Mencari Bacaan Alternatif di Tiga Toko Buku Independen Jakarta

Ilustrasi: Buttercrumble.com
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Bosan dengan pilihan buku di toko buku arus utama yang itu-itu saja? Mungkin sudah saatnya menengok toko buku independen yang menyajikan lebih banyak pilihan topik bacaan dan juga buku-buku bagus yang seringkali tak sampai di meja penerbit besar.

Bagi kalian yang sedang mencari buku dengan topik berbeda dari yang tersedia di toko-toko buku arus utama, Ultimagz telah menyediakan beberapa pilihan toko yang dapat dikunjungi. Berikut daftar toko buku independen yang bisa kamu coba kunjungi di waktu luang tersebut:

Aksara

Foto: Instagram (@aksarakemang)

Nama Aksara mungkin tak asing di telinga para pencinta buku. Ya, toko buku independen yang berdiri sejak 2001 ini dahulu mempunyai gerai di beberapa pusat perbelanjaan ternama Jakarta. Namun, awal tahun lalu, Aksara undur diri dari industri ritel dengan menutup semua gerainya dan memilih untuk fokus di Kemang, Jakarta Selatan, tempat toko buku ini pertama dimulai.

Setelah melewati tahap renovasi, Aksara Kemang kembali membuka pintunya pada Juli 2018 lalu. Aksara yang baru tak lagi sekadar toko buku, melainkan juga sebuah ruang kultural di mana masyarakat bisa lama-lama menghabiskan waktu mereka. Kini, Aksara terasa lengkap dengan kehadiran kedai kopi Ruang Seduh, mini teater Kinosaurus, Ganara Art Space, Lala Records, dan lab(Rana) di gedungnya. Tak ada lagi wajah toko buku yang suram dan membosankan, karena Aksara menyediakan banyak sekali kegiatan yang bisa pengunjung lakukan.

POST Bookshop

Foto: Instagram (@post_santa)

Berlokasi di lantai atas Pasar Santa, Jakarta Selatan, POST Bookshop menyediakan berbagai pilihan buku dari penerbit-penerbit independen. Kedua pemiliknya, Maesy Angelina dan Teddy W. Kusuma, membuka POST pada tahun 2014 dengan tujuan memperkenalkan karya-karya penulis yang jarang ditemukan di toko buku besar.

Kebanyakan buku yang ada di POST berasal dari penerbit-penerbit independen Indonesia seperti Banana, MOJOK, Pindai, dan Marjin Kiri. Namun, di antaranya terselip beberapa buku berbahasa Inggris hasil buruan Teddy dan Maesy saat jalan-jalan ke luar negeri. Begitu pula dengan troli berisi buku bekas di depan toko, yang isinya dijual dengan harga kurang dari Rp50.000. Semua buku-buku tersebut harus melewati proses kurasi terlebih dahulu sebelum bertengger di POST.

Oh ya, toko fisik POST Bookshop hanya buka pada akhir pekan, mulai pukul 3 sore hingga 8 malam. Jadi, pastikan kamu datang di waktu yang tepat, ya!

Transit Bookstore

Foto: Instagram (@transitsanta)

Masih di Pasar Santa, Transit Bookstore merupakan pendatang baru di kancah pertokobukuan Indonesia. Toko buku super mungil ini baru saja melakukan soft opening pada bulan Desember 2018 lalu dan akan buka rutin setiap hari Sabtu dan Minggu mulai pertengahan Januari ini.

Berbeda dengan tetangganya, POST Bookshop, Transit berfokus pada karya literatur asing. Di sisi kiri toko, terdapat peta dunia bertempelkan kertas dengan berbagai judul buku yang ada di rak hari itu, menandakan negara asal atau latar tempat buku tersebut. Transit hanya menyediakan satu eksemplar buku untuk setiap judul yang mereka kurasi, maka dari itu, perlu usaha ekstra untuk mendapatkannya.

Tak hanya itu, Transit juga mempunyai tema kurasi yang diperbaharui setiap tiga bulan. Tema baru mereka yang bertajuk ‘Displacement’, mengeksplor kisah para imigran, diaspora, dan pencari suaka.

Itu dia tiga toko buku independen yang bisa membantumu menemukan alternatif bacaan baru. Mulai dari topik-topik yang jarang kamu temui, hingga penulis yang belum pernah kamu dengar namanya. Selamat berburu buku!

 

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie

Editor: Gilang Fajar Septian

Ilustrasi: Buttercrumble.com

Foto: Instagram (@aksarakemang, @post_santa, @transitsanta)