SERPONG, ULTIMAGZ.com — Seorang editor junior kehilangan temannya yang menghilang setelah menyelidiki arsip lama untuk sebuah edisi khusus majalah okultisme. Penyelidikan tersebut membawanya ke sebuah tempat di wilayah Kinki, Jepang. Selama puluhan tahun, wilayah ini dikenal dengan legenda urban, kasus orang hilang, dan berbagai kejadian misterius. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi di tempat tersebut hingga orang yang menyelidikinya justru ikut menghilang?
Sesuji dan Misteri di Balik Nama Pena
Buku About A Place in the Kinki Region ditulis oleh penulis horor daring asal Jepang yang menggunakan nama pena Sesuji.Uniknya, sosok “Sesuji” di dalam cerita justru digambarkan sebagai perempuan. Hal ini berbanding terbalik dengan identitas asli penulisnya. Dalam cerita, Sesuji adalah seorang penulis lepas yang tinggal di Tokyo. Ia dihubungi oleh Ozawa, temannya sekaligus editor junior di sebuah penerbit majalah bertema paranormal.
Baca juga: No Longer Human, Ungkapan Dazai Tentang Dilema Kemanusiaan
Kinki, Latar yang Menjadi Bagian dari Teror
Wilayah Kinki yang menjadi latar utama cerita merupakan kawasan yang lebih dikenal sebagai Kansai. Wilayah ini mencakup kota-kota mulai dari Kyoto, Osaka, Nara, hingga kawasan Semenanjung Kii yang dipenuhi hutan lebat. Namun, tempat ini bukan sekadar latar biasa. Beberapa wilayahnya justru menjadi titik bertemunya berbagai legenda urban dalam cerita. Mulai dari sosok misterius yang memanggil anak-anak dari hutan pegunungan, bangunan terbengkalai penuh grafiti, hingga rangkaian kasus bunuh diri.
Format Mixed-Media yang Mengubah Cara Membaca
Format buku ini menjadi salah satu hal yang membuatnya berbeda dari novel horor pada umumnya. Alih-alih menggunakan alur linear, Sesuji menggabungkan berbagai bentuk materi. Ada cerita pendek, transkrip wawancara, unggahan forum anonim, hingga cuplikan video. Seluruh materi dibuat seolah-olah merupakan dokumen nyata yang dikumpulkan untuk mencari tahu keberadaan Ozawa. Alhasil, Ultimates tidak hanya duduk menikmati cerita. Mereka juga diposisikan layaknya turut menyelidiki dan menyambungkan potongan informasi dari berbagai sumber yang tidak selalu bisa dipercaya sepenuhnya.
Kekuatan buku ini terletak pada eksperimen formatnya. Salah satu bagian yang menarik adalah ketika Sesuji menyajikan sebuah cerita dalam dua versi sekaligus. Versi pertama pernah dimuat di majalah, sementara versi kedua adalah draf aslinya. Dari draf tersebut, muncul detail-detail aneh yang perlahan berubah menjadi petunjuk tersembunyi. Cara bercerita seperti ini membuat horor dalam buku terasa lebih dekat dengan creepypasta. Di sana, ketakutan tidak selalu datang dari monster atau hantu yang muncul di depan mata. Justru, ketakutan itu datang dari sesuatu yang terlihat biasa, seperti dokumen, forum, dan rekaman.
Risiko di Balik Gaya Found-Footage
Meski begitu, pendekatan mixed-media ini juga memiliki risiko. Karena cerita lebih banyak berfokus pada kumpulan dokumen dan minim komentar dari narator, perkembangan karakter seperti Ozawa dan Sesuji terasa cukup terbatas. Beberapa tokoh bahkan hanya disebut menggunakan inisial. Bagi Ultimates yang mencari bacaan dengan hubungan emosional yang kuat dengan karakter, hal ini mungkin terasa kurang memuaskan. Namun, bagi mereka yang menyukai horor bergaya found-footage, minimnya campur tangan narator justru membuat cerita terasa lebih nyata.
Format found-footage dan creepypasta sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Genre ini sudah lama populer melalui cerita-cerita internet seperti Ted the Caver atau Candle Cove. Namun, yang membuat About A Place in the Kinki Region menarik adalah cakupannya yang jauh lebih luas. Buku ini menghadirkan berbagai potongan cerita yang saling terhubung sehingga tidak sekadar mengandalkan satu cerita saja.
Baca juga: Surrounded by Idiots: Mereka Bukan Idiot, Mereka Hanya Berbeda
Bagi Ultimates yang tumbuh bersama budaya horor digital, seperti thread Reddit, video bertema kisah nyata, atau legenda urban yang beredar di media sosial, buku ini mungkin terasa familiar. Bedanya, berbagai elemen tersebut dikemas menjadi satu pengalaman membaca yang utuh dalam bentuk buku.
Pada akhirnya, Sesuji, baik sebagai karakter maupun penulis di balik nama pena tersebut telah menyerahkan sebagian misterinya kepada Ultimates. Buku ini tidak memberikan jawaban pasti mengenai apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu, melainkan membiarkan misterinya tetap terbuka.Sementara itu, rasa tidak nyaman yang muncul selama membaca akan ikut terbawa bahkan setelah halaman terakhir selesai.
Penulis: Aurelia Lisbeth
Editor: Jocellyn Lee Kurnianto
Foto: gramedia.com
Sumber: gramedia.com, japaneselit.net




