya perannya masing-masing. Kalau kita melakukan hal yang kita suka akan terasa mudah kok,” kata Ade. 

Selain itu, Ade mengatakan untuk tidak terlalu terpaku pada masalah. Menurut Ade, masalah adalah hal biasa yang tidak akan pernah hilang dari kehidupan manusia dan harus diterima. 

“Ya, manusia itu kan diciptakan untuk menyelesaikan masalah. Analoginya seperti matahari. Hari ini hujan, kita kena hari yang buruk, tapi ingat kalau besok akan bersinar lagi,” pungkasnya.

Perkenalan dengan diri sendiri pun menjadi topik pembahasan ketika Runner Up Ketiga Puteri Indonesia 2020 Kalista Iskandar menjadi pembicara pada sesi ketiga. Kalista membagikan pengalamannya ketika berusaha mengenal diri sendiri. Dia menjelaskan saat masih duduk di bangku sekolah, dirinya memiliki masalah dengan rasa percaya diri. 

“Jadi dulu waktu aku datang ke acara dan melihat orang bisik-bisik, aku langsung berpikiran kalau mereka ngomongin aku,” tutur Kalista. 

Kalista kemudian menemukan titik balik ketika dia merasa lelah dengan pikiran-pikiran yang menggerayangi kepalanya. Saat itulah Kalista berupaya untuk mengubah pola pikir terhadap diri sendiri. Dia yang semula sangat bergantung pada pandangan orang lain, mulai mengevaluasi dirinya dalam kesendirian. 

“Dulu itu aku takut sendirian. Akan tetapi, aku tetap lakukan dan aku janji ke diri sendiri kalau aku harus tetap tegar. Aku janji ke diri sendiri kalau aku harus berubah dan aku memperlakukan diriku dengan penuh perhatian,” ucapnya. 

Pendahulu Kalista pun juga pernah mengalami hal serupa. Runner Up Puteri Indonesia 2019 Maria Hostiana pernah tidak percaya kepada diri sendiri. Namun, hal ini disebabkan karena perundungan yang dilakukan oleh kolega di sekolah. Teman-teman Maria mengatakan hal buruk terhadap penampilan fisiknya. 

“Dulu itu aku gemuk banget. Jadi di-bully itu sudah biasa banget buat aku. Dari di Taman Kanak-kanak (TK) dan baru berhenti itu mungkin waktu lulus SMA,” kata Maria.

Maria pun berhasil memperoleh kepercayaan diri dari teman-temannya. Dia menjelaskan bahwa keterbukaan diri adalah hal yang krusial. Terutama dengan menceritakan keluh kesah kepada orang-orang terdekat yang siap mendengarkan.

“Aku merasa beruntung sih karena aku punya banyak sahabat yang bisa mendukung aku. Mereka bilang ‘kamu punya banyak kelebihan, dan selalu kehalang sama masalah emosional. Terus akhirnya aku mulai mencari bantuan, mulai lebih sering cerita. Jadi dari situ lah aku mulai untuk lebih terbuka. Tidak disangka hanya dengan mendengarkan saja sudah sangat membantu,” jelas Maria.

Sapa Diri 2020 merupakan acara non-profit berbasis virtual yang mengangkat tema Selfcare. Melalui gelar wicara, tarian kontemporer, dan kegiatan kesenian, Sapa Diri 2020 ingin mengedukasi serta membuka pikiran masyarakat mengenai pentingnya perawatan diri untuk kesehatan mental.

 

Penulis: Andrei Wilmar 

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Foto: Kevin Oei Jaya