Melihat Pertumbuhan Industri Film Indonesia

movie
Hari Film Nasional, merupakan apresiasi terhadapa karya film Indonesia. (Foto: pixabay.com)
Share:

TANGERANG, ULTIMAGZ.com – Tepat pada Senin (30/03/20) Indonesia merayakan hari Film Nasional ke-70 kalinya. Perayaan hari Film Nasional ini merupakan bentuk penghargaan terhadap perfilman karya anak bangsa Indonesia. Kini, dunia film Indonesia sudah mengalami perubahan dan perkembangan yang menambah kekayaan industri perfilman Tanah Air.

Sejarah Hari Film Nasional

Hari Film Nasional bertepatan pada hari pertama penayangan film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi pada 30 Maret 1950. Film ini disebut sebagai karya lokal pertama yang bercirikan Indonesia. Istilah ‘bercirikan Indonesia’ dari Darah dan Doa karena sarat akan nilai nasionalisme dan mengisahkan long march prajurit Indonesia bersama keluarganya dari Yogyakarta ke Jawa Barat, tempat pangkalan utama mereka.

Selain itu,  ini merupakan film pertama yang disutradarai oleh orang berkebangsaan Indonesia, Usmar Ismail. Bahkan produksi film dilakukan oleh Perfini, Perusahaan Film Nasional Indonesia yang juga didirikan oleh Usmar Ismail. Film Darah dan Doa menjadi pelopor industri perfilman di Indonesia. Era ini merupakan masa awal kemajuan layar lebar Tanah Air.

Maka dari itu, hari penayangan perdana “Darah dan Doa” ditetapkan menjadi Hari Film Nasional.

Meroketnya Pefilman Indonesia

Saat ini, minat menonton film di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Bersumber dari goodnewsfromindonesia.id pada tahun 2010 sebanyak 15 film Indonesia berhasil meraih 6,5 juta penoton. Peningkatan itu terus berlanjut hingga pada 2019, sejumlah 15 film Indonesia terpopuler bisa memeroleh 30 juta penonton.   

Beberapa tajuk yang terdapat pada 15 film terpopuler 2019 di antaranya, Dilan 1991 dengan 5,3 juta penonton, Dua Garis Biru mendapatkan 2,6 juta penonton. Selain itu, film adaptasi dari buku seperti Danur 3: Sunyaruri (2,5 juta penonton) dan Imperfect: Karier, Cinta & Timbangan (2,4 juta penonton) juga masuk dalam daftar film populer 2019. Film mengenai kisah cinta Presiden ketiga Indonesia, Alm B.J. Habibie dengan istrinya, dalam Habibie & Ainun 3 juga berhasil mendapatkan 2,3 juta penonton.

Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ricky Pesik menerangkan pertumbuhan jumlah penonton di bioskop Indonesia sangat signifikan.

“Mencapai 230 persen dalam lima tahun terakhir,” ujar Ricky dikutip dari katadata.co.id.

Faktor pendukung pertumbuhan film Indonesia juga dikarenakan jumlah penonton yang sebanding dengan populasi masyarakat Indonesia yang masif. Dikarenakan banyaknya masyarakat yang antusias menonton, hal tersebut menarik perhatian investor dan perusahaan film luar negeri terhadap perfilman Indonesia.

Investor atau perusahaan industri film besar tertarik dengan layar lebar Indonesia berasal dari pusat industri film global, Amerika Serikat.  Sebagai contoh, produser Fox Internasional Productions dari 20th Century Fox Film Corporation turut andil dalam produksi film Wiro Sableng yang tayang pada 2018 silam.

Selain itu, banyaknya jumlah penonton juga berpengaruh pada kuantitas layar lebar di Indonesia. Jumlah layar bioskop kepemilikan atau independen Indonesia juga menjadi bukti tingginya minat masyarakat menonton film.

Dilansir dari Bisnis.com, Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusbangfilm Kemendikbud) menunjukkan bahwa Cineplex 21 memiliki 1.046 layar bioskop di seluruh Indonesia. Selain dari grup XXI, penyumbang bioskop lain adalah CGV Blitz (331 layar), Cinemaxx (235 layar), New Star (37 layar), Platinum (34 layar), dan Flix Cinema (11 layar). Pusbangfilm Kemdikbud juga mendapatkan data sebanyak 44 layar bioskop independen yang tersebar di 12 bioskop.

Peningkatan jumlah penonton dan bioskop yang tidak cukup untuk mengukur keberhasilan, Masih ada pekerjaan pada faktor lain untuk meningkatkan kualitas perfilman Indonesia

Pekerjaan Rumah untuk Industri Film Indonesia

Takaran keberhasilan film Indonesia tidak cukup hanya berdasarkan jumlah penonton. Perlu untuk memerhatikan faktor penting lainnya, misalnya keragaman konten film.

Dalam artikel Kaleidoskop 2017: Mengukur Detak Jantung Industri Film Indonesia karya Agus Mediarta, menyebutkan industri film masih membutuhkan banyak faktor untuk menjadi suatu karya yang baik

“Industri film membutuhkan keragaman konten, baik dari segi genre, bentuk, gaya, tema, narasi, dan berbagai hal yang dimungkinkan terwujud dalam film, termasuk sasaran usia penonton,” tulis Agus dikutip dari filmindonesia.or.id.

Menurutnya, keragaman konten juga mencerminkan adanya pertarungan gagasan untuk meraih penonton yang berbeda karakteristiknya. Maka dari itu, film tidak hanya ada untuk mencapai target penonton semata.

Bersumber dari ccnindonesia.com, salah satu sutradara Indonesia Joko Anwar, menilai sumber daya manusia di perfilman Indonesia masih terbilang kurang. Joko menambahkan jumlah talenta pemain film serta kru film masih sangat sedikit.

“Indonesia sekarang sangat membutuhkan sumber daya manusia di dunia perfilman, baik kru ataupun pemain (film).”

Penulis: Theresia Amadea

Sumber: filmindonesia.or.id, katadata.co.id, goodnewsfromindonesia.id, ekonomi.bisnis.com, tirto.id

Editor: Agatha Lintang

Foto: pixabay