Stres Saat Pandemi, Siklus Menstruasi Dapat Terganggu

Ilustrasi seseorang sedang stres. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi seseorang sedang stres. (Foto: pexels.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sudah hampir tiga bulan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo meminta warga untuk tinggal di rumah (stay at home) dan melakukan pembatasan fisik. Hal ini baik disadari maupun tidak disadari bisa membuat Ultimates stres karena harus mengalami perubahan kebiasaan dalam hidup. Masalahnya, stres dapat mengganggu siklus menstruasi yang dialami oleh perempuan setiap bulannya. 

Stres bisa membuat tubuh secara fisik maupun mental tidak sehat. Hal ini dikarenakan ada rasa khawatir dan jenuh saat tidak dapat keluar rumah. Oleh karena itu, tubuh pun mengeluarkan hormon stres secara berlebihan yang bernama kortisol dan kortikotropin (CRH).  

Jika hormon stres dilepas berlebih oleh tubuh, ovulasi pun ikut terganggu. Ovulasi merupakan proses ketika sel telur yang sudah matang dikeluarkan dari ovarium ke tuba falopi untuk dibuahi. Pasalnya, otak dan tubuh bekerja sama dalam mengendalikan ovulasi. 

“Berdasarkan dari tingkat stres kita dan sinyal dari otak, tubuh kita akan menentukan apakah sekarang waktu yang tepat atau tidak untuk berovulasi,” kata Beth Donaldson kepada wartawan huffpost.com.

Dikutip dari tempo.co, cara bekerja siklus menstruasi adalah biasanya kelenjar pituitari mengontrol untuk melepaskan estrogen dan progesteron secara teratur. Namun karena stres, kinerja kelenjar ini terhambat sehingga ovulasi pun ikut terusik. Apabila ovulasi terganggu, jadwal datang bulan seorang perempuan bisa telat, lebih awal, atau tidak sama sekali mengalami menstruasi dalam sebulan. 

Bagi Ultimates yang stres karena pembatasan fisik, jangan heran bila periode menstruasi menjadi terganggu. Stres lah yang menjadi penyebabnya, bukan virus korona. Untuk meminimalisir stres ini, Ultimates dapat melakukan hobi yang disenangi atau meditasi. Selain itu, olahraga yang teratur juga dapat menurunkan tingkat stres karena tubuh menghasilkan hormon norepineprin sebagai antidepresan. 

 

Penulis: Maytiska Omar

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Foto: pexels.com

Sumber: tempo.co, huffpost.com, helloclue.com, kompas.com