Menelusuri Jalan Penuh Nostalgia di Braga Street

Suasana di Jalan Braga, salah satu wisata populer di Bandung. Dengan gaya Eropa pada bangunan-bangunannya, para pengunjung dapat merasakan suasana kota ini pada masa lalu, tepatnya pada masa kolonial Belanda (Foto: Perry Tak)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com—Bandung kerap dikenal sebagai kota dengan tempat wisatanya yang beragam. Dengan memadukan area urban dan pemandangan alamnya yang asri, kota yang dijuluki Paris van Java (The Paris of Java) ini sukses memikat para pengunjung baik dari dalam maupun luar negeri. Tak lepas dari sisi tradisionalnya, Bandung juga mempunyai tempat wisata berupa warisan sejarah yang masih dijaga hingga saat ini, salah satunya adalah Braga Street.

Diambil dari Bahasa Sunda “Ngabaraga” yang mempunyai arti “bergaya”, Braga Street atau Jalan Braga adalah salah satu pusat perbelanjaan paling bergengsi sekaligus konservasi budaya dari era kolonial Belanda. Berbagai macam bangunan bernuansa Eropa menghiasi sepanjang jalan tersebut, seperti pusat perbelanjaan, toko barang antik, bank, restoran, kafe, dan sebagainya. Pasalnya, aspek seni dan budaya serta suasana alam yang dimiliki oleh Bandung menjadi inspirasi bagi penjajah Belanda untuk membangun perkotaan kecil ini.

Secara singkat, jalanan yang sebelumnya dinamakan Pedatiweg ini merupakan jalan penghubung bagi Groote Postweg atau Jalan Raya Pos yang sekarang dikenal sebagai Jalan Asia-Afrika dengan Koffie Pakhuis yang sekarang merupakan Balai Kota Bandung.

Jalanan ini pun mulai berkembang secara pesat sebagai  pusat pertokoan eksklusif dengan berdirinya toko kelontong De Vries, sebuah toko yang menjual kebutuhan sehari-hari. Meski sempat mengalami penurunan pengunjung sejak Perang Dunia II, Jalan Braga berhasil dibangun dan diramaikan kembali menjelang Konferensi Asia-Afrika pada 1955 silam.

Kini, Jalan Braga telah mendapat sentuhan modern dengan hadirnya mall bernama Braga Citywalk dan restoran serta kafe ternama lainnya. Meski demikian, pengunjung masih dapat merasakan atmosfer masa lalu, terutama dengan adanya gedung-gedung bergaya Eropa yang tidak diubah serta toko lukisan dan juga barang antik yang masih beroperasi hingga saat ini.

Jadi, apakah Ultimates tertarik untuk menelusuri kenangan Indonesia di zaman dahulu?

 

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: flickr.com (Perry Tak)

Sumber: theculturetrip.com, ulinulin.com