One Day at a Time: Pasang Surut Kehidupan Keluarga Imigran

Para tokoh utama dari serial televisi "One Day at a Time" (dari kiri ke kanan): Alex Alvarez (Marcel Ruiz), Lydia Riera (Rita Moreno), Penelope Alvarez (Justina Machado), Pat Schneider (Todd Grinnell), dan Elena Alvarez (Isabella Gomez) (Foto: hollywoodreporter.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Menjalani kehidupan sebagai warga negara asing bukanlah suatu pengalaman yang mudah. Melalui serial televisi Netflix One Day at a Time, keluarga Alvarez menunjukkan berbagai macam hal yang mereka hadapi selama menjadi keluarga imigran di Amerika Serikat.

Serial yang dikembangkan oleh Gloria Calderón Kellet dan Mile Royce ini mengisahkan tentang perjalanan hidup sebuah keluarga Kuba-Amerika yang bersinggah di Amerika Serikat. Mereka terdiri dari seorang ibu tunggal bernama Penelope Alvarez (Justina Machado), ibunya Lydia Riera (Rita Moreno), serta kedua anaknya Elena Alvarez (Isabella Gomez) dan Alejandro “Alex” Alvarez (Marcel Ruiz).

Masing-masing dari mereka mempunyai cerita tersendiri, tetapi sebagian besar alur berpusat pada Penelope. Seorang perawat veteran di Angkatan Darat Amerika Serikat, ia berusaha untuk beradaptasi dengan kehidupan sipilnya sehari-hari, seperti membesarkan kedua anaknya dan bekerja sebagai seorang perawat di sebuah klinik milik Dr. Leslie Berkowitz (Stephen Tobolowsky) bersama kedua rekannya, Scott (Eric Nenninger) dan Lori (Fiona Gubelmann). Sesekali, keluarga Alvarez juga ditemani oleh Pat Schneider (Todd Grinnell), seorang teman dekat yang juga merupakan pemilik bangunan tempat tinggal mereka.

Kendati demikian, proses adaptasi ini tidak mudah dihadapi dengan sendirinya, terutama sejak Penelope berpisah dengan suaminya Victor Alvarez (James Martinez), seorang tentara veteran, yang mempunyai isu dengan alkohol akibat mengidap post-traumatic stress disorder (PTSD).

Meski dikenal sebagai serial televisi dengan genre komedi, One Day at a Time mampu membawakan berbagai macam isu yang terjadi di kehidupan nyata. Mulai dari penyakit mental seperti anxiety disorder atau gangguan kecemasan, depresi, dan PTSD, serta homofobia, sexisme, imigrasi, dan rasisme yang kerap dihadapi oleh keluarga Latin di Negeri Paman Sam pada umumnya. Beberapa isu tersebut disuguhkan dengan balutan lelucon ringan tanpa mengesampingkan aspek emosional dan rasa kekeluargaan yang ditunjukkan.

Selama tiga musim, setiap episode mampu menyajikan berbagai momen humoris dan serius dengan seimbang. Di sisi lain, para pemeran juga sukses memainkan tokoh mereka masing-masing dengan baik melalui kemampuan akting yang tidak diragukan lagi.

Sementara itu, serial televisi yang merupakan adaptasi dari versi orisinil One Day at a Time karya Norman Lear, yang rilis pada 1975 silam, ini akan kembali untuk musim keempatnya. Setelah sempat dibatalkan oleh Netflix, saluran televisi Pop TV akan “menghidupkan” kembali serial televisi ini dengan menayangkan musim keempatnya pada 2020 mendatang.

 

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Audrie Safira Maulana

Foto: hollywoodreporter.com