• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Tuesday, March 10, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Iptek

Jejak Pramoedya Ananta Toer: Ukir Karya di Pulau Buru

Reza Farwan by Reza Farwan
December 10, 2024
in Iptek, Literatur
Reading Time: 3 mins read
Pramoedya Ananta Toer menulis karyanya di Pulau Buru (Foto: kompas.com)

Pramoedya Ananta Toer menulis karyanya di Pulau Buru (kompas.com)

0
SHARES
274
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pramoedya Ananta Toer ialah seorang sastrawan klasik Indonesia yang pernah diasingkan di Pulau Buru sebagai tahanan politik (tapol) pada masa Orde Baru (1965). Pramoedya dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI) tanpa pengadilan yang jelas. Namun, selama masa tahanannya, Pramoedya menghabiskan waktunya untuk mengukir karya di Pulau Buru.

Pulau Buru, dengan segala keterbatasan dan keputusasaan, menjadi tempat pembuangan bagi mereka yang dianggap sebagai musuh negara. Di sana, Pramoedya dan para tapol bekerja secara paksa membuka hutan untuk membuat jalan, menggarap lahan pertanian, dan membangun barak-barak dengan peralatan seadanya.

Baca juga: Rekomendasi Buku Pramoedya Ananta Toer, Angkat Sejarah dan Politik Indonesia

“Pulau itu masih liar, banyak hewan buas, penduduk asli di sana masih tergolong terbelakang,” ujar Pramoedya dilansir dari liputan6.com. 

Pramoedya dan para tapol lainnya diperlakukan secara kasar oleh petugas di Pulau Buru. Hasil pertaniannya pun sering sekali dirampas dan membiarkan mereka bernapas dengan perut kosong. Sebagian tapol pun memakan keong dan cumi-cumi mentah untuk bertahan hidup.

Walaupun dengan kenestapaan yang dihadapi, Pramoedya tetap menulis dalam penderitaan. Hanya dengan kertas-kertas bekas dan pensil yang sulit didapat, Pramoedya tetap meneguhkan tekadnya untuk menulis. 

Melansir dari cnnindonesia.com, Pramoedya tidak diperbolehkan menulis saat itu. Namun, ia melakukannya secara diam-diam. Pramoedya menceritakan karyanya secara lisan kepada teman-teman tahanannya. Karya Pramoedya menjadi teman waktu luang tapol lainnya untuk menjaga kehidupan mereka yang penuh keresahan.

Baru pada 1973, Pramoedya mendapatkan perlakuan khusus dibanding tapol lainnya. Perlakuan khusus ini didapat oleh Pram atas perintah dari Jenderal Soemitro yang memperbolehkannya untuk menulis. Bahkan, Pram diberikan kertas dan mesin tik untuk memusatkan perhatiannya dalam mengarang.

Melansir dari historia.id, Soemitro memperbolehkan Pramoedya untuk menulis atas izin dari Presiden Soeharto. Izin ini diberikan karena adanya desakan dari dunia internasional. Dunia saat itu mengetahui sastrawan besar sedang ditahan di Pulau Buru dan diperlakukan secara tidak manusiawi. 

Sejak saat itulah, Pramoedya menghabiskan waktunya untuk menulis. Salah satu karya yang dihasilkan adalah sebuah memoar yang berisi kehidupannya di Pulau Buru. Karya tersebut diberi judul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Jilid Satu dan Dua.

Baca juga: Adaptasi Film ‘Bumi Manusia’ Tuai Pro dan Kontra

Selain menulis memoar, Pramoedya juga melahirkan karya yang menjadi bagian sejarah sastra Indonesia. Pulau Buru menjadi saksi bisu dalam lahirnya karya sastra legendaris Indonesia, yaitu Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Karya-karya yang dilahirkan oleh Pramoedya pada masa tahanannya menjadi sebuah legasi sastra yang abadi. Tiap tuturannya merupakan sebuah nyanyian sunyi Pramoedya di Pulau Buru. Sebuah suara yang terlahir dari penderitaan, tetapi penuh dengan harapan akan kebebasan.

 

 

Penulis: Reza Farwan

Editor: Jessie Valencia

Foto: kompas.com

Sumber: liputan6.com, cnnindonesia.com, historia.id



Tags: Anak semua bangsabumi manusiaJejak LangkahliteraturePramoedya Ananta ToerPulau BuruRumah KacaTetralogi Buru
Reza Farwan

Reza Farwan

Related Posts

Alternatif
Iptek

Dari Lolita Hingga Gyaru: Kenali Dunia Fesyen Alternatif dari Jepang

March 10, 2026
Ilustrasi Sampul buku Strange Pictures karya Uketsu. (jpntimes.co.jp)
Hiburan

Strange Pictures: Buku Misteri dengan Kumpulan Gambar Aneh Karya Uketsu

March 7, 2026
Bad Bunny
Hiburan

Bad Bunny Tampil di NFL Halftime: Sebarkan Cinta Kasih di Tengah Kebencian

March 5, 2026
Next Post
Potret Taylor Swift ketika tampil di “The Eras Tour”. (lifeandstylemag.com)

Taylor Swift Resmi Akhiri Perjalanan Panjang The Eras Tour

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 5 =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021