A Prom to Remember: Ringan, Tapi Berkesan

Cover buku A Prom to Remember karya Sandy Hall.
Cover buku A Prom to Remember karya Sandy Hall. (Foto: goodreads.com)
Share:

10 Maret 2020

“Seven seniors, seven problems, one senior prom.”

-Sandy Hall, A Prom to Remember

SERPONG, ULTIMAGZ.com – “A Prom to Remember,” merupakan novel remaja karya Sandy Hall yang mengangkat kisah cinta tujuh remaja yang menjadi komite pengurus acara Prom Night. Mengutip dari goodreads.com, buku ini menceritakan kisah Cora, perempuan yang merupakan ketua komite pengurus acara Prom Night. Lalu ada Paisley, perempuan sarkastis yang sebetulnya tak ingin mengurus acara Prom Night. Kemudian ada Henry, laki-laki yang menjadi teman Paisley yang benci segala situasi sosial. Juga Lizzie, Cameron, dan Jacinta yang memiliki keunikan masing-masing.

Membawa tujuh kisah dalam satu buku, Sandy Hall mengangkat beragam kisah cinta remaja yang muncul diantara tokoh-tokohnya. Mulai dari yang heteroseksual, homoseksual, bahkan menyukai seseorang yang anonim. Permasalahan yang diangkat juga tidak terlalu berat dan mudah dimengerti, sehingga pembaca tak akan kesulitan untuk memahami jalan cerita dari novel ini.

Menyajikan romansa sekolah dengan pembawaan yang ringan, buku ini akan sangat cocok bagi kalian yang memang menyukai cerita bergenre teenlit (teen literature) yang tidak berlebihan dan santai. Prom sendiri merupakan budaya barat yang sangat akrab di telinga remaja di berbagai belahan dunia. Hiburan barat, khususnya film atau TV series, sering sekali menampilkan prom sebagai suatu hal yang menakjubkan dan hanya terjadi sekali seumur hidup. Tidak hanya berfokus kepada percintaan, buku ini juga mengangkat permasalahan identitas dan permasalahan sosial yang kerap dihadapi oleh remaja. Hal itu kemudian menjadikan buku ini lebih mudah di relate oleh remaja.

Buku ini juga dapat membuka wawasan kita terhadap percintaan homoseksual yang masih sering dianggap tabu oleh masyarakat dunia, terlebih masyarakat yang dibesarkan dalam budaya Ketimuran. Tidak terkesan memaksa, tapi hanya memberikan kacamata untuk memandang percintaan homoseksual kepada pembaca.

Namun, dari sudut pandang pembaca yang tidak memiliki rasa ‘connect’ terhadap salah satu tokoh, tokoh dalam buku ini terasa hanya sedang lewat saja, belum terlalu masuk ke dalam raga. Berkesan, tapi tidak sampai membuat kagum. Lain halnya bila pembaca memang menemukan kesamaan antara dirinya dengan salah satu tokoh yang bermasalah dalam cerita ini, mungkin kesamaan tersebut akan membuat pembaca merasa intimate dengan tokoh-tokoh ini.

Selain itu, karena mengangkat tujuh kisah siswa, alur yang diberikan “A Prom To Remember” menjadi terburu-buru dan tidak intimate dengan pembaca, sebab setiap karakternya belum memiliki penokohan yang cukup kuat dalam buku ini.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena V.

Editor: Xena Olivia

Sumber: goodreads.com

Foto: goodreads.com