• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Thursday, March 19, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Iptek

Genderlect Theory: Memahami Pengaruh Gender Terhadap Komunikasi

Jemima Anasya Rachman by Jemima Anasya Rachman
March 19, 2026
in Iptek, Otak, Pikiran
Reading Time: 8 mins read
Ilustrasi perbedaan gaya komunikasi antara laki-laki dan perempuan. (ULTIMAGZ/Gabri Perboire)

Ilustrasi perbedaan gaya komunikasi antara laki-laki dan perempuan. (ULTIMAGZ/Gabri Perboire)

0
SHARES
17
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – 

“Aku cuma cerita tentang hari yang melelahkan,” kata seorang perempuan.

“Makanya tadi sudah aku kasih solusi,” jawab teman laki-lakinya.

Dalam hitungan detik, percakapan berubah menjadi debat kecil. Padahal, niat awalnya sederhana. Satu ingin didengar, satu ingin membantu. Apakah Ultimates pernah mengalami hal tersebut? Salah paham ketika berbincang dengan seorang lawan jenis? Baik itu dengan teman maupun pasangan, miskomunikasi antar gender dapat terjadi kapan saja. Namun, tahukah Ultimates bahwa perbedaan gender mempunyai pengaruh yang lebih besar dari yang dikira?

Dalam buku You Just Don’t Understand (1990), Deborah Tannen mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan seringkali memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Ia memperkenalkan konsep genderlect, yaitu gagasan bahwa laki-laki dan perempuan seolah berbicara menggunakan “dialek” komunikasi yang berbeda.

Baca juga: Manifesto 13 Inci: Bagaimana Pesan dan Kepribadian Tersampaikan Melalui Stiker

Menurut Tannen, perbedaan ini bukan berarti salah satu cara berkomunikasi lebih baik dari yang lain. Sebaliknya, keduanya berkembang dari pengalaman sosial yang berbeda sejak kecil. Akibatnya, tujuan dalam berkomunikasi pun sering kali tidak sama.

Perempuan cenderung menggunakan komunikasi untuk membangun kedekatan emosional dan hubungan dengan orang lain. Berdasarkan buku Gender and Discourse (1994) milik Tannen, cara ini sering disebut sebagai rapport talk, yaitu percakapan yang berfokus pada empati, berbagi pengalaman, dan saling memahami perasaan. Hal ini bisa terlihat dari perempuan yang sering kali lebih mencoba untuk menghindari konflik.

Sebaliknya, laki-laki lebih sering menggunakan komunikasi sebagai cara untuk menyampaikan informasi atau mencari solusi. Gaya ini dikenal sebagai report talk, yang menekankan penyampaian fakta, penyelesaian masalah, atau menunjukkan pengetahuan. Laki-laki lebih jarang untuk bertanya atau menunjukkan ketidaktahuan dan lebih memilih untuk menonjolkan kemampuan mereka. 

Seberapa Besar Gender Memengaruhi Gaya Komunikasi

Untuk mendalami hal ini, ULTIMAGZ melakukan wawancara pada Selasa (10/03/2026) hingga Jumat (13/03/2026) kepada beberapa narasumber mengenai genderlect. Pertanyaan yang diberikan dirancang untuk melihat apakah pola komunikasi yang dijelaskan dalam teori genderlect juga dapat ditemukan dalam pengalaman para responden.

Berikut beberapa pertanyaan yang diajukan:

Saat sedang berkumpul dengan teman-teman, cerita seperti apa yang paling sering Anda bagikan?

Pertanyaan ini diajukan untuk melihat apakah laki-laki lebih sering menceritakan pengalaman yang menonjolkan pencapaian mereka, sementara perempuan cenderung berbagi cerita untuk membangun kedekatan emosional.

Berdasarkan jawaban, Athalla (Laki-laki, 19) mengatakan bahwa ia sering berbincang mengenai pengalaman maupun pencapaiannya ketika sedang berkumpul dengan teman-teman. Narasumber laki-laki lainnya juga memberikan jawaban serupa, yaitu lebih sering membagikan cerita mengenai pengalaman pribadi yang dianggap menarik atau membanggakan.

