Out of the Maze: Belajar Lepas dari Belenggu Keyakinan Diri

"Out of the Maze" adalah karya sekuel dari "Who Moved My Cheese? karya Dr. Spencer Johnson, M.D.. Setelah 20 tahun, sekuel dari buku bestseller ini tidak kalah dalam memberikan perspektif baru dalam melihat perubahan di dalam hidup manusia. Apakah sudah benar keyakinan yang telah kita lakukan selama ini? Atau, keyakinan tersebut telah menjadi dinding tak terlihat kita menuju masa depan yang lebih baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab di buku ini. (ULTIMAGZ/Ignatius Raditya Nugraha).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pada 1998 silam Dr. Spencer Johnson dari Amerika menulis buku “Who Moved My Cheese? An Amazing Way to Deal with Change in Your Work and in Your Life”. Pasca terbit, buku tersebut merupakan New York Business Bestseller dan salah satu buku tentang motivasi perusahaan tersukses di dunia. Tercatat karya Spencer telah terjual hingga mendunia dan tercetak dalam 37 bahasa.

Karyanya mengisahkan kehidupan dua tikus dan dua kurcaci yang mencari keju di dalam sebuah labirin raksasa. Menurut mereka, dunia adalah labirin dan tujuan mereka adalah mencari keju didalamnya untuk sekadar bertahan hidup dan menyambut hari esok. Suatu hari, keju-keju yang berlimpah di dalam suatu Cheese Station tidak lagi muncul. Kedua tikus segera pergi. Kedua kurcaci masih keras kepala untuk mencari keju di tempat yang sama. Salah satu kurcaci kelaparan dan memutuskan untuk memberanikan diri pergi. Kurcaci satunya, masih tertinggal kelaparan di Cheese Station tersebut sendirian.

Pesan dari buku itu sederhana: merangkul perubahan karena tak akan terhindarkan.

Kali ini, Spencer kembali dengan Out of the Maze: An-A-Mazing Way to Get Unstuck, sekuel dari karyanya 20 tahun yang lalu itu. Kisah yang sekarang menceritakan bagaimana nasib kurcaci di Cheese Station, Hem, setelah tertinggal sendirian. Dalam perjalanannya, Hem akan bertemu dengan kurcaci perempuan, Hope, mengenali makanan baru selain keju, dan menyusuri labirin kembali.

“INI TIDAK ADIL,” gerutu Hem.

Tentu seperti sebelumnya, Hem masih berkarakter keras kepala dan bebal. Dalam perjalanannya, Hem mengalami kesulitan yang sangat untuk menerima bahwa segala sesuatu telah berubah. Namun demikian, Spencer menginginkan para pembaca mengetahui perspektif Hem, mengapa sulit sekali bagi kurcaci satu ini untuk berubah.

Jawabannya adalah Hem terperangkap oleh keyakinannya sendiri.

Dengan memindah kisah Hem, Spencer ingin mengajarkan para pembaca bagaimana caranya untuk terlepas dari keyakinan yang meracuni diri sendiri dalam jangka panjang. Mengapa ini penting? Kembali ke dunia nyata, gejala ini tidak jarang terjadi dan menghalangi langkah kita menuju sukses. Misalnya orang-orang yang sudah menyerah terlebih dahulu sebelum mencoba, mereka yang telah yakin karakter seseorang “tidak baik” sebelum berkenalan langsung sehingga kehilangan kesempatan untuk berteman, atau kelompok yang menganggap suatu pemikiran, karya, buku, atau film berbahaya tanpa menyentuh hal-hal tersebut sama sekali. Alhasil, kelompok tersebut terperangkap di masa lalu dan tertinggal dari kemajuan zaman.

Kisah Hem akan menantang pembaca untuk mengevaluasi keyakinan diri masing-masing selama ini. Apakah keyakinan tersebut sudah benar? Atau malah, keyakinan itulah yang mendirikan dinding yang membatasi potensi kita selama ini? Benarkah apa yang kita lihat berdasarkan keyakinan itu nyata? Atau, apakah keyakinan kita telah mengubah pandangan pada beberapa hal?

Para pembaca akan menikmati pembawaan cerita pendek yang menggambarkan dunia nyata dengan akurat, cerita yang menarik dan mengalir di dalam dunia labirin, dan karakter beserta hal baru yang tak terbahas di buku karya Spencer yang sebelumnya. Walaupun ada baiknya membaca buku lama sebelum “Out of the Maze: An-A-Mazing Way to Get Unstuck”, nilai yang terkandung di dalamnya tidak berubah.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Foto: Ignatius Raditya Nugraha