Riwayat Wayang Orang Lintas Zaman, Menilik Tragedi dalam Perkembangan Seni

riwayat wayang orang
Potret busana tokoh-tokoh wayang orang pada abad ke-19. (Foto: nationalgeographic.grid.id)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com ― Maraknya pertelevisian pada Orde Baru merupakan perkembangan yang baik untuk dunia hiburan Tanah Air. Dalam waktu-waktu tersebut, Indonesia memiliki tontonan baru untuk dinikmati. Pun demikian, perkembangan zaman ini adalah tragedi luar biasa untuk dunia kesenian Nusantara yang sebelumnya menjadi hiburan utama bagi masyarakat, salah satunya pertunjukan wayang orang.

Salah satu seniman dari Wayang Orang Bharata, Teguh Ampriyanto atau kerap dengan nama Kenthus, membagikan sedikit sejarah terkait perjuangan senior-seniornya untuk membuat wayang orang tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Khentus mengatakan, dalam waktu sulit tersebut, kelompok-kelompok wayang orang yang terhampar di seluruh Nusantara akhirnya memilih untuk menggabungkan diri.

“Wayang Orang Bharata itu terbentuk pada 1972. Sebelum zaman itu, ada puluhan kelompok wayang orang di Jakarta dan ratusan kelompok lain di daerah. Akan tetapi karena perkembangan zaman, akhirnya mereka gulung tikar dan menyatukan diri menjadi kelompok Wayang Orang Bharata,” ucap Khentus dalam gelar wicara virtual Riwayat Wayang Orang: Tragedi atau Prestasi? yang digelar oleh National Geographic Indonesia pada Rabu (24/06/20).

Masuk ke dalam kelompok Wayang Orang Bharata pada 1991, Khentus harus menyaksikan kemerosotan dari seni yang dia tekuni. Khalayak yang sebelumnya ramai menjadi sepi dan dengan terpaksa pertunjukan yang tadinya digelar setiap hari harus dipangkas menjadi seminggu sekali. Pertunjukkan yang tadinya milik rakyat pun harus mencari donasi untuk bertahan hidup.

Pandangan terhadap kemerosotan ini membuat Khentus memutar otak untuk menyelamatkan seni kesayangannya itu. Evolusi budaya pun tak terelakkan. Khentus meminta izin kepada para senior untuk mengubah beberapa aspek pertunjukkan wayang orang. Waktu pertunjukkan yang panjang juga dibuat singkat untuk alasan kenyamanan penonton.

“Wayang orang itu aturan awalnya harus lima jam. Waktu segitu tidak bisa dipertahankan. Penonton mulai gelisah kalau terlalu lama. Jadi saya berusaha membuat konsep wayang orang satu setengah jam tanpa mengurangi cerita dan inti dari wayang orang,” kata Khentus.

Selain waktu, beberapa aspek lain tak terhindar pula dari perubahan. Dengan restu dari para senior untuk membuat pembaruan dalam pertunjukkan, Khentus memutuskan untuk mengubah gerakan tari. Tidak hanya itu, Khentus turut mengubah konsep dan mencampurkan seni lain ke dalam pertunjukkan.

“Akhirnya sampai 2010 saya membuat wayang orang itu dengan paduan suara lagu Jawa. Gerakan tarinya pun saya ubah tanpa mengurangi estetika wayang orang itu sendiri,” ungkap Khentus.

Khentus merasa bahwa kesenian wayang orang sangat berarti dalam hidupnya. Dia sangat menginginkan seni budaya kecintaannya itu bisa terus berkumandang dan tidak tergerus zaman. Kepedulian ini timbul bukan karena alasan pekerjaan semata. Namun, Khentus mengatakan wayang orang lebih besar dari sekedar pertunjukkan.

“Saya bisa sekolah karena orang tua saya pemain wayang orang. Saya ingin wayang orang langgeng sampai akhir zaman. Jadi saya buatlah garapan itu tanpa menghilangkan kesakralannya karena wayang orang bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan,” pungkas Khentus.

Jurnalis Senior sekaligus Pengamat Seni Wayang Orang Ninok Leksono juga ikut menegaskan pentingnya seni budaya ini. Menurut Ninok, nilai-nilai yang diajarkan dalam pertunjukkan wayang orang adalah nilai-nilai lestari. Rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini menambahkan, meski sudah menari di Nusantara dalam jangka waktu yang panjang, pelajaran yang terdapat dalam pertunjukkan wayang orang tidak termakan oleh zaman.

“Walaupun sering direlatifkan makna baik dan buruk. Akan tetapi integritas, kejujuran, itu nilai yang lestari. Nah ada juga lakon-lakon dan nilai-nilai kepemimpinan, itu mungkin para politisi yang harus banyak belajar. Jadi ada nilai-nilai tetap yang diajarkan oleh wayang,” tutur Ninok.

 

Penulis: Andrei Wilmar 

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Foto: nationalgeographic.grid.id