Sementara itu, responden perempuan, Novita (27), Aleka (23), dan Laetitia (18), cenderung membagikan cerita yang berkaitan dengan pengalaman pribadi dan perasaan mereka dalam suatu situasi.

Jika Anda kesulitan, apakah Anda akan langsung bertanya kepada orang lain, atau mencoba mencari tahu sendiri terlebih dahulu?

Pertanyaan ini diajukan untuk melihat apakah terdapat perbedaan sikap terhadap pemecahan masalah dalam situasi sehari-hari.

Ketiga narasumber laki-laki menyatakan bahwa mereka akan mencoba mencari tahu sendiri terlebih dahulu ketika kebingungan. Sebaliknya, dua dari tiga responden perempuan mengatakan bahwa mereka cenderung langsung bertanya kepada orang lain untuk mendapatkan bantuan. 

Pola ini sejalan dengan gagasan dalam genderlect theory yang menyebutkan bahwa sebagian laki-laki cenderung menghindari bertanya karena dapat dianggap sebagai tanda ketidaktahuan.

Saat teman Anda sedang bercerita, apakah Anda cenderung langsung memberikan saran atau lebih memilih mendengarkan sampai mereka selesai berbicara?

Pertanyaan ini diajukan untuk melihat perbedaan antara komunikasi yang berfokus pada solusi (report talk) dan komunikasi yang berfokus pada empati (rapport talk).

Menariknya, jawaban dari para narasumber cukup seragam. Baik responden laki-laki maupun perempuan menyatakan bahwa mereka cenderung memilih mendengarkan terlebih dahulu ketika teman mereka sedang bercerita sebelum memberikan tanggapan atau saran.

“Sebenarnya, kita harus tahu kapan harus merespons dan kapan memberi saran karena mendengarkan itu lebih efektif jika saat dia bercerita kita diam.” ujar Nico kepada ULTIMAGZ pada Kamis (12/04/26).

Jika Anda tidak setuju dengan pendapat teman dalam sebuah diskusi, apakah Anda akan langsung menyampaikan bantahan atau memilih untuk diam?

Pertanyaan ini diajukan untuk melihat bagaimana responden menyampaikan ketidaksetujuan dalam percakapan.

Jawaban para narasumber untuk pertanyaan ini cukup beragam. Pada responden laki-laki seperti Matthew (20) dan Nico (19), mereka lebih memilih untuk menghindari konflik dengan tidak menanggapi secara langsung. Sementara itu, Athalla (19) menyatakan bahwa ia akan menyampaikan bantahannya apabila situasi percakapan memungkinkan.

Di sisi lain, para responden perempuan menunjukkan kecenderungan yang serupa. Mereka menyatakan bahwa ketika terjadi perbedaan pendapat, mereka lebih memilih untuk menahan diri dan menghindari konflik secara langsung.

Ilustrasi interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam proses komunikasi. (ULTIMAGZ/Gabri Perboire)
Ilustrasi interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam proses komunikasi. (ULTIMAGZ/Gabri Perboire)

Dari hasil wawancara ini, beberapa jawaban memang menunjukkan pola yang sejalan dengan genderlect theory. Namun, tidak semua responden sepenuhnya mencerminkan perbedaan komunikasi yang digambarkan dalam teori tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa cara seseorang berkomunikasi tidak hanya dipengaruhi oleh gender, tetapi juga oleh berbagai faktor lain seperti pengalaman hidup, lingkungan sosial, serta pola asuh sejak kecil. Pada akhirnya, setiap individu membawa gaya komunikasinya masing-masing ke dalam percakapan sehari-hari.

Lantas, apa sebenarnya faktor pembentuk gaya komunikasi ini?

Faktor yang Membentuk Perbedaan Gaya Bicara

Gaya komunikasi genderlect terbentuk melalui hasil dari latar belakang budaya dan pendidikan yang berbeda. Terdapat perbedaan dalam self-efficacy di antara kedua gender. Laki-laki cenderung memiliki kepercayaan diri lebih tinggi dalam menyampaikan argumen secara langsung,ementara perempuan acap kali lebih berhati-hati untuk memastikan pesan mereka tidak memicu konflik.

