Peringkat Terendah, Yosep Suprayogi Harap Infografis Picu Minat Baca Masyarakat

Yosep Prayogi dalam masterclass yang bertajuk Infografis Ala Tempo, menjelaskan efektivitas penggunaan infografis pada Tempo Media Week 2017, di Mini Teater Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), Jumat (24/11/17).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com –  Banyaknya informasi yang beredar di masyarakat ternyata tidak berbanding lurus dengan minat baca masyarakat Indonesia. Hal ini turut disayangkan oleh Redaktur Infografis Tempo Yosep Suprayogi, pada Tempo Media Week 2017 di Perpustakaan Nasional RI, Jumat (24/11/17). Melalui infografis, diharapkan minat baca masyarakat dapat meningkat.

Pada data yang dipaparkan, rata-rata waktu yang diluangkan oleh masyarakat untuk membaca koran hanya menyentuh 34 menit. Sekitar 30 menit dalam sehari untuk membaca edisi majalahnya, dan rata-rata 27 menit untuk membaca edisi tabloid setiap harinya. Hal ini menguatkan hasil survei dari Most Littered Nation in The World, yang menempatkan Indonesia di posisi ke-60 dari 61 negara.

“Meskipun dalam infrastruktur, Indonesia berada dalam peringkat ke-36. Sangat disayangkan (Indonesia berada di tingkat terendah),” ujar Yosep dalam salah satu kelasnya.

“(padahal) Sekarang perhari saja di Indonesia ada 110.000 berita diproduksi,” tambahnya.

Dirinya berujar, guna menanggulangi hal tersebut, Tempo mengeksploitasi kekuatan grafis. Dengan menggunakan komponen visual, menurut data yang dipaparkan, minat baca meningkat hingga 80%.

“Cukup dengan memainkan warna, minat baca meningkat hingga 20%,” terangnya.

Infografis juga membantu dalam mengolah informasi dan memproduksi berita. Contohnya pada peristiwa Adam Air. Minimnya narasumber berita dan hanya tersedianya data teknis, menjadi alasan penggunaan infografis guna menghidupkan data teknis dan menjelaskan reka ulang peristiwa secara lebih baik.

Yosep juga menjelaskan, dalam infografis ada hal berbeda dari aturan menulis berita seperti biasanya. Guna meraih pembaca, penggantian huruf menjadi angka juga digunakan dalam judul. Perubahan ini terbukti berhasil meraih minat pembaca sebesar 28%, bahkan dalam menggugah emosi pembaca, penjelasan yang dibawakan tidak lupa disandingan dengan ragam perbandingan agar masyarakat dapat langsung memahami.

“Tidak mungkin lah kami hanya bilang, (contohnya) nilai freeport 1,4 triliun,” kataYosep. “Maka kami bandingkan dengan APBN, atau misalnya ingin menjelaskan anggaran kepemimpinan Anies. Jika ingin menyajikannya biasa saja ya sudah begitu saja. Jika ingin menggugah emosi, sandingkan dengan anggaran pada saat kepemimpinan Ahok,” jelasnya sembari berjenaka.

Pemberitaan juga dapat didaur ulang dalam bentuk infografis. Contohnya dalam infografis Kronologi Kematian Munir dalam bentuk komik infografis. Berbeda dengan ilustrasi yang memperbolehkan adanya dekonstruksi, infografis harus disajikan semirip mungkin dengan realita dan tetap mengandung butir-butir nilai berita.

“Kreatif saja, otak kanan yang dipakai. Tapi kalau untuk menjelaskan detail persentase dan lainnya, nah itu otak kiri yang dipakai,” tutupnya dengan tawa.

Penulis: Gabrielle Alicia Wynne Pribadi

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Gabrielle Alicia Wynne Pribadi