“Susi Susanti – Love All” Bukan Sekadar Film Atlet

Film yang bercerita tentang pebulu tangkis nasional Susi Susanti telah diangkat ke layar lebar pada Kamis (24/10/19). Selain menceritakan tentang kehidupan Susi Susanti sebagai atlet, film ini juga mengisahkan kehidupan sosial pada zaman 80-90an yang kental dengan isu rasial. (Foto: biem.co)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Kisah perjuangan pebulu tangkis wanita legendaris Indonesia, Susi Susanti naik ke layar lebar sejak Kamis (24/10/19). Film yang berjudul Susi SusantiLove All ini bukan saja menceritakan keseharian seorang atlet di pelatihan maupun kompetisi, tetapi juga menceritakan isu rasial di Indonesia pada tahun 90-an.

Susi Susanti – Love All merangkum karir atlet bulu tangkis Susi Susanti (Laura Basuki) sejak ia mulai direkrut oleh PB Jaya Raya hingga ia mengantongi berbagai medali emas di olimpiade dunia. Satu persatu kompetisi berhasil Susi taklukkan, hingga ia mencapai posisi keemasannya dengan membawa pulang medali emas di olimpiade Barcelona pada 1992. Disutradarai oleh Sim F., film ini turut menceritakan kehidupan asmara Susi yang berlabuh pada Alan Budikusuma (Dion Wiyoko), teman yang juga berada di pelatihan nasional yang sama dengan dirinya.

Selain tentang hidup para atlet, film yang diproduseri oleh Daniel Mananta ini menggarisbawahi konflik rasial di tahun 80-90an. Pada zaman itu, diskriminasi etnis masih jelas adanya. Hal itu dituangkan ke dalam film dengan menampilkan susahnya mendapat kewarganegaraaan Indonesia untuk etnis Tionghoa, ejekan ‘sipit’, serta tegangnya kerusuhan Mei 1998 yang menghantui masyarakat beretnis Tionghoa.

Dikemas dalam film berdurasi 1 jam 36 menit, alur dalam film ini sangat pas, tidak tergesa-gesa tetapi juga tidak terlalu lambat. Penonton dibawa mendalami perjuangan Susi dari 0 hingga menjadi ujung tombak perbulutangkisan putri Indonesia. Adegan pertandingan pun sukses memberi ketegangan tersendiri di mata penonton, memunculkan tanda tanya mengenai apakah kemenangan akan dikantongi Susi di akhir pertandingan. Rasa haru terhadap kemenangan, kekalahan, serta hubungan keluarga yang erat menyelimuti film ini dengan apik.

Latar waktu yang berada di tahun 1982-1998 juga diperlihatkan melalui penggunaan tone warna yang warm di sepanjang film. Pemilihan tone yang sedemikian rupa mendorong kesan ‘jadul’. Bukan hanya tone, sinematografi film ini pun bisa dinilai estetik. Berbagai macam sudut pengambilan gambar yang unik membuat penonton tidak menemui rasa jemu.

Film ini bisa dinikmati oleh dua generasi berbeda dengan cara yang berbeda pula. Untuk generasi 80-90an, nama Susi Susanti merupakan pahlawan olahraga Tanah Air. Menonton film ini bisa membuat mereka kembali bernostalgia mengenai hebatnya atlet kebanggaan Indonesia tersebut. Sementara bagi generasi kelahiran di atas 2000, menonton film ini memunculkan rasa kagum sendiri terhadap legenda bulu tangkis Indonesia yang mentereng sebelum mereka lahir.

Film biopik yang juga diperankan oleh Jenny Chang, Lukman Sardi, Rafael Tan, dan masih banyak lagi ini bisa dinikmati di seluruh bioskop Indonesia.

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: biem.co