Melansir online.utpb.edu, selain tujuan sosio-psikologis antara gender, faktor pendukung perbedaan gaya bicara adalah lingkungan yang membesarkan keduanya. Dengan mengetahui budaya yang dibesarkan, gaya verbal dan non-verbal kedua gender menjadi perbedaan pola komunikasi. Secara tradisional, sifat yang ditanamkan kepada kedua gender mempunyai hasil yang berbeda, contohnya seorang perempuan terdidik untuk menjadi feminin dan sebaliknya.

Hal tersebut dijelaskan melalui perspektif behaviorism yang percaya bahwa segala aksi dan gaya komunikasi seseorang diadopsi dari lingkungan turun temurun antar generasi. Dari peniruan gaya komunikasi orang tua, seorang anak akan memperoleh ajaran cara berkomunikasi yang “sesuai” bagi gendernya (Nurhidayah & Nurhayati, 2018, 177).

Berdasarkan salah satu tokoh Neo-analisis, Karen Horney, percaya bahwa perempuan menjadi inferior karena konstruksi dan pengendalian masyarakat. Dari perspektif Horney, gaya komunikasi perempuan dan laki-laki dibedakan karena adanya batasan dari konstruksi sosial (Nurhidayah & Nurhayati, 2018, 173).

Karena faktor-faktor penyebab perbedaan gaya komunikasi tersebut, timbul dampak-dampak yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

Partisipasi di Lingkungan Profesional

Dalam lingkungan akademik, mahasiswa laki-laki cenderung unggul dan nyaman dalam lingkungan kompetitif, sementara perempuan lebih berkembang dalam lingkungan kolaboratif. Mahasiswi menggunakan lebih banyak ekspresi persetujuan dan bahasa pendukung, sementara mahasiswa laki-laki menggunakan strategi pernyataan secara langsung. 

Karena memperoleh kepercayaan diri yang lebih tinggi untuk berbicara di depan umum, laki-laki cenderung lebih berani meskipun akurasi bahasanya lebih rendah. Perempuan cenderung lebih ragu karena persepsi diri terhadap keterbatasan mereka, meskipun memiliki kompetensi linguistik yang setara (Peni, 2025, 895).

Melansir forbes.com, dalam konteks lingkungan kerja perempuan dinilai mempunyai gaya komunikasi mencakup empati, keramahan, dan kepedulian, sementara laki-laki lebih menonjolkan kekuatan, kredibilitas, dan status. 

Dari karakteristik tersebut, setiap gender mempunyai kekuatan dan kelemahan yang berbeda. Perempuan lebih berempati sehingga dianggap terlalu emosional dan kurang otoriter. Demikian, laki-laki mempunyai kehadiran kuasa fisik dan tampilan kekuatan sehingga terkesan tidak peka terhadap reaksi audiens dan terlalu arogan.

Tidak ada yang lebih baik dari satu dengan yang lain, karena keduanya dibutuhkan untuk konteks yang sesuai. Gaya laki-laki dianggap lebih efektif dalam situasi pengambilan keputusan cepat dan desisif. Gaya perempuan lebih unggul dalam lingkungan kolaboratif yang mengutamakan keterlibatan anggota lain.

Representasi dan Visibilitas

Melansir gsdrc.org, saluran utama komunikasi gender di ruang publik adalah media sehingga gaya komunikasi gender akan mempengaruhi kesenjangan visibilitas. Secara global, sekitar 24% dari orang-orang yang didengar, dibaca, atau dilihat dalam berita adalah suara perempuan. Dalam komunikasi berita, laki-laki lebih sering ditampilkan sebagai sosok ahli, sementara perempuan hanya diperlihatkan sebagai saksi mata. 

Kurangnya representasi perempuan dalam media menghambat kemampuan mereka untuk memengaruhi opini publik. Hal tersebut menyebabkan ketidaksetaraan dalam proses pengambilan keputusan politik. 

Komunikasi gender dalam media juga cenderung menciptakan stereotip tradisional yang membatasi peran individu. Perempuan dikomunikasikan melalui pandangan kecantikan fisik atau peran domestik sehingga terjadi sebuah objektifikasi. Sebaliknya, komunikasi mengenai laki-laki, menekankan sifat dominan dan agresif sehingga tercipta stereotip hiper-maskulinitas, dilansir dari gsdrc.org.

Komunikasi gender melalui media menjadi kontribusi pembentukan norma sosial tentang apa yang dianggap pantas untuk kedua gender. Oleh karena itu, masyarakat kerap menormalisasikan ketimpangan kekuasaan di dunia nyata karena pengaruh dari media.

Apa yang Dapat Dilakukan?

Pada akhirnya, yang dapat dilakukan adalah memahami perbedaan dialek antara laki-laki dan perempuan yaitu genderlect. Ultimates perlu menyadari bahwa penggunaan dialek yang berbeda, bukan berarti salah satu lebih baik dari yang lain.

Selanjutnya,  mengoptimalkan komunikasi di lingkungan akademik dan kerja. Instansi pendidikan harus menciptakan lingkungan yang inklusif dengan menyeimbangkan kedua pendekatan gender agar keduanya dapat berpartisipasi. Pemimpin dalam lingkungan kerja, sebaiknya menggunakan kedua gaya komunikasi untuk menyesuaikan dengan keadaan yang dibutuhkan. 

Baca juga: Batas Usia Media Sosial bagi Anak: Upaya Melindungi atau Mengekang?

Tidak kalah penting,  ada reformasi representasi yang perlu dilakukan pada media dengan mendekonstruksi stereotip dan meningkatkan visibilitas perempuan. Terakhir, mengedukasi berbasis kesetaraan, mengingat gaya komunikasi banyak diadopsi dari lingkungan sejak dini. Orang tua dan pendidik perlu mengajarkan cara berkomunikasi yang setara dan mengurangi batasan konstruksi sosial yang inferior.

Kunci utama untuk meminimalisasi ketimpangan dan miskomunikasi adalah dengan mengembangkan kesadaran kritis terhadap gaya komunikasi genderlect. Dengan menghargai kelebihan unik dari setiap gaya, Ultimates dapat membangun relasi yang lebih harmonis.

 

Penulis: Belva Putri (Jurnalistik, 2024) & Jemima Anasya (Jurnalistik,2024)

Editor: Kezia Laurencia

Foto: Gabri Perboire

Sumber: forbes.com, gsdrc.org, online.utbp.edu, 

Nurhidayah, Y., & Nurhayati, E. (2018, September 1). Psikologi Komunikasi Antar Gender. Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI). file:///C:/Users/User/Downloads/5.%20Psikologi%20Komunikasi%20Antar%20Gender.pdf

Peni, D. S. (2025, April 20). Communication Patterns in English Among Male and Female Students. In Jurnal Penelitian Ilmiah Multidispliner (Vol. 01) [PDF/web]. Universitas Muhammadiyah Surakarta. file:///C:/Users/User/Downloads/JPIM+Peni.pdf

 

Tags: batasan genderdiskriminasi genderetika komunikasigender equalitygenderlectIlmu Komunikasiisu genderketidaksetaraan genderkomunikasiperkembangan komunikasisalah komunikasistandar ganda berbasis genderstandar ganda genderteori
Jemima Anasya Rachman

Jemima Anasya Rachman

Related Posts

Ilustrasi lautan dengan ombak yang bergejolak. (Unsplash/@Adriel Prastyanto)
Iptek

Jika Selat Hormuz Lumpuh, Berapa Lama Dunia Bertahan?

March 19, 2026
Foto seorang pemuda sedang meratap di depan pagar kediaman Jokowi (katadata.co.id)
Iptek

Tembok Ratapan Solo: Lelucon Belaka atau Sindiran Politik?

March 18, 2026
Ilustrasi seorang anak bermain Roblox di gawainya. (ULTIMAGZ/Tiffany Michiko P.)
Iptek

Batas Usia Media Sosial bagi Anak: Upaya Melindungi atau Mengekang?

March 18, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 5 =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021